MA Darus Salam – 18 April 2026 | Laporan Global Travel Trends Report 2026 mengungkap perubahan signifikan dalam cara generasi muda merencanakan liburan. Milenial dan Gen Z kini lebih mengutamakan kedalaman interaksi budaya serta kuliner lokal daripada sekadar mengunjungi destinasi populer. Data yang dirilis oleh American Express dan disitasi oleh media internasional menyoroti bahwa 64 persen responden bersedia menerima pekerjaan dengan fasilitas lebih sederhana demi meningkatkan frekuensi perjalanan.
Survei melibatkan lebih dari delapan ribu responden dari beragam negara, termasuk Inggris, Jepang, hingga Indonesia. Para peserta menegaskan bahwa perencanaan perjalanan tidak lagi berfokus pada landmark terkenal, melainkan pada pencarian pengalaman yang berkesan dan koneksi nyata dengan masyarakat setempat. Empat tren utama diproyeksikan menjadi kekuatan pendorong industri pariwisata sepanjang tahun 2026.
- Sight‑doing: Belajar Keterampilan Baru – Sekitar delapan puluh persen wisatawan mengaku lebih tertarik pada aktivitas praktis seperti kelas memasak, melukis keramik, atau membatik. Mereka menilai bahwa belajar langsung memberikan pemahaman budaya yang lebih autentik dibandingkan sekadar membeli suvenir.
- Lore Chasing: Mengejar Pengalaman Spontan – Sebanyak enam puluh delapan persen responden melaporkan bahwa interaksi tak terduga dengan warga lokal menjadi momen paling berharga. Mereka rela menyimpang dari rencana awal demi menciptakan cerita unik yang dapat dibagikan.
- Snackpacking: Berburu Kuliner Lokal – Sebanyak delapan puluh sembilan persen menempatkan jajanan tradisional sebagai prioritas utama. Dari toko roti hingga pedagang kaki lima dan supermarket lokal, pencarian rasa otentik menjadi agenda harian selama perjalanan.
- Miles on Milestones: Liburan untuk Momen Spesial – Perjalanan kini sering dikaitkan dengan perayaan pribadi seperti ulang tahun atau pernikahan. Tujuh puluh dua persen wisatawan memperpanjang durasi liburan tiga hingga empat hari lebih lama dari rencana semula demi memaksimalkan momen penting.
Fenomena ini menandakan pergeseran paradigma nilai perjalanan. Bagi pelancong modern, keberhasilan sebuah liburan tidak lagi diukur dari jarak tempuh atau foto landmark, melainkan dari kualitas interaksi pribadi, penemuan kuliner, serta kejutan tak terduga yang menambah warna pada kenangan. Industri perhotelan, agen perjalanan, dan penyedia layanan wisata kini dituntut untuk menyesuaikan penawaran, misalnya dengan menyertakan paket workshop budaya, tur kuliner tersembunyi, atau fleksibilitas jadwal yang memungkinkan wisatawan beraksi spontan.
Di Indonesia, tren ini membuka peluang besar bagi destinasi yang selama ini kurang mendapat sorotan. Kota-kota kecil dengan warisan seni dan kuliner yang kaya dapat menarik minat Gen Z dan Milenial yang mencari pengalaman otentik. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat memperkuat infrastruktur serta mempromosikan program pelatihan bagi penduduk lokal, sehingga mereka dapat menjadi fasilitator utama dalam menyampaikan nilai budaya kepada wisatawan.
Selain itu, statistik menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mencari pengalaman, tetapi juga bersedia mengorbankan kenyamanan material. Sikap ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan kerja yang fleksibel, seperti cuti remote atau jam kerja yang dapat diatur, guna mendukung gaya hidup nomaden digital. Perusahaan yang menawarkan program keseimbangan kerja‑hidup akan lebih mudah menarik talenta yang mengutamakan kebebasan berkeliling dunia.
Kesimpulannya, tren wisata 2026 menegaskan bahwa kedalaman pengalaman lokal menjadi magnet utama bagi Gen Z dan Milenial. Dengan menyesuaikan penawaran produk wisata, memperkuat kolaborasi dengan komunitas setempat, serta menciptakan ekosistem kerja yang mendukung mobilitas, industri pariwisata dapat memanfaatkan momentum ini untuk pertumbuhan berkelanjutan.











