MA Darus Salam – 17 April 2026 | Asa Dian Nurdianto, pria berusia lima puluh tahun yang selama ini mengemban profesi penarik sampah di lingkungan Cikadu, RT 19 RW 08, Kelurian Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat, masih memendam tekad kuat untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Meskipun panggilan haji yang ia harapkan pada tahun ini harus ditunda akibat kebijakan penyesuaian masa tunggu yang baru diberlakukan, semangatnya tak surut.
Bergerak sejak pagi buta, Asa mengumpulkan sampah rumah‑rumah warga, mengantarkannya ke TPS, dan sekaligus berjuang menyeimbangkan kehidupan ekonomi yang belum menentu. Pekerjaan keras ini tidak menghalangi ia untuk terus berdoa dan menyiapkan diri secara spiritual. “Setiap kali menjemput sampah, saya selalu mengingat tujuan hidup yang lebih besar, yakni menunaikan haji,” ujar Asa dalam percakapan singkat di pinggir jalan.
Namun, kebijakan terbaru Kementerian Agama tentang penyesuaian masa tunggu haji menimbulkan kekecewaan. Kebijakan tersebut memperpanjang periode menunggu bagi calon jamaah yang belum mendapat kuota, sebagai respons atas peningkatan permintaan dan keterbatasan kapasitas. Asa, yang telah mendaftar pada tahun sebelumnya, kini harus menunggu lebih lama dari yang diperkirakan.
- Usia calon haji: 45‑55 tahun (kebanyakan pria)
- Rata‑rata masa tunggu: 3 tahun
- Kota dengan penundaan tertinggi: Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Banjar
Meski situasi menantang, Asa tidak menyerah. Ia memanfaatkan waktu menunggu untuk meningkatkan pengetahuan agama, mengikuti kajian online, serta memperdalam pemahaman tentang tata cara haji. “Saya tidak mau menunggu menjadi sia‑sia. Setiap hari saya belajar, membaca Al‑Qur’an, dan menyiapkan fisik serta mental,” kata Asa.
Komunitas setempat pun turut memberikan dukungan moral. Beberapa tokoh agama di Banjar mengadakan ceramah khusus untuk calon jamaah haji, termasuk Asa, dengan harapan dapat memperkuat kesiapan spiritual mereka. Selain itu, warga sekitar sering mengirimkan doa melalui media sosial, menandakan solidaritas yang kuat dalam menghadapi penundaan.
Di sisi lain, tantangan ekonomi tetap menjadi hambatan utama. Penghasilan Asa dari pekerjaan penarik sampah masih belum cukup untuk menutupi biaya persiapan tambahan, seperti pelatihan, pemeriksaan medis, dan tabungan tambahan yang diperlukan selama masa tunggu. Meski demikian, ia tetap berkomitmen menabung secara disiplin, memotong pengeluaran tidak penting, dan mengandalkan bantuan sedikit dari keluarga.
Para pengamat sosial menilai bahwa kasus Asa mencerminkan realitas banyak warga kelas menengah ke bawah yang bermimpi menunaikan haji namun terhalang oleh faktor administratif dan ekonomi. “Penyesuaian masa tunggu memang diperlukan untuk mengatur alur jamaah, namun pemerintah harus memperhatikan keseimbangan antara kuota dan kemampuan finansial calon haji, terutama di daerah‑daerah dengan pendapatan rendah,” ujar seorang pakar kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran.
Untuk mengurangi beban, beberapa Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Jawa Barat menawarkan program beasiswa haji bagi yang kurang mampu. Asa menyatakan ketertarikannya untuk mendaftar pada program tersebut, berharap dapat mempercepat proses persiapannya.
Secara spiritual, Asa menegaskan bahwa menunggu bukan sekadar menunda, melainkan proses penyucian diri. “Setiap penundaan mengajarkan kesabaran. Saya percaya Allah akan memberikan panggilan pada waktunya, dan saya akan siap,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Dengan harapan yang terus menyala, Asa Dian Nurdianto tetap menapaki hari‑hari penuh tantangan sambil menyiapkan diri untuk panggilan haji yang diidam‑idamkan. Meskipun masa tunggu kini lebih panjang, tekadnya untuk menunaikan ibadah suci ke Baitullah tetap tidak tergoyahkan.
Kesimpulannya, kisah Asa menyoroti pentingnya dukungan sosial, kebijakan yang adil, serta kesabaran individu dalam menghadapi penundaan haji. Semoga kebijakan ke depan dapat menyeimbangkan antara kebutuhan kuota dan kesejahteraan calon jamaah, sehingga lebih banyak Asa di seluruh Indonesia dapat menggapai impian menunaikan ibadah haji dengan mudah.


