MA Darus Salam – 17 April 2026 | Google mengumumkan bahwa selama tahun 2025 ia berhasil menghapus lebih dari 8,3 miliar iklan yang dianggap mengandung penipuan atau melanggar kebijakan. Langkah ini menegaskan komitmen raksasa teknologi tersebut untuk menjaga ekosistem iklan tetap sehat dan melindungi jutaan pengguna di seluruh dunia.
Dari total iklan yang disingkirkan, sebanyak 602 juta iklan dan sekitar empat juta akun pengiklan terdeteksi langsung terlibat dalam skema penipuan online. Angka ini menyoroti skala operasi kriminal digital yang semakin terorganisir, sekaligus menegaskan betapa pentingnya penyaringan ketat pada platform periklanan.
Menariknya, meski volume iklan yang diblokir mencapai angka fantastis, tren penangguhan akun pengiklan justru menunjukkan penurunan. Pada tahun 2024 tercatat 39,2 juta akun yang dikenai sanksi penangguhan, sedangkan pada 2025 angka tersebut menyusut menjadi 24,9 juta. Penurunan ini bukan berarti ancaman berkurang, melainkan menandakan perubahan strategi penegakan yang lebih cerdas dan terarah.
Selain AI, Google memperketat proses verifikasi pengiklan sejak tahap pendaftaran. Identitas yang jelas dan prosedur pemeriksaan yang lebih ketat membantu menyaring oknum jahat sebelum mereka dapat menayangkan iklan. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor utama menurunnya jumlah akun yang ditangguhkan, karena banyak pelaku penipuan sudah terhalang sejak awal.
Jika dilihat dari perspektif geografis, Amerika Serikat dan India menjadi pasar dengan aktivitas pembersihan iklan paling signifikan. Di Amerika Serikat, Google menghapus sekitar 1,7 miliar iklan dan menangguhkan tiga setengah juta akun pengiklan, dengan pelanggaran utama meliputi penyalahgunaan jaringan, penipuan finansial, serta konten seksual yang melanggar kebijakan. Sementara itu, di India tercatat pemblokiran 483,7 juta iklan, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, namun jumlah akun yang ditangguhkan justru berkurang dari 2,9 juta pada 2024 menjadi 1,7 juta pada 2025.
Berbagai jenis pelanggaran yang dominan di pasar India meliputi:
- Pelanggaran merek dagang oleh pihak tak berwenang.
- Iklan layanan keuangan ilegal yang menjanjikan keuntungan tidak realistis.
- Masalah hak cipta pada materi iklan.
- Penggunaan teknik cloaking untuk menyembunyikan konten asli.
Ancaman digital terus berevolusi. Penipu kini memanfaatkan teknologi deepfake dan AI generatif untuk menciptakan materi iklan yang tampak sangat meyakinkan, menambah kompleksitas tugas tim keamanan Google. Karena itu, kebijakan iklan diperbarui secara berkala untuk menutup celah baru, termasuk penipuan yang mengaitkan isu terkini atau tokoh publik.
Pengguna juga diingatkan untuk tetap waspada. Google menyarankan agar setiap orang memeriksa kredibilitas pengiklan melalui fitur “Tentang Iklan Ini” yang tersedia pada setiap unit iklan. Transparansi ini diharapkan menjadi lapisan perlindungan tambahan bagi konsumen dari jeratan penipuan yang berhasil melewati filter otomatis.
Ke depan, efektivitas blokir iklan penipuan Google akan sangat bergantung pada sinergi antara teknologi AI yang terus berkembang dan partisipasi aktif pengguna dalam melaporkan konten mencurigakan. Dengan kombinasi penegakan hukum yang terarah, verifikasi identitas yang ketat, serta edukasi pengguna, Google optimis dapat menekan angka penipuan online dan menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi semua pihak.











