MA Darus Salam – Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini menjadi salah satu sorotan paling berani dalam kalender rilis tahun ini, menggabungkan horor, komedi, aksi, dan satire sosial dalam satu rangkaian yang tak terduga. Setelah menggebrak Berlin International Film Festival, Ghost in the Cell kembali ke layar lebar Indonesia dengan pendekatan yang menolak konvensi genre tradisional.
Alur cerita berpusat pada Anggoro (Abimana Aryasatya), seorang narapidana yang hidupnya berubah drastis setelah kedatangan Dimas (Endy Arfian) di dalam penjara. Kejadian aneh mulai mengemuka ketika sejumlah tahanan tewas secara misterius, menandakan keberadaan entitas supranatural yang menargetkan “energi negatif” di dalam ruang terkunci. Dalam konteks ini, penjara tidak sekadar menjadi latar fisik, melainkan metafora yang memuat kritik tajam terhadap sistem hukum yang korup, hierarki kekuasaan yang menindas, serta ketidakadilan struktural.
Keberanian Joko Anwar terletak pada keinginannya mengacak genre. Adegan gore yang eksplisit berbaur dengan humor absurd, sementara momen aksi tiba-tiba berubah menjadi satire sosial yang menggelitik. Kombinasi ini menciptakan ritme yang dinamis namun menantang, memaksa penonton untuk terus menyesuaikan ekspektasi. Transisi tonal yang melompat kadang terasa mengguncang, namun justru menegaskan identitas film yang sengaja mengusik kestabilan konvensional.
Dari segi akting, ensemble cast menampilkan performa yang solid. Abimana Aryasatya menghidupkan karakter Anggoro dengan intensitas emosional yang mengakar, menampilkan dilema moral di balik tindakan seorang narapidana. Bront Palarae, sebagai sipir korup, menyuguhkan sosok yang menakutkan sekaligus mengundang tawa gelap lewat dialog yang sinis. Endy Arfian, yang berperan sebagai Dimas, menambah lapisan misteri dengan energi yang tak terduga, sementara Aming Sugandhi memberikan warna unik melalui penampilan yang energik dan penuh semangat.
Namun, tidak semua elemen berjalan mulus. Kritik sosial yang diusung film ini, meskipun tajam, kadang terasa terlalu eksplisit. Beberapa dialog menjelaskan pesan secara langsung, mengurangi ruang interpretasi bagi penonton dan menimbulkan kesan menggurui. Selain itu, transisi tonal yang meloncat dapat membuat alur terasa kurang rapi di beberapa segmen, mengganggu aliran naratif yang lebih halus.
Secara teknis, Ghost in the Cell patut diapresiasi. Desain produksi berhasil menciptakan atmosfer penjara yang suram dan menekan, dengan pencahayaan yang menyoroti kontras antara ruang gelap dan kilatan cahaya yang menakutkan. Penggunaan suara, terutama efek suara yang menggelegar, menambah intensitas horor dan memperkuat sensasi body horror yang muncul di beberapa adegan. Visual yang mengusung elemen body horror memberikan pengalaman mengganggu sekaligus memukau, memperlihatkan detail-detail fisik yang memutar otak sekaligus memikat mata.
Elemen satire sosial menjadi benang merah yang mengikat seluruh rangkaian genre. Penjara digambarkan sebagai microcosm masyarakat, di mana kekuasaan menindas, korupsi merajalela, dan keadilan menjadi barang langka. Entitas supranatural yang mengejar energi negatif dapat ditafsirkan sebagai metafora konsekuensi moral dari sistem yang rusak. Dalam konteks ini, film tidak sekadar menakut-nakuti, melainkan mengajak penonton merenungkan kondisi sosial yang melingkupi kehidupan sehari-hari.
Walaupun terdapat kelemahan dalam penyampaian pesan, keberanian film ini tetap menjadi nilai jual utama. Joko Anwar tidak takut mengambil risiko dengan menggabungkan unsur-unsur yang biasanya tidak bersinggungan, menghasilkan karya yang terasa segar dan berbeda. Bagi penonton yang mengharapkan film konvensional, Ghost in the Cell mungkin terasa menantang; namun bagi mereka yang mencari pengalaman sinematik yang berani, penuh makna, dan tidak takut pada kekacauan terencana, film ini menawarkan paket lengkap yang memuaskan.
Kesimpulannya, Ghost in the Cell merupakan karya yang menonjolkan keberanian artistik, mengusung kritik sosial yang lugas, serta menampilkan perpaduan genre yang tak terduga. Meskipun transisi tonal dan penyampaian pesan terkadang terasa berlebihan, kualitas teknis, performa aktor, dan visi sutradara menjadikan film ini layak ditonton bagi penikmat sinema yang ingin merasakan sesuatu yang berbeda.











