Food Tech Talk UDB Surakarta: Sinergi Agribisnis & Teknologi Pangan Dorong Kedaulatan Pangan Nasional

Liana Ulrica

April 18, 2026

Food Tech Talk UDB Surakarta: Sinergi Agribisnis & Teknologi Pangan Dorong Kedaulatan Pangan Nasional
Food Tech Talk UDB Surakarta: Sinergi Agribisnis & Teknologi Pangan Dorong Kedaulatan Pangan Nasional

MA Darus Salam – 18 April 2026 | Di tengah dinamika ketahanan pangan global yang semakin kompleks, Universitas Duta Bangsa (UDB) Surakarta mempersembahkan sebuah forum diskusi yang menekankan kolaborasi lintas disiplin antara agribisnis dan teknologi pangan. Pada Rabu, 15 April 2024, Prodi Teknologi Rekayasa Pangan dan Agribisnis UDB bersama Himpunan Mahasiswa Agribisnis serta Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (HMP Terpang) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk Food Tech Talk di Ruang Teater kampus Nusukan, Surakarta. Acara ini tidak hanya menjadi wadah pertukaran teori, melainkan sarana konkret untuk mencari solusi inovatif yang dapat memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.

Food Tech Talk menarik perhatian sekitar seratus mahasiswa dari program studi Teknologi Rekayasa Pangan, Agribisnis, serta jurusan lain yang terkait. Antusiasme peserta tampak jelas sejak sesi pembukaan, ketika Ketua Panitia, Bimo Sefrianto, SP., M.Si, menjelaskan tujuan utama forum: membangun ekosistem yang mampu menghubungkan petani, pengolah, dan konsumen melalui pemanfaatan teknologi modern serta pendekatan bisnis yang berkelanjutan. Dukungan akademik datang dari Kaprodi Teknologi Rekayasa Pangan, Laela Nur Rokhmah, S.TP., M.Sc, dan Kaprodi Agribisnis, Rahmawati Setiyani, S.Hut., M.Sc, yang memastikan sinergi antar‑prodi menjadi landasan kuat bagi diskusi.

Pembicara utama, Marta Tirtorejo Wonogiri, pemilik Koperasi Usaha Bersama (KUB) di Wonogiri, bersama rekannya Edi Prayitno, mengangkat contoh konkret transformasi nilai tambah pada komoditas lokal. Mereka mengungkapkan bahwa singkong yang pada umumnya diperdagangkan dengan harga sekitar Rp 500 per kilogram dapat diolah menjadi Modified Cassava Flour (Mocaf) dengan nilai jual puluhan ribu rupiah per kilogram. Proses tersebut melibatkan teknologi pengeringan, penggilingan, serta kontrol kualitas yang ketat, menjadikan Mocaf sebagai bahan baku alternatif bagi industri makanan ringan, roti, dan produk gluten‑free. “Inovasi pengolahan membuka peluang baru bagi petani dan pengolah kecil untuk meningkatkan pendapatan,” ujar Edi Prayitno, sambil menekankan pentingnya dukungan kebijakan serta akses pembiayaan untuk skala produksi yang lebih luas.

Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si, Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS), menyoroti paradoks yang masih menghantui sektor pertanian Indonesia. Ia menjelaskan adanya kesenjangan struktural antara hulu (petani) dan hilir (industri pengolahan) yang memperlemah posisi tawar petani dalam rantai pasok. “Petani sering kali terjebak pada harga jual yang tidak stabil, sementara industri menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku berkualitas konsisten,” tegas Prof. Harisudin. Menurutnya, solusi tidak dapat dicapai hanya dengan meningkatkan produksi, melainkan harus melibatkan integrasi sistem logistik, standar mutu, serta mekanisme pemasaran yang transparan.

Retna Dewi Lestari, SP., M.Si, menambah perspektif dengan menekankan pentingnya sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia menggarisbawahi bahwa peningkatan produksi saja tidak otomatis meningkatkan nilai ekonomi bila tidak diiringi dengan pengembangan produk bernilai tambah, branding yang kuat, dan strategi pemasaran digital. “Kita perlu membangun rantai nilai yang berkelanjutan, di mana setiap aktor memiliki peran yang jelas dan saling menguatkan,” ujar Retna, sekaligus mengajak mahasiswa untuk berperan aktif sebagai agropreneur, bukan sekadar pencari kerja.

Diskusi kemudian beralih ke tema praktis mengenai cara mahasiswa dapat mengoptimalkan teknologi untuk memotong rantai distribusi tradisional. Beberapa contoh inovasi yang diangkat meliputi penggunaan platform e‑commerce lokal, aplikasi pelacakan pasokan berbasis blockchain, serta sistem pertanian presisi yang memanfaatkan sensor IoT untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan air. Ide-ide tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya operasional, mempercepat time‑to‑market, serta meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk pangan lokal.

  • Pengembangan produk inovatif berbasis bahan baku lokal (misalnya mocaf, tepung singkong organik).
  • Penerapan branding dan strategi digital marketing yang menonjolkan keunikan budaya dan keberlanjutan.
  • Kolaborasi dengan startup teknologi agritech untuk mengintegrasikan data produksi dan permintaan pasar.
  • Pembentukan jaringan distribusi langsung antara petani, pengolah, dan konsumen akhir melalui platform online.

Para peserta, terutama mahasiswa tingkat akhir, menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai skala produksi, regulasi pangan, serta peluang pendanaan. Diskusi dinamis ini menghasilkan beberapa rekomendasi aksi, antara lain pembentukan inkubator bisnis agritech di lingkungan kampus, penyusunan modul pelatihan bagi petani tentang proses pengolahan nilai tambah, serta penjalinan kemitraan dengan pemerintah daerah untuk mengakses fasilitas kredit mikro.

Food Tech Talk UDB Surakarta tidak hanya menegaskan pentingnya kolaborasi akademik, tetapi juga menggarisbawahi peran strategis perguruan tinggi dalam menciptakan ekosistem inovasi yang dapat menanggulangi tantangan kedaulatan pangan nasional. Dengan memadukan keahlian agribisnis, teknologi pangan, serta semangat kewirausahaan, acara ini membuka jalan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang mampu menghubungkan lahan pertanian tradisional dengan pasar modern yang menuntut kualitas, keamanan, dan keberlanjutan.

Kesimpulannya, sinergi antara agribisnis dan teknologi pangan yang dipamerkan dalam Food Tech Talk menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat menjadi katalisator transformasi sistem pangan. Jika didukung oleh kebijakan yang tepat, investasi pada riset‑pengembangan, serta kemitraan lintas sektor, potensi komoditas lokal seperti singkong dapat dioptimalkan menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus memperkuat kedaulatan pangan Indonesia untuk generasi mendatang.

Related Post