LINKK Semar Gandeng BPBD Semarang Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Cyril Shaman

April 16, 2026

LINKK Semar Gandeng BPBD Semarang Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana Inklusif untuk Penyandang Disabilitas
LINKK Semar Gandeng BPBD Semarang Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

MA Darus Salam – 17 April 2026 | Serangkaian bencana alam yang kerap melanda Kota Semarang menuntut upaya antisipatif yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga inklusif. Menyikapi tantangan tersebut, Layanan Inklusi Kota Semarang (LINKK Semar) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mengadakan pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan khusus bagi penyandang disabilitas pada 13‑14 April 2026.

Acara dibuka oleh Drs Endro Pudyo Martantono, Kepala Pelaksana BPBD Semarang, yang menekankan pentingnya pengetahuan dasar tentang mitigasi bagi kelompok rentan. “Disabilitas dalam menghadapi bencana minimal bisa menyelamatkan dirinya secara mandiri sebelum bantuan datang,” ujar Endro, menegaskan bahwa kemandirian merupakan faktor penentu dalam mengurangi angka korban jiwa.

Pelatihan terdiri dari dua hari intensif. Hari pertama diisi dengan penyampaian materi teoritis mengenai jenis-jenis bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Semarang, tanda‑tanda peringatan, serta prosedur evakuasi yang disesuaikan dengan beragam tipe disabilitas, mulai dari penyandang gangguan penglihatan, pendengaran, hingga mobilitas terbatas. Ketua Bidang Kajian dan Penanggulangan Bencana LINKK Semar, Wishnu Pratomo, menambahkan bahwa materi dirancang agar mudah dipahami, menggunakan bahasa visual, audio, serta contoh praktis.

Setelah sesi materi, peserta langsung terjun ke simulasi lapangan pada hari kedua. Mereka dibagi menjadi empat kelompok: korban, tim evakuasi dan pengungsian, pusat data dan informasi, serta dapur umum. Setiap kelompok menerima briefing singkat mengenai peran dan tugas masing‑masing. Simulasi meniru skenario gempa bumi dengan dampak banjir, yang merupakan kombinasi bencana paling mungkin terjadi di Semarang.

  • Kelompok korban berperan sebagai penyandang disabilitas dengan kebutuhan khusus, termasuk pengguna kursi roda dan tuna netra.
  • Tim evakuasi mempraktikkan teknik pengangkatan aman, penggunaan alat bantu, serta koordinasi dengan pendamping untuk memastikan evakuasi yang cepat dan tidak menimbulkan cedera tambahan.
  • Pusat data dan informasi mencatat identitas korban, lokasi penampungan, serta kebutuhan medis secara real‑time.
  • Dapur umum menyiapkan makanan sederhana yang dapat didistribusikan ke tenda pengungsian, sekaligus melatih logistik distribusi dalam kondisi darurat.

Selama simulasi, peserta menghadapi tantangan nyata, seperti menavigasi area berdebu dengan kursi roda, memberi petunjuk arah kepada tuna netra, serta mengelola komunikasi bagi penyandang gangguan pendengaran. Fasilitator menilai bahwa latihan tersebut berhasil menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendampingan; pendamping biasanya lebih memahami kebutuhan khusus dan dapat bertindak cepat.

Setelah selesai, dilakukan evaluasi bersama. Banyak peserta mengungkapkan rasa lega karena kini mereka memiliki pengetahuan praktis yang dapat diterapkan saat bencana sesungguhnya. “Saya kini tahu apa yang harus disiapkan, seperti paket kebencanaan yang berisi alat bantu dengar cadangan dan lampu senter berdaya tahan lama,” kata salah satu peserta, seorang penyandang tunanetra.

Ketua LINKK Semar, Fita, menegaskan bahwa organisasi mereka berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah, komunitas disabilitas, relawan, dan masyarakat umum. “Kami ingin menciptakan sistem penanggulangan bencana yang setara, adil, dan ramah disabilitas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini akan menjadi agenda rutin, dengan target melatih minimal 200 penyandang disabilitas per tahun.

Kehadiran tokoh‑tokoh lokal seperti Maftukhah Wiwin Subiyono, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, serta Hendaryono, Sekretaris Kecamatan Pedurungan, menambah bobot dukungan politik bagi inisiatif inklusif ini. Selain itu, Riyanto, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Semarang, menyatakan komitmen untuk terus berkolaborasi dalam penyediaan sumber daya, seperti peralatan evakuasi yang dapat diakses oleh semua kalangan.

Dengan mengintegrasikan aspek teknis, sosial, dan kebijakan, pelatihan ini diharapkan dapat menurunkan angka korban jiwa di kalangan penyandang disabilitas pada bencana berikutnya. Upaya berkelanjutan seperti ini menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, melainkan langkah konkret menuju kota yang lebih aman dan berdaya tahan.

Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan dan simulasi yang digelar LINKK Semar bersama BPBD Semarang berhasil memperkuat kapasitas penyandang disabilitas serta pendampingnya dalam menghadapi situasi darurat. Kesadaran yang meningkat, prosedur yang teruji, dan dukungan lintas sektor menjadi fondasi utama untuk menciptakan budaya kesiapsiagaan yang inklusif di Kota Semarang.

Related Post