MA Darus Salam – 17 April 2026 | Film Ustaad Bhagat Singh yang dibintangi Pawan Kalyan kembali menancapkan diri di layar lebar Indonesia dengan janji aksi‑komedi yang mengusung skala besar. Disutradarai oleh Harish Shankar, karya ini menampilkan Sreeleela dan Raashii Khanna sebagai pemeran pendukung, serta R. Parthiban mengisi peran antagonis. Meskipun dibalut dengan ekspektasi tinggi, film ini ternyata menampilkan kontras tajam antara aksi yang memukau dan eksekusi naratif yang kurang memuaskan.
Berawal dari kisah seorang anak yang sejak kecil dijuluki “Ustaad Bhagat Singh” karena keberaniannya, plot berkembang menjadi perjalanan seorang pria dewasa yang menjabat sebagai penjaga hutan. Konflik utama muncul ketika sang guru, kini menjabat sebagai kepala menteri, menjadi target pembunuhan. Bhagat kemudian terlibat dalam misi berbahaya untuk menghentikan rencana jahat sekaligus menuntut balas dendam. Alur cerita yang seharusnya menegangkan justru terasa klise dan mudah ditebak, membuat penonton harus menahan diri untuk tidak melompat ke akhir cerita.
Dari segi visual, film ini menyajikan rangkaian adegan aksi yang cukup megah. Kecepatan pengambilan gambar, penggunaan efek khusus, serta koreografi pertarungan memberikan kesan sinematik yang dapat menghibur penonton yang menginginkan sensasi adrenalin. Namun, kelebihan tersebut tidak cukup menutupi kelemahan pada narasi. Alur yang lambat, dialog yang kadang terkesan ketinggalan zaman, serta penempatan tempo yang tidak konsisten menjadikan durasi film terasa melelahkan, terutama pada bagian tengah yang penuh dengan filler.
Pawan Kalyan, sebagai magnet utama film, tetap berhasil menyuguhkan momen-momen karismatik. Gaya khasnya, baik dalam dialog punchline maupun gerakan tubuh, berhasil mencuri perhatian penonton. Pada segmen komedi, terutama ketika Bhagat berinteraksi dengan penduduk desa atau menanggapi situasi absurd, penonton dapat menikmati tawa yang alami. Musik latar yang disusun untuk mengiringi adegan-adegan penting juga memberikan dorongan emosional, meskipun kadang terasa berulang.
Peran pendukung Sreeleela dan Raashii Khanna sayangnya tidak mendapat porsi yang memadai. Kedua aktris tersebut tampak hanya muncul sebagai hiasan visual, tanpa kontribusi signifikan terhadap perkembangan cerita. Karakter mereka tidak diberikan ruang untuk berkembang, sehingga penonton sulit merasakan ikatan emosional dengan mereka. Di sisi lain, antagonis yang diperankan R. Parthiban menampilkan performa yang solid, memberi tantangan yang cukup bagi Bhagat. Meskipun begitu, kekuatan akting R. Parthiban tidak dapat sepenuhnya menebus kekurangan skenario.
Teknis produksi film ini menampilkan campuran kualitas. Editing terkadang terasa terputus-putus, terutama pada transisi antara adegan aksi cepat dan adegan dramatis yang lebih lambat. Skenario, yang menjadi tulang punggung sebuah film, tampak kurang dirapikan; banyak dialog yang terasa dipaksakan dan plot twist yang tidak memiliki dasar kuat. Di samping itu, pemilihan lokasi syuting yang megah tidak selalu dimanfaatkan secara maksimal, karena penempatan kamera yang kurang variatif mengurangi potensi visual yang sebenarnya dapat dihadirkan.
Jika dilihat dari sudut pandang penonton umum, Ustaad Bhagat Singh mungkin akan memberikan hiburan ringan berkat kehadiran Pawan Kalyan. Namun, bagi penikmat film yang menuntut kedalaman cerita, karakter yang terstruktur, serta alur yang menantang, film ini akan terasa kurang memuaskan. Penggemar setia sang bintang tentu akan menemukan alasan untuk menonton, terutama pada bagian aksi yang dibalut dengan humor khas.
Secara keseluruhan, film ini menegaskan bahwa popularitas seorang bintang tidak selalu dapat menutupi kekurangan pada aspek penulisan dan penyuntingan. Ustaad Bhagat Singh berhasil menciptakan momen aksi yang mengesankan, namun eksekusi keseluruhan yang kurang maksimal membuat film ini berada di posisi menengah. Penonton disarankan untuk menyesuaikan ekspektasi, menikmati film ini sebagai hiburan semata, bukan sebagai karya sinematik yang inovatif.











