089680800800

[email protected]

Today :

Biografi Mbah Sambu Lasem, Silsilah Keturunan dan Sejarah Dakwahnya

biografi Mbah Sambu Lasem, silsilah keturunan

TIM MADS

Agu. 14, 2026

MA Darus Salam – Membahas biografi Mbah Sambu Lasem, silsilah keturunan berarti membicarakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Nama Mbah Sambu sampai sekarang masih sangat dikenal masyarakat, terutama karena makamnya berada di kompleks Masjid Jami Lasem dan menjadi salah satu tujuan ziarah.

Mbah Sambu dikenal sebagai ulama yang mempunyai peran besar dalam perkembangan dakwah Islam di Lasem. Selain dikenal sebagai tokoh agama, beliau juga disebut memiliki hubungan dengan lingkungan bangsawan Jawa pada masa Pajang. Karena itu, kisah mengenai asal-usul dan silsilah Mbah Sambu memiliki beberapa versi yang berkembang dalam tradisi keluarga, masyarakat, manuskrip, serta penelitian sejarah.

Dalam sejumlah sumber, Mbah Sambu disebut dengan nama Sayyid Abdurrahman Basyaiban. Ada pula riwayat yang menyebut nama Pangeran Sambu, Pangeran Syihabuddin Sambu Digdadiningrat, hingga nama lain yang berkembang dalam tradisi masyarakat Lasem.

Artikel ini membahas perjalanan hidup, perjuangan dakwah, silsilah keturunan, keluarga, hingga warisan Mbah Sambu yang masih dapat ditemukan sampai sekarang.

Siapa Mbah Sambu Lasem?

Mbah Sambu merupakan ulama yang hidup sekitar abad ke-17 dan dikenal memiliki hubungan erat dengan sejarah Islam di Lasem.

Salah satu sumber akademik dari UIN Walisongo yang membahas sejarah dakwah multikultural di Lasem mencatat bahwa Mbah Sambu dikenal dengan nama Syekh Maulana Sam Bwa Smarakandhi atau Sayyid Abdurrahman. Dalam sumber tersebut juga disebutkan adanya riwayat yang menghubungkan Mbah Sambu dengan keturunan Pangeran Benawa dan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

Namun, penting dipahami bahwa sejarah Mbah Sambu memiliki beberapa versi. Tidak semua sumber menyebut nama, nasab, dan perjalanan hidup beliau dengan susunan yang sama.

Karena itu, pembahasan mengenai silsilah keturunan Mbah Sambu Lasem sebaiknya disampaikan secara hati-hati dengan membedakan antara riwayat keluarga, tradisi masyarakat, dan data yang ditemukan dalam penelitian.

Nama Asli Mbah Sambu

Nama yang paling banyak digunakan dalam sejumlah sumber untuk menyebut Mbah Sambu adalah Sayyid Abdurrahman Basyaiban.

Duta Islam juga mencatat adanya beberapa versi mengenai nama Mbah Sambu. Selain Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Abdurrahman Basyaiban, terdapat riwayat yang menyebut nama Sayyid Ibrahim, Maulana Sham Bwa Smarakandhi, serta Pangeran Syihabuddin Samboe Digda Diningrat.

Perbedaan nama tersebut tidak selalu berarti menunjuk kepada tokoh yang berbeda. Dalam tradisi tokoh-tokoh Jawa masa lalu, seorang ulama atau bangsawan dapat memiliki nama lahir, nama gelar, nama panggilan, dan nama yang digunakan dalam lingkungan keagamaan.

Karena itulah, masyarakat Lasem lebih familiar dengan sebutan Mbah Sambu.

Mbah Sambu dan Lasem

Hubungan Mbah Sambu dengan Lasem sangat erat. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pengembangan Islam di kawasan tersebut.

NU Online mencatat bahwa sekitar tahun 1625, Syekh Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu disebut datang ke Lasem atas undangan tokoh pemerintahan setempat. Beliau kemudian dipercaya sebagai guru agama sekaligus imam Masjid Lasem dan aktif dalam tradisi kepesantrenan.

Pada masa tersebut, Lasem merupakan kawasan penting di pesisir utara Jawa. Letaknya yang strategis menjadikan Lasem sebagai wilayah perdagangan dan pertemuan berbagai kelompok masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, peran tokoh agama sangat penting. Mbah Sambu tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga ikut membangun kehidupan masyarakat yang lebih tertib dan religius.

Perjuangan Dakwah Mbah Sambu

Mbah Sambu dikenal sebagai ulama yang aktif menyebarkan ajaran Islam di Lasem.

Dakwahnya dilakukan melalui pengajaran agama, masjid, dan tradisi pendidikan Islam. Keberadaan Masjid Jami Lasem kemudian menjadi salah satu bagian penting dari sejarah dakwah beliau.

