Meski tak setenar sebagian ulama lain di mata awam, kontribusi keilmuan KH. Turaichan Adjhuri bagi umat Islam di Indonesia sangatlah besar, khususnya dalam menentukan arah kiblat, jadwal sholat, hingga penanggalan Hijriyah. Artikel ini akan mengupas tuntas biografi beliau, menelusuri jejak kehidupan, perjalanan intelektual, karya-karya, serta warisan keilmuan yang tak lekang oleh waktu.
Awal Kehidupan dan Pendidikan: Bibit Keilmuan dari Tanah Kudus
KH. Turaichan Adjhuri dilahirkan di Desa Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 12 Syawal 1338 H atau bertepatan dengan tahun 1920 M. Beliau berasal dari keluarga yang religius, putra dari pasangan Bapak H. Adjhuri dan Ibu Hj. Nur Rohmah. Lingkungan keluarga yang kental dengan nuansa keilmuan dan keagamaan menjadi lahan subur bagi tumbuh kembangnya kecerdasan dan minat beliau pada ilmu agama sejak usia dini.
Pendidikan awal KH. Turaichan dimulai dari lingkungan keluarga dan guru-guru di kampungnya. Sejak kecil, beliau menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dan semangat belajar yang tinggi. Haus akan ilmu, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke berbagai pondok pesantren terkemuka di Jawa. Beberapa di antaranya yang sangat memengaruhi pembentukan keilmuan beliau adalah:
- Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur: Di sinilah beliau mendalami ilmu-ilmu dasar agama dan nahwu shorof.
- Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur: Beliau memperdalam ilmu fikih dan ushul fikih di pesantren yang masyhur ini.
- Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah: Di bawah bimbingan para Kiai sepuh Sarang, beliau mengkaji lebih dalam ilmu hadis, tafsir, dan tasawuf.
Di pesantren-pesantren inilah beliau bertemu dan belajar dari ulama-ulama besar Nusantara pada masanya, menggembleng diri menjadi seorang santri yang mumpuni.
Pengembaraan Ilmu ke Tanah Suci: Mengukir Sanad dan Menguasai Falak
Tak berhenti di Nusantara, semangat keilmuan KH. Turaichan Adjhuri membawanya melangkah lebih jauh. Beliau memutuskan untuk menimba ilmu di kota suci Makkah Al-Mukarramah. Di sana, beliau berkesempatan belajar langsung dari para masyayikh (guru besar) yang memiliki sanad keilmuan yang tersambung langsung hingga Rasulullah SAW.
Salah satu fokus utama beliau di Makkah adalah ilmu hadis. Beliau menghafal ribuan hadis beserta sanad-sanadnya, sehingga beliau dikenal sebagai salah satu ulama Nusantara yang sangat kokoh dalam ilmu hadis. Sanad keilmuan hadis beliau bahkan tersambung hingga Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, seorang ahli hadis terkemuka di Makkah asal Minangkabau.
Selain hadis, di Makkah pula beliau mendalami ilmu falak (astronomi Islam). Ilmu ini sangat penting untuk menentukan waktu-waktu ibadah (sholat, puasa, haji) dan arah kiblat. Dengan ketekunan luar biasa, KH. Turaichan menguasai berbagai rumus dan perhitungan falak yang kompleks. Kemampuan beliau di bidang ini membuatnya diakui sebagai otoritas di Nusantara.
Kembali ke Tanah Air: Mengabdi di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an
Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah suci, pada sekitar tahun 1947-1948, KH. Turaichan Adjhuri kembali ke tanah kelahirannya, Kudus. Dengan bekal ilmu yang melimpah dan sanad yang kuat, beliau mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu.
Beliau kemudian mengabdikan diri di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus, yang didirikan oleh KH. Arwani Amin, seorang ulama pakar Al-Qur’an dan Qira’at Sab’ah. Di sinilah KH. Turaichan Adjhuri mengajar berbagai disiplin ilmu, khususnya fikih, hadis, dan ilmu falak. Ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara datang untuk belajar kepadanya, menjadikan beliau salah satu rujukan utama.
Peran beliau di Yanbu’ul Qur’an sangat sentral. Beliau bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi tempat bertanya bagi para ulama dan masyarakat luas terkait berbagai persoalan agama, terutama yang berkaitan dengan waktu ibadah dan arah kiblat.
Kontribusi dan Karya-karya Penting
Keilmuan KH. Turaichan Adjhuri tidak hanya berhenti di bangku pengajaran. Beliau juga meninggalkan sejumlah karya tulis yang menjadi rujukan penting hingga kini:
- Matla’ul Badrain: Kitab ini membahas secara detail tentang perhitungan waktu sholat, arah kiblat, dan penentuan awal bulan Hijriyah (rukyatul hilal). Karya ini menjadi rujukan utama bagi para ahli falak di Indonesia.
