MA Darus Salam – Irma Susanti, yang lebih dikenal dengan nama dagang Irma Identix, terus menghidupkan semangat R.A. Kartini di era digital. Lahir di Pati pada 17 Februari 1989, ia kini menempuh studi Doktoral di LSPR dengan fokus pada Komunikasi dan Leadership. Perjalanan hidupnya menorehkan contoh nyata bagaimana identitas perempuan dapat menjadi kekuatan utama dalam memajukan bangsa.
Setelah menapaki karier mapan di sektor perbankan dan otomotif, Irma memutuskan untuk “banting setir” dan mendirikan PT Identix Pratama Indonesia pada tahun 2017. Nama Identix terinspirasi dari konsep identitas unik, mencerminkan visi bisnis yang mengedepankan ciri khas lokal. Di mata Irma, batik tulis bukan sekadar kain, melainkan manifestasi budaya yang tidak dapat diduplikasi.
Keberanian itu membawa Irma ke panggung internasional. Karya batiknya ditampilkan pada ajang bergengsi seperti Paris Fashion Week dan New York Fashion, memperkenalkan kearifan lokal Indonesia kepada dunia. “Ketahanan sebuah negara ada di budaya bangsanya. Ketika kita sudah tidak berbudaya, maka penjajah akan mudah kembali,” tegasnya, menegaskan pentingnya pelestarian budaya sebagai benteng kedaulatan.
Selain batik, Irma membangun ekosistem bisnis yang merambah ke berbagai sektor strategis:
- PT Identix Kopi Nusantara – mengangkat kualitas petani kopi lokal hingga menembus pasar ekspor.
- PT Identix Wisata Indonesia – mempromosikan destinasi terpencil serta mengembangkan konsep halal travel berkolaborasi dengan Uni Emirat Arab.
- PT Identix Energy Nusantara – beroperasi di sektor pengangkutan dan penjualan batu bara.
- Yayasan Identix Bakti Nusantara – fokus pada pendidikan dan program sosial bagi masyarakat.
Pencapaian Irma telah diakui dengan berbagai penghargaan, termasuk Entrepreneur Executive of The Year (2021) dan Indonesian Woman of The Year (2018). Namun, menurutnya, ukuran kesuksesan bukan sekadar angka, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain.
“Sejatinya hidup seperti matahari, yang selalu memberikan sinar kepada seluruh makhluk di alam semesta. Sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat buat umat lainnya,” ujar Irma, lulusan Magister Manajemen Undip, yang juga menekankan pentingnya kerendahan hati dalam setiap langkah.
Peran aktifnya dalam organisasi memperkuat misi sosialnya. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Pembina HIPMI Jawa Tengah, Ketua Umum APJI Kota Semarang, dan rutin berkunjung ke pesantren-pesantren untuk menularkan semangat “Santri‑preneurship” berbasis ekonomi digital. Melalui kegiatan tersebut, Irma menanamkan nilai kewirausahaan yang berlandaskan etika, moral, dan kejujuran.
Menjelang peringatan Hari Kartini, Irma menekankan bahwa tantangan perempuan masa kini bukan lagi soal akses ke pendidikan, melainkan kemampuan menjadi mandiri secara finansial dan berpikir terbuka. “Perempuan harus terus meng‑upgrade diri melalui pendidikan formal maupun informal, termasuk literasi digital dan sekolah alam,” pesannya kepada generasi muda.
Ia menegaskan bahwa ketangguhan tidak berarti meninggalkan akar budaya. Etika, moral, dan sikap tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kepemimpinan masa depan. Bagi Irma, perempuan cerdas adalah mereka yang mampu melahirkan pemimpin tanpa mengorbankan kehormatan budaya.
Saat ini, Irma sedang menyiapkan buku ketiganya yang dijadwalkan terbit pada akhir 2026. Buku tersebut akan mengupas strategi membangun usaha tanpa modal, merangkum satu dekade pengalaman di dunia bisnis. Rencana tersebut menjadi bukti komitmen berkelanjutan dalam berbagi pengetahuan.
Dari Desa Boto Jaken, Pati, hingga panggung internasional, Irma Identix menjadi representasi Kartini modern: mandiri, berbudaya, dan selalu menyisakan ruang untuk doa tulus. Seperti yang selalu ia pegang, “Hanya sedikit hal yang lebih ampuh daripada doa tulus seorang ibu.”
