Mengatasi FOMO dengan Qana’ah: Perspektif Islam di Era Digital

Afta Rozan Rozan

April 16, 2026

Mengatasi FOMO dengan Qana'ah: Perspektif Islam di Era Digital
Mengatasi FOMO dengan Qana'ah: Perspektif Islam di Era Digital

MA Darus Salam – 16 April 2026 | Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin mengemuka seiring penetrasi teknologi digital dan media sosial yang tiada henti. Rasa takut tertinggal, kehilangan peluang, atau tidak mengikuti tren menjadi dorongan kuat bagi banyak orang untuk terus memantau aktivitas orang lain, baik dalam hal materi, karier, maupun gaya hidup. Di Indonesia, di mana mayoritas penduduk beragama Islam, fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi antidot bagi kecemasan modern.

Secara istilah, FOMO adalah perasaan cemas yang muncul ketika seseorang khawatir bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman atau kesempatan yang lebih baik. Perasaan ini memicu perilaku kompulsif, seperti memeriksa notifikasi berulang kali, membeli barang secara impulsif, atau terlibat dalam aktivitas yang tidak sesuai dengan kebutuhan pribadi. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa FOMO berhubungan erat dengan penurunan kepuasan hidup, peningkatan stres, bahkan gangguan tidur.

Dalam kerangka Islam, terdapat konsep yang berlawanan kuat dengan FOMO, yaitu qana’ah. Qana’ah dapat diartikan sebagai rasa cukup, kepuasan hati terhadap apa yang Allah berikan, serta tidak tergoda untuk selalu menginginkan lebih. Al-Qur’an menegaskan pentingnya qana’ah dalam beberapa ayat, antara lain: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah” (QS. Al-Hujurat: 15). Ayat ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketakwaan dan bukan pada pencarian materi yang tak berujung.

Perbandingan antara FOMO dan qana’ah dapat dilihat dari dua sisi: psikologis dan spiritual. FOMO menumbuhkan rasa tidak puas, perbandingan sosial yang terus-menerus, serta keinginan untuk mengejar apa yang tampak lebih baik di luar diri. Sebaliknya, qana’ah menumbuhkan rasa syukur, kepercayaan bahwa apa yang dimiliki sudah cukup, dan fokus pada peningkatan kualitas ibadah serta akhlak. Kedua sikap ini berlawanan, sehingga menginternalisasi qana’ah menjadi strategi efektif untuk menetralkan dampak negatif FOMO.

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diadopsi umat Islam untuk mengimplementasikan qana’ah dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai respons terhadap FOMO:

  • Menetapkan niat yang jelas: Sebelum mengakses media sosial, niatkan penggunaan waktu untuk memperoleh manfaat, bukan sekadar meniru orang lain.
  • Melakukan refleksi harian: Sisihkan waktu sesaat di akhir hari untuk mencatat hal-hal yang telah dicapai dan disyukuri, sehingga fokus beralih dari apa yang belum dimiliki ke apa yang sudah dimiliki.
  • Membatasi eksposur konten: Pilih sumber informasi yang edukatif dan hindari akun yang cenderung menampilkan gaya hidup berlebihan.
  • Mempraktikkan sedekah dan amal: Kegiatan berbagi meningkatkan rasa puas hati dan mengalihkan perhatian dari kebutuhan material semata.
  • Menguatkan ikatan keluarga dan komunitas: Interaksi langsung dengan orang terdekat memberikan rasa kepemilikan yang lebih otentik dibandingkan interaksi virtual.

Selain langkah-langkah individu, peran institusi keagamaan dan lembaga pendidikan juga krusial. Kajian tentang qana’ah dapat dimasukkan ke dalam kurikulum madrasah, ceramah Jumat, serta program konseling psikologis yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya diperlengkapi dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga dengan keterampilan emosional untuk mengelola tekanan sosial digital.

Penggunaan media sosial yang bijak tidak berarti menolak teknologi, melainkan menyesuaikannya dengan kerangka etika Islam. Misalnya, menghindari posting berlebihan yang bersifat pamer, serta menggunakan platform untuk menyebarkan konten positif, seperti kajian agama atau motivasi produktif. Praktik ini selaras dengan prinsip qana’ah, di mana kepuasan hati tidak bergantung pada validasi eksternal melainkan pada kedekatan dengan Sang Pencipta.

Kesimpulannya, FOMO merupakan tantangan psikologis yang nyata di era digital, namun Islam menawarkan solusi spiritual yang kuat melalui qana’ah. Dengan menumbuhkan rasa cukup, bersyukur, dan fokus pada nilai-nilai kekal, umat Muslim dapat mengurangi kecemasan berlebih, meningkatkan kualitas hidup, dan tetap produktif tanpa harus terjebak dalam lingkaran perbandingan yang tak berujung. Implementasi qana’ah tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dalam komunitas Muslim yang saling mendukung.

Related Post