Kontroversi Steven Wongso: Mengungkap Kronologi Hina Orang Gemuk dan Pedagang Martabak yang Mengguncang Media Sosial

Liana Ulrica

April 17, 2026

Kontroversi Steven Wongso: Mengungkap Kronologi Hina Orang Gemuk dan Pedagang Martabak yang Mengguncang Media Sosial
Kontroversi Steven Wongso: Mengungkap Kronologi Hina Orang Gemuk dan Pedagang Martabak yang Mengguncang Media Sosial

MA Darus Salam – 17 April 2026 | Sejumlah video kontroversial yang menampilkan kreator konten Steven Wongso menyulut kemarahan publik setelah ia melontarkan hinaan terhadap orang gemuk serta pedagang martabak. Pernyataan yang dianggap kasar dan tidak berempati itu cepat menyebar di berbagai platform media sosial, memicu perdebatan sengit tentang batas kebebasan berpendapat, etika berkomunikasi, serta tanggung jawab publik figur dalam menyampaikan motivasi kesehatan.

Berawal dari unggahan video yang diposting pada awal April 2026, Steven Wongso, seorang pembuat konten yang dikenal dengan gaya motivasi fitness, menyinggung dua kelompok secara bersamaan. Ia menyebut orang gemuk sebagai “pemborosan sumber daya tubuh” dan mengkritik pedagang martabak yang, menurutnya, menurunkan standar kuliner sehat. Kalimat-kalimat tersebut dibarengi dengan nada yang menyinggung, sehingga menimbulkan reaksi keras dari netizen.

Reaksi publik muncul dalam hitungan menit. Komentar-komentar di kolom video dipenuhi dengan kecaman, sindiran, hingga ancaman hukuman sosial. Banyak pengguna media sosial menilai bahwa pernyataan Wongong melampaui batas wajar dalam memberikan motivasi kesehatan, bahkan menyebutnya sebagai bentuk diskriminasi terhadap orang berukuran badan tertentu dan pelaku usaha kecil.

Berikut kronologi lengkap peristiwa yang terjadi:

  • 1 April 2026 – Video pertama yang menampilkan Steven Wongso diunggah di platform X (Twitter) dan TikTok. Dalam video berdurasi tiga menit, ia mengkritik gaya hidup orang gemuk dan menyindir pedagang martabak yang menjual makanan berlemak tinggi.
  • 2 April 2026 – Video tersebut mulai viral, dengan lebih dari satu juta tayangan dalam 24 jam. Hashtag #StevenWongso dan #HinaOrangGemuk trending di Twitter Indonesia.
  • 3 April 2026 – Netizen mulai mengorganisir aksi digital dengan membuat meme, video respon, serta menandai akun Wongso dalam postingan kritis.
  • 4 April 2026 – Beberapa aktivis hak asasi manusia dan organisasi konsumen mengeluarkan pernyataan resmi, menuntut permintaan maaf publik dan menekankan pentingnya menghormati keberagaman tubuh serta usaha kecil.
  • 5 April 2026 – Steven Wongso mengeluarkan klarifikasi singkat melalui Instagram Stories, mengaku tidak bermaksud menyinggung dan meminta maaf atas “kata-kata yang terkesan keras”. Klarifikasi tersebut dianggap tidak memuaskan banyak pihak karena tidak ada penarikan kembali pernyataan asli.
  • 6 April 2026 – Beberapa platform media sosial menandai video tersebut sebagai konten yang melanggar kebijakan kebencian, namun tidak menghapusnya karena tidak masuk dalam definisi eksplisit kebencian rasial atau agama.
  • 7 April 2026 – Pedagang martabak yang disebut dalam video mengajukan laporan ke polisi atas pencemaran nama baik. Kasus ini kemudian dilaporkan ke Divisi Hukum Siber.
  • 8 April 2026 – Pengacara hak konsumen menilai pernyataan Wongso dapat masuk dalam kategori pencemaran nama baik, dengan potensi denda administratif.

Analisis ahli komunikasi menggarisbawahi bahwa fenomena ini mencerminkan tren meningkatnya sensivitas publik terhadap ujaran yang menyinggung kelompok tertentu. Menurut Dr. Rina Susanti, pakar sosiologi media, “Kita hidup di era di mana setiap kata yang diucapkan oleh figur publik dapat disebarkan secara masif dalam hitungan detik. Oleh karena itu, tanggung jawab moral dan hukum menjadi semakin penting”.

Di sisi lain, pendukung Steven Wongso berargumen bahwa ia berhak atas kebebasan berpendapat, dan bahwa kritikannya ditujukan pada pola hidup yang dianggap tidak sehat, bukan pada identitas pribadi. Mereka menilai reaksi publik sebagai bentuk intoleransi terhadap pandangan kontroversial.

Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang peran regulator media sosial dalam menangani konten yang menyinggung namun tidak jelas melanggar kebijakan kebencian. Beberapa pakar hukum digital menilai bahwa regulasi saat ini masih belum cukup fleksibel untuk menilai konteks sosial dan budaya secara mendalam.

Pihak berwenang, termasuk kepolisian Jakarta Selatan, menyatakan bahwa mereka akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait laporan pencemaran nama baik terhadap pedagang martabak. Hingga kini, belum ada keputusan final tentang apakah Steven Wongso akan dikenai sanksi pidana atau administratif.

Kasus ini juga menimbulkan diskusi luas di kalangan aktivis kesehatan tentang cara menyampaikan pesan motivasi tanpa menstigma individu atau kelompok. Praktisi kesehatan menekankan pentingnya pendekatan inklusif yang mempromosikan gaya hidup sehat tanpa menghakimi tubuh tertentu.

Seiring berjalannya waktu, dampak reputasi Steven Wongso mulai terasa. Beberapa brand sponsor mengumumkan peninjauan kembali kontrak kerja sama, sementara jumlah pengikut di media sosialnya mengalami penurunan signifikan. Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana kontroversi digital dapat memengaruhi karier dan peluang komersial seorang influencer.

Kesimpulannya, kasus Steven Wongso menyoroti ketegangan antara kebebasan berekspresi, etika komunikasi publik, dan tanggung jawab sosial di era digital. Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kreator konten, pihak regulator, serta masyarakat luas untuk lebih bijak dalam menyampaikan kritik, serta lebih kritis dalam menanggapi konten yang berpotensi menyinggung.

Related Post