Perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional di Jakarta: Jembatan Budaya Indonesia–Tiongkok yang Memikat

Afta Rozan Rozan

April 21, 2026

MA Darus Salam – Jakarta menyambut perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional dengan rangkaian acara yang digelar di Landmark Pluit, menyajikan pengalaman budaya Tiongkok yang memukau bagi ribuan pengunjung. Festival ini tidak sekadar menampilkan seni tradisional, melainkan juga menjadi platform dialog lintas budaya, memperkuat ikatan antara Indonesia dan Tiongkok melalui bahasa, seni, dan interaksi langsung.

Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Siping, menegaskan bahwa perayaan ini adalah upaya strategis untuk memperdalam pemahaman antarbangsa. “Kami ingin bahasa menjadi jembatan, bukan sekadar alat komunikasi. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat merasakan keindahan bahasa dan budaya Tiongkok secara langsung,” ujarnya dalam sambutan resmi yang membuka acara.

Kolaborasi dengan Institut Konfusius Universitas Al‑Azhar Indonesia menambah kedalaman program edukatif. Institut tersebut menyumbangkan lokakarya bahasa, kuliah singkat, serta sesi pertukaran budaya yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin sekaligus menumbuhkan rasa hormat terhadap warisan budaya Tiongkok. Para peserta, mulai dari pelajar hingga profesional, mendapatkan kesempatan belajar kaligrafi, cara menyeduh teh Gongfu, serta teknik membuat kipas tradisional.

Beragam pertunjukan seni menghidupkan suasana festival. Paduan suara berbahasa Mandarin membawakan lagu-lagu klasik, sementara ansambel musik tradisional mengisi panggung dengan erhu, guzheng, dan dizi. Penampilan tari Lion Dance yang megah menarik sorotan media dan menambah nuansa perayaan yang semarak. Tidak hanya hiburan, setiap pertunjukan juga diiringi penjelasan singkat mengenai makna simbolik dalam tradisi Tiongkok, sehingga penonton memperoleh wawasan lebih dalam.

Aktivitas interaktif menjadi magnet utama bagi keluarga. Anak‑anak dapat mencoba mengenakan hanfu, pakaian tradisional Tiongkok, sambil belajar cara menulis karakter Mandarin dengan kuas bambu. Stand pembuatan kipas mengajarkan teknik melipat dan menghias, sementara zona teh memberikan pengalaman menyeduh dan mencicipi teh pu‑erh yang otentik. Semua kegiatan dirancang untuk menumbuhkan rasa ingin tahu serta mengasah keterampilan kesabaran dan kreativitas.

Kehadiran delegasi resmi Kedutaan Besar Tiongkok menegaskan dukungan pemerintah terhadap program budaya. Mereka menyoroti pentingnya bahasa sebagai sarana diplomasi budaya, yang dapat memperluas jaringan kerjasama di bidang pendidikan, ekonomi, dan pariwisata. Selama acara, para pejabat menandatangani nota kesepahaman dengan institusi lokal untuk mengadakan program pertukaran mahasiswa dan pelatihan guru bahasa Mandarin.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas, dengan antrean panjang di setiap stan aktivitas. Banyak pengunjung yang mengungkapkan kepuasan mereka setelah berpartisipasi dalam sesi kaligrafi, mengaku bahwa menulis karakter Mandarin memberikan sensasi menenangkan sekaligus menantang. “Saya merasa lebih dekat dengan budaya Tiongkok setelah mencoba membuat kipas dan mencicipi teh,” kata salah satu peserta, seorang mahasiswa bahasa asing.

Acara ini juga menampilkan pameran foto yang menelusuri sejarah hubungan budaya antara Indonesia dan Tiongkok, mulai dari era perdagangan rempah hingga kolaborasi seni kontemporer. Pameran tersebut menekankan peran bahasa sebagai jembatan yang menghubungkan dua peradaban selama berabad‑abad.

Melalui sinergi antara Kedutaan Besar Tiongkok, Institut Konfusius, dan komunitas lokal, perayaan Hari Bahasa Mandarin Internasional di Jakarta berhasil menegaskan bahwa bahasa dapat menjadi landasan kuat dalam membangun persahabatan antarbangsa. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan keindahan bahasa dan budaya Tiongkok, tetapi juga membuka peluang kolaborasi masa depan di berbagai sektor.

Related Post