Ribuan Warga Dukuh Penggung Gelar Selametan Sedekah Bumi, Serbu Makam Mbah Surgi Suro Wencono

Afta Rozan Rozan

April 19, 2026

Ribuan Warga Dukuh Penggung Gelar Selametan Sedekah Bumi, Serbu Makam Mbah Surgi Suro Wencono
Ribuan Warga Dukuh Penggung Gelar Selametan Sedekah Bumi, Serbu Makam Mbah Surgi Suro Wencono

MA Darus Salam – Sabtu malam, 18 April 2026, menjadi saksi kebersamaan ribuan warga Dukuh Penggung, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, yang memadati area makam Mbah Surgi Suro Wencono untuk merayakan puncak Selametan Sedekah Bumi. Lebih dari tiga ribu dua ratus orang diperkirakan hadir, menjadikan acara ini salah satu pertemuan massal terbesar dalam kalender tradisional desa tersebut.

Pengurus makam, Noor Iksan, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran acara. “Atas nama pengurus makam Mbah Surgi Suro Wencono, kami sangat bersyukur sekali. Kurang lebih ada 3.200 warga Dukuh Penggung hadir dalam puncak selametan ini,” ujarnya dengan nada haru. Keterlibatan masyarakat yang begitu besar mencerminkan kedalaman rasa hormat terhadap leluhur serta komitmen menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun‑menurun.

Acara dimulai setelah salat maghrib, ketika warga membawa nasi berkat sebagai simbol harapan dan kesejahteraan. Uniknya, selain nasi, mereka juga menyerahkan uang sedekah yang telah dikumpulkan oleh panitia dan pengurus makam. Praktik ini menegaskan nilai gotong‑royong yang menjadi inti Selametan Sedekah Bumi, di mana setiap kontribusi kecil sekalipun dianggap sebagai sumbangan untuk kesejahteraan bersama.

Kepala Desa Ngagel, Suwardi, menyampaikan rasa terima kasih atas nikmat yang diberikan Allah SWT, mulai dari kesehatan, tanah subur, hingga kedamaian hidup. “Pada malam ini kita semua berkumpul, bersyukur, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, masyarakatnya diberikan tentrem ayem tidak ada musibah dan masalah,” harapnya, menambah nuansa spiritual yang menyelimuti seluruh rangkaian acara.

Setelah doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kiai Noor Iksan, simbol perdamaian ditunjukkan melalui pelepasan burung merpati putih. Merpati yang terbang bebas melambangkan cinta abadi, kesetiaan, kebebasan, dan harapan bagi seluruh warga. Momen ini menjadi titik puncak emosional, memperkuat ikatan antar‑warga sekaligus menegaskan pesan damai yang terkandung dalam tradisi Selametan Sedekah Bumi.

Usai doa, warga saling menukar nasi berkat, memperkuat jaringan sosial melalui jamuan sederhana. Banyak keluarga yang duduk bersama di sekitar makam, berbagi cerita, tawa, serta makanan khas daerah. Tradisi tukar nasi ini tidak hanya sekadar ritual, melainkan sarana mempererat solidaritas dan menumbuhkan rasa memiliki yang mendalam.

Menjelang malam, Suwardi mengingatkan masyarakat untuk merayakan karnaval yang akan digelar pada hari berikutnya dengan tetap mengedepankan kesederhanaan dan nilai tradisional. “Kita harus tetap menjaga kesederhanaan, tidak perlu mengedepankan kemewahan. Yang penting, semangat kebersamaan tetap terjaga,” ujarnya.

Berbagai kegiatan pendukung turut memperkaya suasana. Di antaranya adalah pertunjukan musik tradisional gamelan desa, tarian bersenjata yang meniru kisah kepahlawanan nenek moyang, serta stan makanan lokal yang menyajikan hidangan khas Pati. Semua elemen ini dirancang untuk menampilkan keunikan budaya Ngagel sekaligus mengajak generasi muda untuk lebih mencintai warisan mereka.

Secara statistik, kehadiran warga mencapai puncak tertinggi dalam lima tahun terakhir. Data yang dihimpun panitia menunjukkan peningkatan partisipasi sebesar 15% dibandingkan dengan acara serupa tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini dipandang sebagai indikator keberhasilan program revitalisasi budaya yang digencarkan oleh Pemerintah Desa bersama tokoh masyarakat.

Pengurus makam juga menegaskan bahwa hasil sedekah yang terkumpul akan disalurkan untuk pembangunan infrastruktur desa, termasuk perbaikan jalan desa, pengadaan sarana air bersih, serta penguatan fasilitas pendidikan. Dengan cara ini, nilai spiritual dari Sedekah Bumi diharapkan dapat bertransformasi menjadi manfaat material bagi seluruh warga.

Keseluruhan rangkaian acara berlangsung khidmat, tanpa insiden, dan menutup hari dengan rasa haru yang mendalam. Masyarakat berharap tradisi Selametan Sedekah Bumi dapat terus dipertahankan sebagai sarana memperkuat persatuan, menjaga kearifan lokal, serta menyalurkan rasa syukur kepada Sang Pencipta melalui perbuatan nyata.

Keberhasilan acara ini tidak lepas dari kerja keras panitia, dukungan tokoh agama, serta partisipasi aktif warga. Semua pihak sepakat untuk menjadikan Selametan Sedekah Bumi sebagai momentum tahunan yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi katalisator pembangunan berkelanjutan di Desa Ngagel.

Related Post