Menurut penelitian mengenai objek wisata religi Makam Mbah Sambu, beliau diangkat sebagai walinegara Kadipaten Lasem oleh Mbah Srimpet atau Adipati Tejakusuma I. Beliau juga memperoleh tanah perdikan yang kawasan historisnya dikaitkan dengan Masjid Jami Lasem hingga ke arah selatan wilayah Pancur.

Dalam sejumlah riwayat, Mbah Sambu juga disebut berjasa dalam meredam gangguan keamanan dan aksi perompakan yang terjadi di wilayah Lasem.

Karena jasanya tersebut, nama Mbah Sambu kemudian semakin kuat dalam sejarah masyarakat Lasem.

Mbah Sambu dan Masjid Jami Lasem

Masjid Jami Lasem menjadi salah satu peninggalan penting yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di kota tersebut.

NU Online menyebut Masjid Jami Lasem telah berdiri sejak 1588 Masehi dan dibangun pada masa Adipati Tejakusuma I. Masjid tersebut kemudian menjadi pusat kegiatan keagamaan ketika Mbah Sambu hadir dan menjalankan perannya sebagai ulama serta imam.

Masjid ini juga memperlihatkan perpaduan unsur budaya Jawa dan Islam yang menjadi karakter Lasem.

Di kompleks masjid tersebut terdapat makam Mbah Sambu. Makam inilah yang hingga sekarang banyak dikunjungi masyarakat untuk berziarah.

Silsilah Keturunan Mbah Sambu Lasem

Pembahasan mengenai silsilah keturunan Mbah Sambu Lasem merupakan bagian yang paling banyak menarik perhatian.

Ada dua jalur riwayat besar yang sering muncul dalam berbagai sumber.

Pertama, terdapat riwayat yang menyebut Mbah Sambu sebagai bagian dari trah Basyaiban dan menyambungkan nasabnya kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayyid Muhammad Faqih Muqaddam.

Kedua, terdapat tradisi sejarah yang menghubungkan Mbah Sambu dengan Pangeran Benawa dan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, terutama dalam kaitannya dengan garis keluarga Pajang.

Sebuah tesis dari UIN Walisongo menampilkan silsilah yang menyebut Mbah Sambu sebagai putra Pangeran Benawa bin Hadiwijaya, dengan jalur ibu melalui Fatimah binti Sayyid Hasyim.

Sementara itu, sumber keluarga Basyaiban mencatat jalur nasab Mbah Sambu sebagai berikut:

Sayyid Abdurrahman al-Basyaiban (Mbah Sambu) bin Sayyid Muhammad Hasyim bin Sayyid Abdurrahman al-Basyaiban bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Umar bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Abubakar Basyaiban bin Sayyid Muhammad Asadillah bin Sayyid Hasan At-Turabi bin Sayyid Ali bin Sayyid Muhammad Faqih Muqaddam.

Jalur tersebut kemudian diteruskan melalui jaringan nasab keluarga Ba Alawi hingga kepada Rasulullah SAW.

Namun, karena terdapat perbedaan sumber dan versi silsilah, pembaca sebaiknya memahami susunan tersebut sebagai salah satu riwayat nasab yang digunakan dalam tradisi keluarga, bukan satu-satunya versi yang tidak memiliki perbedaan.

Mbah Sambu Keturunan Pangeran Benawa?

Pertanyaan mengenai apakah Mbah Sambu merupakan keturunan Pangeran Benawa cukup sering muncul.

Dalam sejumlah sumber sejarah lokal dan penelitian mengenai Lasem, Mbah Sambu disebut sebagai putra Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

NU Online juga menuliskan bahwa Mbah Sambu disebut sebagai putra Pangeran Benawa.

Namun, ada catatan penting mengenai persoalan tersebut. Alif.ID yang memuat tulisan pemerhati sejarah Lasem Abdullah Hamid menunjukkan adanya beberapa naskah dengan susunan silsilah yang berbeda. Naskah Selo Pelang dan Naskah Kajoran, misalnya, memiliki versi berbeda mengenai jalur Mbah Sambu dengan tokoh-tokoh Pajang.

Artinya, hubungan Mbah Sambu dengan keluarga Pajang merupakan bagian penting dari tradisi sejarah Lasem, tetapi detail susunan nasabnya masih memiliki variasi sumber.

Istri Mbah Sambu

Mbah Sambu juga dikenal memiliki hubungan keluarga dengan Adipati Tejakusuma I atau Mbah Srimpet.

Dalam penelitian UIN Walisongo, disebutkan bahwa Mbah Srimpet menikahkan putrinya yang dikenal dengan nama Nyai Ageng Rogo atau Rosowulan dengan Mbah Sambu. Pernikahan tersebut kemudian dikisahkan memiliki enam anak.

