MA Darus Salam – 16 April 2026 | Bank Indonesia melaporkan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 437,9 miliar atau setara Rp 7,505,6 triliun, menandakan kenaikan tahunan sebesar 2,5 %. Angka ini melampaui pencapaian Januari 2026 yang hanya tumbuh 1,7 % yoy. Kenaikan utama berasal dari ULN sektor publik, khususnya Bank Sentral, yang memperoleh aliran modal asing lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
ULN pemerintah tercatat US$ 215,9 miliar, meningkat 5,5 % yoy, dengan mayoritas (99,98 %) berupa utang jangka panjang. Dana tersebut dialokasikan untuk sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22 %), Administrasi Pemerintah (20,3 %), serta Jasa Pendidikan (16,2 %). Sementara itu, ULN swasta menurun menjadi US$ 193,7 miliar, turun 0,7 % yoy, dipengaruhi oleh penurunan peminjaman oleh lembaga keuangan dan perusahaan non‑keuangan.
Struktur ULN Indonesia tetap terbilang sehat, dengan rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada 29,8 % dan dominasi utang jangka panjang mencapai 84,9 %. Pemerintah dan Bank Indonesia berkomitmen terus memantau dan mengoptimalkan penggunaan ULN untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) pada laporan World Economic Outlook (WEO) April 2026 menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 % untuk tahun 2026, sedikit di bawah estimasi sebelumnya sebesar 5,1 %. Penurunan ini dipicu oleh ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah, serta lonjakan harga energi yang diperkirakan naik hingga 19 % dengan minyak mentah mencapai rata‑rata US$ 82 per barel.
Kenaikan harga energi diprediksi akan menambah tekanan inflasi pangan serta mengganggu rantai logistik internasional. IMF menekankan bahwa meskipun proyeksi pertumbuhan sedikit turun, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat berkat pasar domestik yang luas, kebijakan fiskal yang prudent, serta cadangan devisa yang memadai.
Berikut rangkuman data kunci yang dirilis oleh Bank Indonesia dan IMF:
| Indikator | Februari 2026 | Perubahan YoY |
|---|---|---|
| ULN Total (US$) | 437,9 miliar | +2,5 % |
| ULN Pemerintah (US$) | 215,9 miliar | +5,5 % |
| ULN Swasta (US$) | 193,7 miliar | -0,7 % |
| Rasio ULN/PDB | 29,8 % | – |
| Proyeksi Pertumbuhan IMF 2026 | 5,0 % | -0,1 ppt |
Para analis menilai bahwa peningkatan ULN publik, terutama melalui instrumen moneter SRBI, mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap kebijakan moneter Indonesia yang tetap pro‑market. Sementara penurunan ULN swasta menunjukkan restrukturisasi portofolio perusahaan di tengah tekanan biaya energi.
IMF juga menyoroti perbedaan dampak harga energi antara negara pengimpor dan pengekspor. Negara berpendapatan rendah yang bergantung pada impor energi diprediksi akan menghadapi beban fiskal lebih berat, sementara negara pengekspor energi dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas.
Meski ada tantangan, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan fiskal tetap berfokus pada penguatan infrastruktur, layanan kesehatan, dan pendidikan, yang menjadi prioritas alokasi ULN. Koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan lembaga terkait diperkirakan akan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan menahan volatilitas pasar eksternal.
Secara keseluruhan, situasi ULN Indonesia menunjukkan peningkatan yang terkontrol dan struktur yang sehat, sementara penurunan proyeksi pertumbuhan IMF menggambarkan kondisi global yang masih penuh risiko. Kedua faktor ini menuntut kebijakan yang hati‑hati namun tetap pro‑pertumbuhan untuk memastikan Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi jangka menengah tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi.




