Alumni FK UNDIP, Dr. Samuel Dimara, Bawa Transformasi Layanan Kesehatan Mata ke Papua

Liana Ulrica

April 17, 2026

Alumni FK UNDIP, Dr. Samuel Dimara, Bawa Transformasi Layanan Kesehatan Mata ke Papua
Alumni FK UNDIP, Dr. Samuel Dimara, Bawa Transformasi Layanan Kesehatan Mata ke Papua

MA Darus Salam – 18 April 2026 | Semarang, NYALANUSANTARA – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) kembali menorehkan prestasi dengan melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu kedokteran tingkat tinggi, namun juga berkomitmen mengabdi pada daerah terpencil. Dr. Samuel Octovianus Dimara, Sp.M., alumnus Program Spesialis Mata FK UNDIP, kini menjadi figur sentral dalam peningkatan layanan kesehatan mata di wilayah Papua, yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga medis spesialis.

Selama menempuh pendidikan spesialis di FK UNDIP, Dr. Samuel menegaskan bahwa kurikulum yang menggabungkan teori kedokteran mutakhir, praktik intensif, serta penanaman nilai‑nilai karakter menjadi fondasi utama kariernya. “Pendidikan di FK UNDIP membentuk saya menjadi pribadi yang adaptif dan berintegritas. Dukungan dosen yang sangat kompeten serta kurikulum yang selalu relevan dengan perkembangan ilmu kedokteran memberikan rasa percaya diri bagi saya untuk mengabdi di wilayah mana pun, termasuk di daerah Papua yang memiliki tantangan fasilitas,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Keberhasilan Dr. Samuel tidak lepas dari pendekatan holistik yang diterapkan di fakultasnya. Selain mengasah keterampilan bedah mata yang presisi, mahasiswa spesialis juga diajarkan pentingnya empati, komunikasi, dan etika profesional. “Di ruang operasi, presisi adalah mutlak. Namun di luar itu, tanggung jawab moral dan empati kepada pasien adalah landasan utama yang selalu ditekankan selama saya menimba ilmu di FK UNDIP. Nilai‑nilai profesionalisme inilah yang saya bawa dalam setiap pelayanan kepada masyarakat Papua,” tambahnya.

Setibanya di Papua, Dr. Samuel menghadapi realitas lapangan yang menantang: rumah sakit dengan peralatan terbatas, jaringan transportasi yang sulit, dan populasi yang tersebar di pulau‑pulau terpencil. Namun, semangat pengabdian yang tertanam selama masa studi membuatnya tetap optimis. Ia memulai program layanan mobile eye clinic yang menjangkau desa‑desa terpencil, melakukan skrining, pemeriksaan refraksi, serta operasi katarak dengan dukungan tim medis lokal.

Hasil dari intervensi tersebut tampak signifikan. Menurut data yang dihimpun oleh timnya, dalam enam bulan pertama program berjalan, lebih dari 1.200 mata diperiksa, 350 kasus katarak berhasil dioperasi, dan tingkat kebutaan akibat penyakit mata menurun secara nyata. Selain itu, pelatihan singkat yang diberikan kepada dokter umum setempat meningkatkan kemampuan mereka dalam melakukan penanganan awal, sehingga beban layanan di rumah sakit pusat dapat berkurang.

FK UNDIP sendiri tidak tinggal diam. Fakultas terus memperkuat ekosistem pendidikan yang menekankan riset dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa dan alumni didorong untuk berpartisipasi dalam proyek‑proyek lapangan, sehingga pengetahuan yang dihasilkan tidak hanya bersifat akademis, melainkan aplikatif. Program beasiswa khusus untuk penelitian kesehatan daerah juga turut memfasilitasi generasi berikutnya dalam mengidentifikasi masalah kesehatan spesifik wilayah Indonesia.

Pengalaman Dr. Samuel menjadi contoh konkret bahwa lulusan FK UNDIP mampu menjawab tantangan ketimpangan layanan kesehatan di seluruh nusantara. Ia menegaskan, “Setiap dokter seharusnya memiliki rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan yang saya terima memberikan saya alat—baik teknis maupun moral—untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Saya berharap lebih banyak rekan sejawat yang terinspirasi untuk melangkah ke daerah yang membutuhkan.”

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah Papua yang membuka ruang bagi kolaborasi antara institusi kesehatan, universitas, dan organisasi non‑pemerintah. Dengan sinergi tersebut, program layanan mata diharapkan dapat berkelanjutan, bahkan berkembang menjadi pusat rujukan regional.

Secara keseluruhan, kisah Dr. Samuel Octovianus Dimara mencerminkan sinergi antara pendidikan kedokteran yang berkualitas, nilai‑nilai kemanusiaan, dan semangat pengabdian. FK UNDIP, melalui alumni‑nya, terus berperan sebagai motor penggerak transformasi kesehatan nasional yang inklusif, berdaya saing, serta mampu menjangkau pelosok negeri. Dengan dedikasi serupa, harapan akan terwujudnya layanan kesehatan mata yang merata di seluruh Indonesia semakin kuat.

Related Post