MA Darus Salam – Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Muktisari kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memperkuat perekonomian warga melalui inovasi pertanian berbasis lahan titisara. Pada pekan ini, BUMDes memulai program penanaman jagung hibrida seluas beberapa hektar di area titisara, sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat menambah produksi pangan lokal, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan petani.
Program ini dilatarbelakangi oleh tantangan pangan nasional yang terus menanjak, terutama pada musim kemarau panjang yang mempengaruhi hasil pertanian tradisional. Dengan memanfaatkan lahan titisara—tanah yang biasanya dipakai untuk penanaman padi atau tanaman pangan lain—BUMDes Muktisari berupaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang selama ini kurang dimanfaatkan. Penggunaan jagung hibrida dipilih karena daya adaptasinya yang tinggi terhadap kondisi iklim setempat serta potensi hasil yang lebih besar dibandingkan varietas lokal.
Sejumlah petani desa, bersama tim teknis BUMDes, telah melaksanakan serangkaian tahapan persiapan lahan. Proses dimulai dengan pruning atau pemangkasan vegetasi liar, penyiapan bedengan, serta pemupukan organik yang mengacu pada prinsip pertanian berkelanjutan. Selanjutnya, bibit jagung hibrida yang telah dipilih melalui uji ketahanan terhadap hama dan penyakit ditanam secara merata menggunakan metode baris tunggal, memastikan ventilasi yang cukup dan memudahkan perawatan selanjutnya.
Berikut rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan oleh BUMDes Muktisari:
- Survey lahan: Tim agronom mengidentifikasi area titisara yang paling potensial, memperhatikan tingkat kesuburan tanah dan akses air irigasi.
- Penyuluhan kepada petani: Sesi edukasi tentang teknik penanaman jagung hibrida, pemupukan, dan pengendalian hama dilakukan secara intensif.
- Penanaman bibit: Pada tanggal 5 April 2026, lebih dari 15.000 bibit jagung hibrida ditanam di lahan seluas 5 hektar.
- Perawatan intensif: Pemupukan lanjutan, penyiraman, dan penyiangan dilakukan secara berkala selama fase pertumbuhan vegetatif.
- Monitoring hasil: Tim BUMDes melakukan survei bulanan untuk mencatat pertumbuhan tanaman, tingkat serangan hama, dan kondisi tanah.
Hasil awal yang terlihat cukup menjanjikan. Tingkat perkecambahan mencapai 96 persen, dan pertumbuhan tanaman menunjukkan tinggi rata-rata 1,8 meter pada bulan pertama. Petani melaporkan adanya peningkatan rasa percaya diri karena mereka terlibat langsung dalam proses yang transparan dan berbasis data.
Selain meningkatkan produksi jagung, program ini juga diharapkan dapat menstimulasi sektor ekonomi lain. Misalnya, hasil panen jagung dapat diproses menjadi pakan ternak, bahan baku industri makanan ringan, atau bahkan diekspor ke pasar regional. Dengan menambah nilai tambah pada produk pertanian, desa dapat mengurangi ketergantungan pada komoditas tunggal dan memperluas jaringan pasar.
Pengurus BUMDes Muktisari, Ketua Yayasan Desa, Bapak Agus Santoso, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, petani, dan pihak swasta. “Kami melihat potensi besar pada lahan titisara yang selama ini kurang dimanfaatkan. Dengan menanam jagung hibrida, kami tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan pendapatan bagi warga,” ujar Agus dalam rapat koordinasi yang dihadiri perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis.
Di sisi lain, Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis memberikan dukungan berupa penyediaan pupuk organik bersertifikat serta pelatihan agronomi modern. Kepala Dinas Pertanian, Dr. Siti Nurhaliza, menambahkan, “Inisiatif BUMDes Muktisari menjadi contoh terbaik bagaimana desa dapat memanfaatkan sumber daya lokal untuk mencapai ketahanan pangan. Kami akan terus mendukung program serupa di wilayah lain.”
Secara ekonomi, BUMDes memperkirakan peningkatan pendapatan petani sebesar 30–40 persen dibandingkan musim tanam sebelumnya. Estimasi ini didasarkan pada data produktivitas jagung hibrida yang biasanya menghasilkan 8–10 ton per hektar, lebih tinggi dibandingkan varietas konvensional yang hanya mencapai 5–6 ton per hektar.
Program penanaman jagung hibrida di lahan titisara ini juga sejalan dengan kebijakan nasional tentang peningkatan ketahanan pangan melalui diversifikasi tanaman. Pemerintah pusat menargetkan peningkatan produksi jagung nasional sebesar 5 persen per tahun hingga 2030, dan inisiatif desa-desa seperti ini menjadi bagian penting dari pencapaian target tersebut.
Ke depan, BUMDes Muktisari berencana memperluas area tanam, menambah varietas jagung yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, serta mengembangkan unit pengolahan hasil panen untuk meningkatkan nilai jual. Pengembangan ini diharapkan dapat menciptakan rantai nilai yang lebih panjang, mulai dari penanaman hingga produk olahan akhir.
Dengan langkah konkret ini, BUMDes Muktisari tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan desa, tetapi juga memberikan contoh bagi wilayah lain di Jawa Barat untuk mengoptimalkan lahan marginal melalui teknologi pertanian modern. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur penting dalam upaya Indonesia mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan.











