MA Darus Salam – Jakarta, 19 April 2026 – Festival Songkran 2026 yang dirayakan di ibu kota tidak hanya dipenuhi percikan air, melainkan juga serangkaian kegiatan edukatif yang mengangkat warisan kuliner Thailand. Salah satu sorotan utama adalah workshop praktis tentang pembuatan Lukchup, kudapan tradisional yang menyerupai buah‑buahan mini dan kini menjadi tren media sosial.
Acara tersebut digelar pada Sabtu, 18 April 2026, dan diikuti oleh lima belas peserta yang antusias. Instruktur utama adalah perwakilan Kedutaan Besar Thailand, Enji, yang bersama timnya membimbing peserta langkah demi langkah. Enji menjelaskan bahwa bahan dasar Lukchup terbuat dari kacang hijau kupas yang dihaluskan, dicampur santan, gula, garam, vanili, serta pewarna makanan alami. Lapisan luar yang mengkilap terbentuk dari agar‑agar, memberi tampilan mengilap dan tekstur kenyal.
Berikut rangkaian proses pembuatan Lukchup yang diajarkan dalam workshop:
- Persiapan adonan: Kacang hijau direbus hingga lunak, kemudian dihaluskan hingga menjadi pasta halus. Santan, gula, garam, dan vanili ditambahkan, lalu diaduk hingga adonan padat.
- Pembentukan: Adonan dibagi menjadi bagian‑bagian kecil seberat lima gram, dibentuk bulat, kemudian diukir menyerupai buah cermai atau jambu air.
- Pewarnaan: Setiap bentuk buah dicelupkan ke dalam larutan pewarna makanan, kemudian dibiarkan mengering.
- Lapisan agar‑agar: Buah yang sudah kering dicelupkan ke dalam larutan agar‑agar sebanyak tiga hingga empat kali. Proses ini memberi efek mengilap serta melindungi warna.
- Penyelesaian: Lukchup yang sudah selesai dibekukan sebentar, lalu disajikan dalam piring cantik untuk dinikmati.
Teknik mencelupkan berulang kali menjadi poin krusial; Enji menekankan bahwa ketelitian dalam setiap lapisan menentukan kilau akhir serta ketahanan warna. Peserta yang belum berpengalaman harus berlatih menyeimbangkan jumlah cairan agar‑agar agar tidak membuat permukaan terlalu tebal atau tipis.
Sejarah Lukchup berakar dari era Kerajaan Ayutthaya, ketika kudapan ini pertama kali disajikan sebagai hidangan penutup eksklusif bagi keluarga kerajaan. Pada masa itu, hanya perempuan istana yang memiliki keahlian mengolah kacang hijau menjadi bentuk seni yang memukau. Karena bahan dasarnya berwarna pucat, para pembuat mengadopsi bentuk buah‑buahan untuk meningkatkan daya tarik visual, menjadikan setiap suapan bukan sekadar rasa, melainkan persembahan estetika.
Para peserta workshop mengungkapkan rasa puas dan tantangan yang mereka alami. Gabby, seorang mahasiswa seni visual, mengakui bahwa proses membentuk adonan menjadi buah mini memerlukan ketelatenan tinggi. “Saya sempat gagal saat mengukir bentuk cermai, tetapi dengan bimbingan Enji, saya berhasil memperbaikinya,” ujar Gabby. Sementara Ana, peserta lain, terkesan dengan kompleksitas teknik pencelupan agar‑agar. “Awalnya tampak sederhana, tetapi tiga atau empat kali celupan membuat hasilnya jadi sangat mengilap,” tambahnya.
Workshop ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang belajar kuliner, melainkan juga sebagai upaya pelestarian budaya. Enji menegaskan bahwa memperkenalkan Lukchup kepada masyarakat Indonesia dapat membuka peluang kolaborasi kuliner lintas negara dan meningkatkan apresiasi terhadap warisan gastronomi Thailand. Ia berharap kegiatan serupa dapat diadakan secara berkala, baik di kota lain maupun dalam rangka festival budaya internasional.
Selain aspek edukatif, acara ini juga memberikan nilai ekonomis. Lukchup yang kini dapat ditemukan di pasar tradisional Thailand dijual dengan harga terjangkau, namun proses pembuatannya tetap memerlukan keahlian khusus. Dengan mengajarkan teknik pembuatan kepada publik, diharapkan muncul usaha kecil yang dapat memproduksi Lukchup secara lokal, sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Secara keseluruhan, workshop Lukchup di Jakarta berhasil menggabungkan unsur sejarah, seni, dan kuliner menjadi satu pengalaman yang memikat. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan praktis, tetapi juga mengapresiasi nilai estetika yang terkandung dalam setiap gigitan. Dengan antusiasme yang tinggi, inisiatif serupa berpotensi memperluas jangkauan kuliner tradisional Thailand ke panggung internasional, menjadikan Lukchup bukan sekadar kudapan viral, melainkan simbol persahabatan budaya antara Thailand dan Indonesia.











