MA Darus Salam – Semarang, 17 April 2026 – Universitas Semarang (USM) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMA Negeri 11 Semarang yang menitikberatkan pada peningkatan keterampilan komunikasi siswa. Acara yang berlangsung pada hari Jumat ini dihadiri oleh lebih dari seratus peserta didik, dosen, serta mahasiswa USM yang berperan sebagai fasilitator.
Kegiatan mengusung tema Etika Public Speaking dan Produksi Konten Media Sosial dengan tujuan utama membekali siswa agar dapat berkomunikasi secara efektif di era digital. Seluruh rangkaian program dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkan teknik-teknik penting yang mendukung komunikasi efektif dalam berbagai konteks.
Susunan Materi dan Pemateri
Acara dibuka oleh ketua tim PKM, Tika Ristia Djaya, S.I.Kom., M.I.Kom., yang sekaligus menjadi pemateri pertama. Dalam sesi pembukaannya, Tika menekankan pentingnya etika dalam berbicara di depan umum, termasuk sikap, pilihan bahasa, dan cara menyampaikan pesan yang sopan serta persuasif.
- Sesi 1 – Etika Public Speaking: Tika Ristia Djaya menjelaskan tentang pentingnya menyesuaikan bahasa tubuh, menjaga intonasi, dan menghindari penggunaan kata‑kata yang dapat menyinggung audiens.
- Sesi 2 – Teknik Dasar Public Speaking: Sinta Pramucitra, S.I.Kom., M.I.Kom., mengajarkan teknik penguasaan panggung, pengaturan napas, serta cara membangun kepercayaan diri saat berbicara.
- Sesi 3 – Strategi Komunikasi Efektif: Ami Saptiyono, S.I.Kom., M.I.Kom., membahas cara menyusun pesan yang jelas, menggunakan contoh konkret, dan menyesuaikan gaya komunikasi dengan kebutuhan audiens.
- Sesi 4 – Produksi Konten Media Sosial: M. Faiq memberikan panduan tentang pembuatan konten yang kreatif, menarik, serta bertanggung jawab secara etis di platform digital.
Setelah materi disampaikan, para siswa diberikan kesempatan untuk berlatih langsung. Mereka melakukan simulasi public speaking di depan kelas, menerima umpan balik langsung dari para dosen, dan kemudian berkolaborasi dalam pembuatan video pendek serta poster digital yang mencerminkan pesan yang ingin disampaikan.
Peran Mahasiswa USM
Tim mahasiswa USM yang terlibat, antara lain M Rizky Maulana, Patric Bernadian, dan Siti Maryam, berperan sebagai asisten teknis, pencatat, serta pengelola dokumentasi. Mereka membantu menyiapkan perlengkapan audio‑visual, mengatur jadwal sesi praktikum, dan merekam proses pembelajaran untuk keperluan evaluasi selanjutnya.
“Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memberikan perspektif baru bagi siswa SMA. Mereka melihat contoh nyata bagaimana ilmu komunikasi dapat diaplikasikan dalam proyek kreatif,” ujar Patric Bernadian dalam wawancara singkat setelah acara selesai.
Respon Siswa dan Dampak yang Diharapkan
Antusiasme siswa terlihat jelas ketika memasuki sesi praktik. Banyak di antara mereka yang awalnya ragu menjadi lebih percaya diri setelah menerima masukan konstruktif. Salah satu peserta, Rani (kelas XII IPA 2), menyatakan, “Saya dulu takut berbicara di depan teman‑teman, tapi setelah latihan, saya merasa lebih tenang dan bisa menyampaikan ide saya dengan jelas.”
Para dosen menekankan bahwa kemampuan komunikasi efektif tidak hanya penting untuk presentasi di kelas, tetapi juga untuk interaksi sehari‑hari di media sosial. Dengan memahami etika digital, siswa diharapkan dapat menjadi pembuat konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga bertanggung jawab.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana siswa mengajukan pertanyaan mengenai tantangan yang dihadapi saat membuat konten, cara mengatasi rasa gugup, serta tips mengelola waktu saat berlatih public speaking. Diskusi tersebut memperkaya pemahaman semua pihak dan menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan sekolah menengah.
Secara keseluruhan, PKM ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, memotivasi siswa untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum, serta mengembangkan kreativitas dalam produksi konten digital. Diharapkan dampak positif ini akan terus berlanjut, menjadikan generasi muda Semarang lebih siap menghadapi tantangan komunikasi di era informasi.
Dengan dukungan berkelanjutan dari universitas, guru, dan orang tua, program serupa dapat menjadi model bagi institusi pendidikan lain dalam menyiapkan siswa menjadi komunikator yang efektif, kritis, dan kreatif.