Enam nama yang disebut dalam sumber tersebut adalah:

  1. Raden Muhyidin
  2. Raden Abdul Azhim
  3. Raden Ahmad
  4. Raden Imam
  5. Raden Yusuf atau Pohlandak
  6. Raden Ayu Joyoniman

Daftar ini merupakan salah satu riwayat yang digunakan dalam penelitian sejarah lokal mengenai keturunan Mbah Sambu.

Keturunan Mbah Sambu

Keturunan Mbah Sambu kemudian berkembang di berbagai wilayah Jawa.

Salah satu sumber keluarga yang membahas trah Mbah Sambu menyebut beliau memiliki lima anak dalam susunan silsilah yang berbeda, antara lain Sayyid Abdul Adhim, Sayyid Imam, Sayyid Yusuf, Sayyid Muhyadin, dan Sayyid Ahmad Sam yang disebut tidak memiliki keturunan.

Perbedaan jumlah dan nama anak tersebut menunjukkan bahwa data silsilah Mbah Sambu memang memiliki beberapa versi.

Hal seperti ini sebenarnya cukup umum dalam penelusuran nasab tokoh Jawa yang hidup ratusan tahun lalu. Sumber dapat berasal dari manuskrip keluarga, catatan pesantren, tradisi lisan, maupun penelitian sejarah yang berbeda.

Karena itu, artikel mengenai silsilah sebaiknya tidak menyamakan semua versi sebagai satu data yang pasti.

Keturunan Mbah Sambu yang Menjadi Ulama

Salah satu alasan nama Mbah Sambu tetap terkenal hingga sekarang adalah karena banyak tokoh ulama Jawa yang dalam berbagai riwayat disebut mempunyai hubungan keturunan dengan beliau.

NU Online mencatat bahwa pemerhati sejarah Lasem Abdullah Hamid menyebut sejumlah tokoh besar yang dikaitkan dengan keturunan Mbah Sambu, antara lain KH Hasyim Asy’ari, KH Baidlowi Lasem, KH Ali Maksum, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Ahmad Shiddiq Jember, hingga Gus Baha.

Kajian lain juga menyebut hubungan nasab KH Hasyim Asy’ari dengan Mbah Sambu dalam rangkaian silsilah keluarga ulama Jawa.

Sementara itu, riwayat mengenai KH Muhammad Shiddiq Jember memberikan contoh yang lebih rinci. Dari jalur ayah, KH Muhammad Shiddiq disebut sebagai keturunan Mbah Sambu melalui beberapa generasi, sedangkan dari jalur ibu juga terdapat hubungan dengan Mbah Sambu.

Hal tersebut memperlihatkan luasnya jaringan keluarga ulama yang berkembang dari Lasem ke berbagai wilayah Jawa.

Hubungan Mbah Sambu dengan KH Muhammad Shiddiq Jember

KH Muhammad Shiddiq merupakan salah satu tokoh yang sering disebut ketika membahas keturunan Mbah Sambu.

Dalam catatan nasab yang dipublikasikan Pustaka Pejaten, garis ayah KH Muhammad Shiddiq disusun dari KH Abdullah, KH Sholeh, KH Asy’ari, KH Barda’i, KH Yusuf, kemudian Sayyid Abdurrahman al-Basyaiban atau Mbah Sambu.

Dengan demikian, dalam riwayat tersebut Mbah Sambu menjadi salah satu leluhur penting dalam jaringan keluarga ulama yang kemudian berkembang di Jember dan daerah lain.

Mbah Sambu dan KH Hasyim Asy’ari

Nama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, juga kerap dikaitkan dengan trah Mbah Sambu.

Sebuah kajian akademik menyebut bahwa jika ditelusuri melalui jalur tertentu, nasab KH Hasyim Asy’ari memiliki hubungan dengan Sunan Gunung Jati dan Jaka Tingkir melalui Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.

Namun, sebagaimana pembahasan nasab lainnya, jalur tersebut sebaiknya dipahami berdasarkan sumber yang digunakan karena terdapat berbagai versi mengenai silsilah keluarga ulama Jawa.

Perjuangan Mbah Sambu Melawan Gangguan Keamanan

Mbah Sambu tidak hanya dikenang sebagai tokoh agama.

Dalam sejarah lokal Lasem, beliau juga dikenal mempunyai peran dalam menjaga keamanan wilayah.

Lasem pada masa lalu merupakan wilayah perdagangan yang ramai. Kondisi tersebut juga membuat kawasan pesisir menghadapi berbagai persoalan keamanan.

Mbah Sambu disebut membantu meredam aksi perompak dan gangguan yang mengacaukan kehidupan masyarakat. Karena perannya tersebut, beliau mendapatkan penghargaan dari pemerintahan setempat berupa tanah perdikan.

