MA Darus Salam – 16 April 2026 | Pada akhir pekan pertama April 2026, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pati menyebabkan atap beberapa ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mencon, Kecamatan Pucakwangi, runtuh. Kerusakan yang terjadi memperparah kondisi gedung yang sudah dinyatakan tidak layak pakai untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Sekitar 90 persen bangunan sekolah tersebut tidak dapat digunakan, memaksa pihak sekolah menempatkan siswa-siswinya di lokasi alternatif, termasuk rumah warga, balai desa, dan kantor pemerintah desa.
Kepala SDN Mencon, Muhammad Yasin Amin, menyampaikan bahwa keempat ruang kelas utama sudah lama dikosongkan karena kekhawatiran akan keselamatan murid. “Kondisi sekolah ini sudah lapuk. Pada Minggu malam, hujan deras menimpa atap kelas yang sudah rapuh, sehingga atap roboh,” ujarnya kepada wartaphoto.net pada 14 April 2026. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, namun proses belajar mengajar menjadi sangat terganggu.”
Hanya kelas V dan VI yang masih dapat melaksanakan pembelajaran di dalam gedung, sedangkan kelas I sampai IV harus mengungsi. Siswa kelas I belajar di balai desa, kelas II di rumah salah satu perangkat desa (perades), kelas III di rumah wali kelas masing‑masing, dan kelas IV di Kantor Pemerintah Desa (Pemdes) Mencon. Situasi ini menimbulkan tantangan logistik dan psikologis bagi guru, siswa, serta orang tua.
- Kelas I – Balai Desa Mencon
- Kelas II – Rumah Perangkat Desa
- Kelas III – Rumah Wali Kelas
- Kelas IV – Kantor Pemerintah Desa Mencon
Selain kerusakan struktural, tanah tempat sekolah berdiri juga dinyatakan rawan geser. “Jika hanya memperbaiki atap saja, tembok kelas yang lain sudah mulai retak dan dapat menimbulkan bahaya lebih besar,” tegas Yasin. Ia menekankan perlunya revitalisasi total, bukan sekadar perbaikan parsial.
Pihak sekolah telah mengajukan bantuan melalui jalur resmi, termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2026. Namun proses pengajuan bantuan melalui Sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dinilai rumit. “Empat tahun lalu kami sudah mengupdate data kerusakan di Dapodik, tapi belum ada alokasi langsung. Proposal harus melalui prosedur yang panjang,” jelasnya.
Berita tentang kondisi SDN Mencon menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Pati. Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, membentuk tim survei khusus untuk menilai kerusakan dan menyiapkan langkah penanggulangan. “Kita akan evaluasi semua sekolah di Pati, terutama yang masih menggunakan bangunan inpres. Pada Senin nanti, kami akan menentukan mana yang layak dan mana yang perlu dibongkar,” ungkapnya pada 12 April 2026.
Salah satu siswa yang terdampak, Ikhsan, kelas III, mengungkapkan kesedihannya. “Ruang kelas ambruk membuat hati kami terluka. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman, bukan lokasi bencana. Belajar di rumah guru terasa sesak, panas, dan tidak layak,” katanya. Harapannya, SDN Mencon dapat segera diperbaiki agar anak‑anak dapat kembali belajar di lingkungan yang aman dan mendukung.
Berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, tengah menyiapkan rencana renovasi total. Menurut informasi yang diterima, SDN Mencon merupakan satu‑satunya sekolah di Desa Mencon yang masuk dalam nominasi DAK umum dan reguler tahun 2026. DAK diharapkan dapat menutupi biaya pembangunan kembali, termasuk perbaikan atap, dinding, serta penataan kembali lahan agar tidak rawan longsor.
Namun, tantangan tidak hanya bersifat teknis. Proses birokrasi, koordinasi antar‑instansi, dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci. Selama dua tahun terakhir, pihak sekolah telah mengajukan permohonan bantuan berkali‑kali, namun alur yang melibatkan Dapodik serta verifikasi lapangan memperlambat pencairan dana. “Kami berharap pemerintah pusat dan daerah dapat mempercepat proses, mengingat kondisi darurat yang menimpa para siswa,” seru Yasin.
Pentingnya intervensi cepat terlihat dari dampak sosial‑ekonomi yang timbul. Orang tua harus menyesuaikan jadwal kerja untuk mengantar anak ke tempat belajar sementara, sementara guru harus menyiapkan materi yang dapat disampaikan di ruang‑ruang yang tidak dirancang untuk kelas. Situasi ini juga meningkatkan risiko penurunan mutu pendidikan di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, kasus SDN Mencon menyoroti perlunya pemeliharaan infrastruktur pendidikan secara berkelanjutan. Tanpa perencanaan jangka panjang dan alokasi anggaran yang memadai, sekolah‑sekolah di daerah rawan seperti Pati berisiko mengalami kerusakan serupa. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat mengoptimalkan mekanisme DAK serta memperkuat sistem monitoring Dapodik agar data kerusakan dapat diterjemahkan menjadi aksi cepat.
Dengan dukungan dana DAK, tim survei, dan komitmen bersama antara kepala sekolah, pemerintah, serta masyarakat, diharapkan SDN Mencon dapat bangkit kembali. Anak‑anak di Mencon layak mendapatkan lingkungan belajar yang aman, layak, dan mendukung prestasi mereka. Harapan mereka tetap kuat: agar bangunan sekolah kembali berdiri kokoh, sehingga proses belajar mengajar dapat kembali berlangsung normal seperti sedia kala.











