Amazon Genggam Globalstar dengan Akuisisi Rp181 Triliun, Langkah Besar Menuju Dominasi Satelit Internet

Liana Ulrica

April 16, 2026

Amazon Genggam Globalstar dengan Akuisisi Rp181 Triliun, Langkah Besar Menuju Dominasi Satelit Internet
Amazon Genggam Globalstar dengan Akuisisi Rp181 Triliun, Langkah Besar Menuju Dominasi Satelit Internet

MA Darus Salam – 16 April 2026 | Raksasa e‑commerce Amazon resmi mengumumkan rencana akuisisi perusahaan satelit Globalstar senilai US$11,57 miliar atau setara dengan Rp181 triliun. Transaksi ini menandai babak baru dalam strategi Amazon untuk menantang dominasi SpaceX di pasar internet satelit. Dengan menggabungkan armada satelit, infrastruktur, serta lisensi spektrum frekuensi Globalstar, Amazon berharap dapat mempercepat peluncuran layanan internet berkecepatan tinggi yang diharapkan akan tersedia secara komersial pada tahun 2028.

Langkah akuisisi tersebut merupakan pilar utama dalam pengembangan Project Kuiper, inisiatif Amazon yang bertujuan menyediakan konektivitas global melalui jaringan satelit LEO (Low Earth Orbit). Alih‑alih harus membangun seluruh konstelasi satelit dari nol, Amazon kini dapat memanfaatkan aset Globalstar yang sudah beroperasi, termasuk lebih dari 20 satelit aktif serta jaringan ground station yang tersebar di seluruh dunia. Integrasi ini diperkirakan akan mengurangi waktu pengembangan yang biasanya memakan belasan tahun.

Strategi baru Amazon menitikberatkan pada teknologi direct‑to‑device, yang memungkinkan perangkat genggam seperti smartphone atau smartwatch terhubung langsung ke satelit tanpa memerlukan terminal darat yang kompleks. Konsep ini diharapkan akan membuka pasar konsumen massal, khususnya di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan serat optik atau menara seluler konvensional. Dengan spektrum frekuensi milik Globalstar, Amazon dapat menawarkan transmisi data yang lebih stabil dan jangkauan yang lebih luas.

  • Target peluncuran komersial: 2028
  • Nilai akuisisi: US$11,57 miliar (Rp181 triliun)
  • Jumlah satelit Globalstar yang akan diintegrasikan: lebih dari 20 unit
  • Fokus layanan: daerah pedesaan, laut, hutan, serta instansi pemerintah

Kerjasama strategis dengan Apple menjadi elemen penting dalam ekosistem ini. Apple sejak 2024 telah mengamankan 20 % saham Globalstar untuk mendukung fitur Emergency SOS via satelit pada iPhone dan Apple Watch. Dengan Amazon kini menjadi pemilik utama Globalstar, kedua perusahaan diprediksi akan memperkuat kontrak jangka panjang, memastikan layanan darurat tetap beroperasi di jaringan Amazon. Hal ini membuka peluang bundling layanan, misalnya pelanggan Amazon Prime yang mendapatkan akses internet satelit eksklusif melalui perangkat Apple.

Meski ambisi Amazon mengesankan, perusahaan masih tertinggal jauh di belakang Starlink milik SpaceX. Starlink telah meluncurkan lebih dari 10.000 satelit dan melayani lebih dari 9 juta pengguna di lebih dari 40 negara. Sebaliknya, Amazon baru mengoperasikan sekitar 240 satelit dalam fase uji coba Kuiper. Untuk mempercepat peluncuran, Amazon menandatangani kontrak dengan United Launch Alliance (ULA) dan bahkan menyewa layanan peluncuran SpaceX, pesaing utama, guna mengirimkan satelit Kuiper ke orbit. Keputusan ini menegaskan betapa pentingnya kecepatan dalam merebut pangsa pasar yang semakin kompetitif.

Model bisnis Amazon menekankan pada terminal berbentuk persegi yang diklaim memiliki latensi rendah serta kecepatan tinggi. Produk ini dirancang untuk konsumen individual, korporasi, serta lembaga pemerintah yang memerlukan konektivitas stabil di lokasi terpencil, seperti kapal laut, pesawat, atau daerah hutan. Dengan modal finansial yang melimpah, Amazon diperkirakan dapat terus berinovasi, meningkatkan kapasitas produksi satelit, serta mengoptimalkan jaringan ground station untuk menyaingi Starlink pada akhir dekade ini.

Namun, tantangan utama tetap pada skala produksi dan peluncuran satelit. Mengingat biaya tinggi dan kompleksitas teknis, Amazon harus memastikan bahwa integrasi Globalstar tidak menimbulkan hambatan regulasi maupun operasional. Selain itu, persaingan spektrum frekuensi dengan regulator internasional dapat mempengaruhi kecepatan ekspansi layanan.

Keberhasilan strategi satelit internet Amazon akan sangat ditentukan pada kemampuan perusahaan mengelola rantai pasok satelit, mempercepat proses peluncuran, serta menjalin kemitraan strategis yang memperkuat ekosistem layanan. Jika semua faktor berjalan lancar, akuisisi Globalstar dapat menjadi katalisator bagi Amazon untuk menembus pasar internet satelit global, menawarkan alternatif kompetitif bagi Starlink, dan pada akhirnya memperluas akses digital bagi jutaan orang yang belum terhubung.

Kesimpulannya, akuisisi Globalstar senilai Rp181 triliun menandai langkah agresif Amazon dalam perang teknologi ruang angkasa. Dengan menggabungkan aset satelit, spektrum frekuensi, serta kolaborasi dengan Apple, Amazon menyiapkan diri untuk meluncurkan layanan internet satelit yang lebih terjangkau dan mudah diakses. Keberhasilan upaya ini akan tergantung pada kecepatan skalabilitas produksi, kemampuan peluncuran, dan adaptasi regulasi. Jika berhasil, konsumen global akan menikmati pilihan internet yang lebih beragam, kompetitif, serta dapat menghubungkan daerah‑daerah paling terpencil di dunia.

Related Post