MA Darus Salam – Jalan utama yang menghubungkan Kampung Saronge dengan Desa Sukajaya di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, kembali terputus pada subuh Selasa 21 April 2026. Longsor susulan yang menimpa lereng sekitar menutup akses secara total, memaksa warga setempat untuk mengorganisir evakuasi secara gotong royong. Insiden ini menambah rangkaian bencana alam yang telah melanda wilayah tersebut sejak Jumat 17 April 2026, ketika longsor pertama kali melanda area yang sama.
Warga kampung yang terdampak tidak menunggu bantuan resmi dari pemerintah daerah. Sekelompok relawan lokal, yang dipimpin oleh ketua RW setempat, segera membentuk barisan kerja. Mereka menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan tali pengaman untuk menstabilkan lereng serta mengeluarkan batu-batu besar yang menghalangi jalan. Selama tiga jam pertama, lebih dari dua puluh orang terlibat aktif mengangkat material longsor, sementara yang lain membantu memindahkan korban yang terperangkap.
Berikut langkah‑langkah evakuasi yang dilakukan warga:
- Mengamankan area bahaya dengan menandai zona yang berisiko longsor kembali.
- Menggunakan sekop dan cangkul untuk mengangkat material longsor secara manual.
- Menyiapkan jalur alternatif sementara menggunakan trek tanah yang lebih tinggi.
- Menyalurkan korban ke posko darurat yang dipasang di balai desa terdekat.
- Mengkoordinasikan bantuan makanan dan air bersih melalui donasi warga sekitar.
Selama proses evakuasi, sejumlah keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka karena takut terjebak lagi. Tim medis desa, yang dipimpin oleh dokter Puskesmas setempat, memberikan pertolongan pertama kepada beberapa warga yang mengalami luka ringan akibat jatuh batu. Tidak ada laporan korban jiwa, namun beberapa orang mengeluh sakit kepala dan pusing akibat debu dan tekanan mental.
Pihak berwenang, termasuk Dinas Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, segera tiba di lokasi setelah mendapat laporan melalui jaringan relawan. Tim BPBD bersama satpol PP melakukan survei cepat, menilai tingkat bahaya, dan menyiapkan rencana perbaikan jalan yang lebih permanen. Mereka juga menyiapkan bantuan logistik berupa tenda, selimut, serta makanan siap saji untuk warga yang terpaksa mengungsi sementara.
Selain upaya teknis, pemerintah daerah juga berjanji akan meningkatkan program mitigasi bencana, termasuk pelatihan kesiapsiagaan warga, penyediaan peralatan pemantauan tanah, serta penyusunan peta bahaya yang lebih akurat. Rencana tersebut diharapkan dapat mengurangi frekuensi terjadinya longsor serupa di masa mendatang.
Sementara itu, warga tetap optimis. “Kami tidak menunggu bantuan, kami berjuang bersama. Semoga jalan kembali terbuka secepatnya supaya aktivitas ekonomi kami tidak terganggu lagi,” ujar salah satu warga, Budi Santoso, yang terlibat aktif dalam proses evakuasi.
Dengan semangat gotong royong, warga Cisewu menunjukkan ketangguhan menghadapi bencana alam yang tiba‑tiba. Namun, kejadian ini juga menjadi panggilan bagi pemerintah untuk meningkatkan investasi pada infrastruktur penanggulangan bencana, terutama di daerah rawan longsor seperti Garut.
Upaya perbaikan jalan utama Cisewu dijadwalkan akan dimulai pada minggu depan, dengan prioritas utama pada penguatan lereng dan pemasangan penahan tanah. Dinas Pekerjaan Umum mengumumkan bahwa proses perbaikan akan melibatkan tenaga ahli geoteknik, serta penggunaan material yang lebih kuat untuk menahan beban tanah di masa mendatang.
Keseluruhan, insiden longsor susulan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, tenaga ahli, dan masyarakat dalam mengatasi dampak bencana alam. Keberhasilan evakuasi warga yang bersatu menunjukkan potensi besar dari semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