- Risalah Al-Falaqiyyah: Kitab ini juga fokus pada ilmu falak, menjelaskan berbagai metode perhitungan dan aplikasinya dalam ibadah.
- Karya-karya di Bidang Hadis: Meskipun sebagian besar berupa catatan-catatan pengajaran dan syarah (penjelasan) hadis yang belum semua diterbitkan, kontribusi beliau dalam sanad hadis sangat diakui. Beliau adalah salah satu ulama yang menjaga dan menyebarkan sanad hadis yang mutawatir di Indonesia.
- Buku Pelajaran untuk Santri: Beliau juga menyusun beberapa buku panduan sederhana untuk para santri agar lebih mudah memahami ilmu-ilmu dasar.
Selain karya tulis, kontribusi beliau yang tak kalah penting adalah dakwah lisan dan perannya dalam melahirkan banyak santri yang kemudian menjadi ulama besar di berbagai daerah. Murid-murid beliau meneruskan estafet keilmuan, menyebarkan ajaran yang telah mereka terima dari KH. Turaichan Adjhuri.
Keteladanan dan Karisma KH. Turaichan Adjhuri
Selain keilmuannya yang mendalam, KH. Turaichan Adjhuri juga dikenal dengan akhlak mulia dan karismanya. Beliau adalah sosok yang:
- Sederhana dan Rendah Hati: Meskipun sangat berilmu, beliau selalu tampil sederhana dan tidak pernah menunjukkan kesombongan.
- Teliti dan Hati-hati: Terutama dalam masalah fikih dan falak, beliau sangat hati-hati dan teliti, memastikan setiap perhitungan dan fatwa didasari oleh dalil yang kuat.
- Wara’ dan Zuhud: Beliau menjauhi hal-hal yang syubhat dan menjalani hidup dengan penuh kezuhudan.
- Penyabar dan Penuh Kasih Sayang: Terhadap santri-santrinya, beliau adalah sosok guru yang sabar dan penuh kasih sayang, selalu membimbing dengan lembut.
- Istiqamah dalam Beribadah: Beliau dikenal sebagai ahli ibadah yang istiqamah dalam sholat malam, puasa sunah, dan dzikir.
Karisma beliau begitu kuat, sehingga banyak santri dan masyarakat yang merasakan ketenangan dan keberkahan hanya dengan berada di dekatnya atau mendengarkan nasihatnya.
Wafat dan Warisan Abadi
KH. Turaichan Adjhuri wafat pada tanggal 7 Muharram 1412 H atau bertepatan dengan 18 Juli 1991 M di usia 71 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, khususnya di Kudus dan Nusantara. Namun, warisan keilmuan beliau tetap hidup dan terus memberikan manfaat.
Kitab-kitabnya terus dikaji, ilmu falak yang beliau tekuni menjadi pondasi bagi perhitungan waktu ibadah di berbagai daerah, dan sanad hadis yang beliau jaga terus tersambung melalui murid-muridnya. Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an juga terus berkembang, menjadi saksi bisu atas perjuangan dan pengabdian beliau dalam mendidik generasi penerus.
Nama KH. Turaichan Adjhuri akan selalu dikenang sebagai mutiara ilmu dari Kudus, seorang ulama yang berhasil menggabungkan kedalaman ilmu syariat dengan kemahiran ilmu hisab, serta meninggalkan jejak kebaikan yang tak terhingga bagi umat. Beliau adalah inspirasi bagi kita semua untuk terus belajar, mengabdi, dan menyebarkan cahaya ilmu
Kesimpulan
Biografi KH. Turaichan Adjhuri adalah kisah tentang dedikasi seorang ulama yang tak kenal lelah dalam menuntut dan menyebarkan ilmu. Dari bangku pesantren di Jawa, pengembaraan ilmu di Makkah, hingga pengabdian di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, beliau telah membuktikan diri sebagai pakar falak dan ahli hadis yang mumpuni.
Warisan keilmuan dan keteladanan beliau terus hidup, menjadi penerang bagi umat Islam di Nusantara. Mengenang beliau berarti mengenang semangat keilmuan, kesederhanaan, dan pengabdian tanpa batas. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kehidupan beliau dan meneruskan perjuangan dalam menjaga serta mengembangkan ilmu agama.
Sudahkah Anda mengenal lebih jauh karya-karya atau ajaran dari KH. Turaichan Adjhuri? Mari terus lestarikan jejak keilmuan para ulama kita!