Kisah ini memperlihatkan bahwa peran seorang ulama pada masa itu tidak terbatas pada pengajaran agama, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat.

Wafatnya Mbah Sambu

Mbah Sambu diperkirakan wafat pada 1671 Masehi.

Makam beliau berada di kompleks Masjid Jami Lasem, Kabupaten Rembang. Sampai sekarang, makam tersebut menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.

Sejumlah sumber juga mencatat bahwa haul Mbah Sambu dilaksanakan secara rutin. Penelitian mengenai wisata religi di Lasem menyebut haul Mbah Sambu dilaksanakan pada bulan Dzulhijah dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Haul Mbah Sambu Lasem

Haul Mbah Sambu menjadi tradisi yang telah berlangsung dalam waktu lama.

Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi acara untuk mengenang wafatnya seorang ulama, tetapi juga menjadi ruang berkumpul masyarakat, pembacaan Al-Qur’an, tahlil, pengajian, dan kegiatan sosial.

NU Online mencatat bahwa tradisi haul Mbah Sambu telah berlangsung selama ratusan tahun dan dihadiri jamaah dari berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tradisi haul tersebut sekaligus membantu menjaga ingatan sejarah masyarakat Lasem terhadap tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di daerah tersebut.

Warisan Mbah Sambu untuk Lasem

Warisan Mbah Sambu tidak hanya berupa makam.

Warisan terpenting beliau adalah tradisi keislaman dan keilmuan yang terus berkembang di Lasem.

Masjid, pesantren, makam ulama, tradisi haul, dan jaringan keturunan kiai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lasem sampai sekarang.

Lasem bahkan dikenal sebagai salah satu kawasan yang mempunyai sejarah panjang dalam perkembangan Islam dan pesantren di Jawa.

Perpaduan antara Islam, budaya Jawa, komunitas Tionghoa, perdagangan, dan sejarah kerajaan menjadikan Lasem mempunyai karakter yang sangat khas.

Mbah Sambu merupakan salah satu tokoh yang berada di tengah perjalanan panjang sejarah tersebut.

Mengapa Silsilah Mbah Sambu Banyak Dicari?

Pencarian mengenai biografi Mbah Sambu Lasem, silsilah keturunan terus menarik perhatian karena masyarakat ingin mengetahui hubungan tokoh tersebut dengan para ulama besar Jawa.

Selain itu, banyak keluarga pesantren yang melakukan penelusuran nasab untuk mengetahui hubungan leluhur mereka dengan tokoh-tokoh terdahulu.

Mbah Sambu menjadi salah satu nama penting karena berbagai sumber menghubungkannya dengan jaringan ulama, keluarga Pajang, keluarga Basyaiban, dan sejumlah pesantren besar di Jawa.

Namun, penelusuran silsilah tetap membutuhkan kehati-hatian. Perbedaan nama, gelar, ejaan, dan versi manuskrip dapat membuat satu tokoh memiliki beberapa nama atau susunan nasab.

Kesimpulan

Mbah Sambu Lasem atau yang dalam sejumlah sumber disebut Sayyid Abdurrahman Basyaiban merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Lasem, Rembang.

Beliau dikenal sebagai ulama yang aktif menyebarkan Islam, mengembangkan pendidikan keagamaan, menjadi imam Masjid Lasem, serta berperan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Mbah Sambu diperkirakan wafat pada tahun 1671 Masehi dan dimakamkan di kompleks Masjid Jami Lasem. Hingga kini, makam tersebut masih ramai dikunjungi peziarah.

Mengenai silsilah keturunan Mbah Sambu Lasem, terdapat beberapa versi yang berkembang. Salah satu tradisi nasab menghubungkannya dengan keluarga Basyaiban dan jalur keturunan Nabi Muhammad SAW. Sementara tradisi sejarah lainnya menyebut Mbah Sambu sebagai putra Pangeran Benawa dan keturunan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

Keturunan Mbah Sambu dalam berbagai riwayat kemudian berkembang menjadi jaringan keluarga ulama yang luas. Beberapa tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Muhammad Shiddiq Jember, KH Abdul Hamid Pasuruan, dan sejumlah ulama lainnya disebut memiliki hubungan dengan trah Mbah Sambu.

Pada akhirnya, kebesaran Mbah Sambu tidak hanya terletak pada silsilahnya. Yang jauh lebih penting adalah warisan dakwah, pendidikan, keteladanan, dan perjuangan membangun masyarakat Lasem. Warisan tersebut tetap hidup melalui masjid, pesantren, tradisi haul, serta generasi ulama yang terus meneruskan perjuangan keislaman di tanah Jawa.

Artikel Terkait