MA Darus Salam – 17 April 2026 | Seorang pembawa acara turnamen esports ternama, Zhazha, kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah menanggapi serangkaian hujatan tentang pilihan pakaiannya dengan aksi satir yang menggegerkan komunitas game. Kejadian ini terjadi pada siaran langsung kompetisi Naraka: Bladepoint Pro League (NBPL) musim semi 2026, di mana Zhazha sempat tampil dengan rok pendek berwarna hitam‑putih. Penampilan yang dianggap modis malah memicu gelombang komentar negatif yang menuduhnya menampilkan pakaian terlalu terbuka untuk audiens beragam.
Beberapa netizen mengkritik keras penampilan Zhazha, menyebut bahwa seorang host seharusnya menjaga standar berpakaian yang lebih konservatif, terutama mengingat penonton dari segala usia. Tuduhan‑tuduhan tersebut tidak hanya menyoroti pilihan busana, melainkan juga menyinggung motivasi komersial, menganggap bahwa Zhazha sengaja memanfaatkan penampilan fisik untuk meningkatkan popularitas atau menarik pemirsa pria. Kritik ini menimbulkan perdebatan lebih luas mengenai beban ganda yang dihadapi wanita di industri hiburan digital.
Menanggapi sorotan tersebut, Zhazha pertama‑tama mengeluarkan pernyataan klarifikasi melalui akun media sosialnya. Ia menegaskan bahwa keputusan memakai rok pendek adalah pilihan pribadi yang didasarkan pada estetika visual, bukan arahan dari penyelenggara turnamen. Meskipun klarifikasi ini berusaha meredam ketegangan, komentar‑komentar sinis tetap berlanjut, menandakan bahwa masalah bukan sekadar pakaian melainkan persepsi mendalam tentang gender dan profesionalisme.
Tak lama kemudian, Zhazha mengambil langkah yang lebih dramatis. Pada siaran berikutnya, ia muncul kembali dengan kostum serba hitam yang menutupi seluruh tubuh, mulai dari leher hingga ujung kaki. Lebih mengejutkan lagi, ia melukis wajah dan kulit yang terlihat dengan cat hitam pekat, menciptakan penampilan menyerupai siluet bayangan tanpa identitas visual. Tindakan ini ia jabarkan sebagai sindiran tajam terhadap para netizen yang mempermasalahkan sekadar sepotong kulit yang terlihat pada penampilan sebelumnya.
Reaksi publik terbagi. Sebagian besar komunitas gaming internasional memuji kreativitas dan keberanian Zhazha dalam melawan bullying daring. Mereka menilai aksi tersebut berhasil mengalihkan narasi dari penampilan fisik ke isu kebebasan berekspresi, sekaligus menyoroti absurditas tuntutan visual yang dikenakan pada perempuan di panggung esports. Di sisi lain, sejumlah kecil netizen mengangkat kekhawatiran tentang penggunaan warna hitam pada wajah, yang dalam beberapa budaya dapat menimbulkan konotasi sensitif. Namun, mayoritas mendukung Zhazha, menegaskan bahwa konteks aksi adalah protes terhadap pembatasan pribadi, bukan penghinaan budaya.
Kasus ini membuka kembali diskusi tentang fenomena male gaze dalam dunia game profesional. Host pria sering kali dapat tampil santai tanpa harus menjawab pertanyaan kritis mengenai pakaian, sementara host wanita harus menavigasi antara ekspektasi estetika dan kredibilitas profesional. Zhazha, yang dikenal memiliki kemampuan presentasi dinamis dan pemahaman mendalam tentang estetika Naraka: Bladepoint, kini harus menambah beban mental untuk melawan stereotip seksis yang mengintai di balik komentar anonim.
- Penampilan satir Zhazha menegaskan pentingnya hak individu dalam memilih busana tanpa tekanan eksternal.
- Insiden ini menyoroti perlunya kebijakan yang melindungi pembawa acara wanita dari komentar seksis.
- Komunitas esports diharapkan dapat mengadopsi standar etika yang menilai profesionalisme berdasarkan kompetensi, bukan penampilan.
Hingga kini, cuplikan video dan foto Zhazha dalam balutan kostum hitam terus menyebar di platform seperti X dan Reddit. Banyak yang berharap peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi industri esports global untuk lebih menghargai kebebasan berekspresi dan mengurangi pola komentar yang menyinggung. Pada akhirnya, aksi Zhazha menegaskan bahwa suara perempuan di dunia gaming tidak boleh dibungkam oleh kritik tak beralasan, melainkan harus didukung melalui lingkungan yang inklusif dan menghormati pilihan pribadi setiap individu.











