MA Darus Salam – 16 April 2026 | Makassar, 14 April 2026 – Pada Senin (13/04/2026) Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan menjadi tuan rumah Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix, termasuk perwakilan kepolisian, dinas terkait, dunia akademik, serta komunitas ojek online. Acara ini menegaskan perlunya pergeseran paradigma dari responsif ke preventif berbasis data untuk menurunkan angka kecelakaan dan fatalitas di wilayah tersebut.
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, memaparkan data Triwulan I 2026 yang menunjukkan nilai santunan di Sulawesi Selatan meningkat 11,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah kecelakaan lalu lintas naik sekitar 8%, menembus lebih dari 2.000 kasus. Secara nasional, data IRSMS Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban tiap tahun, menandakan tren peningkatan yang konsisten.
Awaluddin menekankan bahwa peran Jasa Raharja tidak hanya sebatas penyaluran santunan, melainkan juga bagian integral dari ekosistem pencegahan. Langkah‑langkah yang diambil meliputi pemetaan titik rawan (blackspot), edukasi tersegmentasi, dan peningkatan kapasitas respons pertama di lapangan. “Kecelakaan bukan sekadar kehilangan nyawa, melainkan menjerat keluarga produktif dalam krisis sosial‑ekonomi,” ujarnya.
Dirlantas Polda Sulsel, Kombes Pol. Pria Budi, menambahkan bahwa meskipun total kecelakaan naik 8%, angka fatalitas berhasil ditekan 24% dari 234 jiwa pada Triwulan I 2025 menjadi 179 jiwa pada periode yang sama tahun 2026. Dari total kecelakaan, 74% merupakan kecelakaan tunggal dan 78% melibatkan sepeda motor. Waktu rawan terjadi antara pukul 15.00–18.00 WITA, umumnya dalam kondisi cuaca cerah dan jalan baik.
Polda Sulsel juga mengungkapkan hasil pemetaan titik rawan, dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Penegakan hukum didukung oleh 89 unit ETLE, terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.
- Data kecelakaan Triwulan I 2026: >2.000 kasus
- Penurunan fatalitas: 24% (234 → 179 jiwa)
- Proporsi kecelakaan tunggal: 74%
- Kendaraan terlibat: 78% sepeda motor
- Waktu puncak: 15.00–18.00 WITA
Forum menghasilkan beberapa kesepakatan strategis, antara lain:
- Penguatan edukasi interaktif keselamatan di titik rawan.
- Perluasan program E-PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota Sulawesi Selatan.
- Integrasi SIM‑RS dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan Guarantee Letter (GL) bagi korban.
- Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder.
Dari sisi infrastruktur, Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan merencanakan pemeliharaan dan peningkatan jalan sepanjang 1.000 km pada periode 2025‑2027. Sementara Dinas Perhubungan berkomitmen menambah koridor angkutan umum dari dua menjadi tiga koridor, memperluas akses transportasi publik yang lebih aman.
Jasa Raharja menilai kolaborasi multi‑pemangku kepentingan ini krusial untuk menyusun peta jalan keselamatan transportasi yang berbasis data lokal. Penanganan awal yang cepat, terutama dalam “golden period” setelah kecelakaan, dianggap kunci meningkatkan peluang korban bertahan hidup.
Dengan pendekatan Penta Helix yang melibatkan kepolisian, pemerintah daerah, institusi pendidikan, sektor kesehatan, serta komunitas pengguna transportasi, diharapkan upaya pencegahan dapat menurunkan angka kecelakaan secara signifikan. Integrasi teknologi, edukasi yang tepat sasaran, dan peningkatan respons pertama menjadi landasan utama strategi baru ini.
Kesimpulannya, sinergi antara Jasa Raharja, aparat penegak hukum, dan berbagai lembaga terkait menunjukkan komitmen bersama untuk menjadikan transportasi di Sulawesi Selatan lebih aman. Upaya preventif berbasis data, edukasi interaktif, serta peningkatan infrastruktur diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan dan mengurangi dampak sosial‑ekonomi bagi masyarakat setempat.











