UNDIP Siapkan Layanan Inklusif untuk Peserta Disabilitas pada UTBK‑SNBT 2026

Itlak Assala

April 22, 2026

MA Darus SalamUniversitas Diponegoro (UNDIP) menegaskan komitmen kuatnya dalam menyelenggarakan seleksi nasional yang inklusif dengan menyediakan layanan khusus bagi peserta penyandang disabilitas pada pelaksanaan UTBK SNBT 2026. Inisiatif ini bertujuan menjamin bahwa setiap calon mahasiswa, tanpa terkecuali, memperoleh kesempatan yang setara dan aksesibilitas yang memadai selama proses ujian.

Persiapan layanan inklusif dimulai dari pemetaan lokasi ujian yang ramah disabilitas. UNDIP memilih gedung‑gedung yang dilengkapi lift, ruang ujian adaptif, serta area duduk yang dapat diatur fleksibel. Pada tahun ini, sebanyak enam peserta disabilitas tercatat mengikuti ujian di pusat UTBK UNDIP, terdiri dari tiga tuna daksa dan tiga tuna rungu. Penempatan peserta dilakukan secara strategis, salah satunya di Fakultas Hukum yang memiliki infrastruktur lift serta ruang ujian dengan meja yang dapat disesuaikan ketinggiannya.

Prof. Dr. Paramita Prananingtyas, S.H., LLM., selaku Wakil Ketua Pengembangan Pendidikan Lembaga Pengembangan dan Penjamin Mutu Pendidikan (LP2MP) UNDIP menjelaskan bahwa seluruh prosedur pelayanan telah disusun sejalan dengan standar nasional tanpa mengorbankan ketegasan pengawasan. “Kami memastikan semua detail teknis, mulai dari akses pintu masuk hingga penyesuaian perangkat bantu, sudah dipersiapkan secara maksimal,” ungkap Prof. Paramita dalam keterangannya.

Berikut adalah rangkaian layanan khusus yang disediakan untuk peserta disabilitas pada UTBK SNBT 2026:

  • Fasilitas lift dan jalur akses yang lebar, memudahkan mobilitas peserta tuna daksa.
  • Ruang ujian adaptif dengan meja dan kursi yang dapat diatur tinggi serta penempatan komputer yang ergonomis.
  • Penyediaan alat bantu dengar dan penerjemah bahasa isyarat bagi peserta tuna rungu.
  • Tim pendamping yang terlatih, siap membantu peserta selama proses ujian tanpa mengganggu integritas tes.
  • Protokol keamanan ketat, termasuk penggunaan metal detector dan pemeriksaan barang pribadi untuk mencegah kecurangan.

Koordinasi antar unit di UNDIP juga menjadi faktor kunci keberhasilan layanan ini. Prof. Paramita menambahkan, “Alhamdulillah, para peserta disabilitas tersebut juga merasa cukup puas dengan fasilitas yang kami sediakan. Kami telah menyesuaikan semua kebutuhan mereka secara maksimal, sehingga mereka dapat fokus pada ujian tanpa hambatan fisik.”

Selain memperhatikan aspek fisik, UNDIP juga menegakkan prosedur pengawasan yang ketat. Seluruh peserta, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus, menjalani pemeriksaan keamanan sesuai Standar Operational Procedure (SOP) yang ditetapkan oleh panitia pusat. Penggunaan metal detector dan pemantauan video tetap diterapkan untuk menjaga kredibilitas hasil ujian.

Dengan sinergi antara layanan inklusif dan pengawasan yang ketat, UNDIP berharap pelaksanaan UTBK SNBT 2026 dapat berjalan sukses, jujur, dan memberikan pengalaman ujian yang suportif bagi seluruh calon mahasiswa. Upaya ini tidak hanya mencerminkan komitmen akademik, melainkan juga menegaskan nilai kemanusiaan dan keadilan akses pendidikan bagi masyarakat luas.

Keberhasilan UNDIP dalam menyediakan layanan khusus bagi peserta disabilitas menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain dalam mengimplementasikan prinsip inklusi. Diharapkan, pengalaman ini dapat mendorong kebijakan serupa di tingkat nasional, sehingga setiap calon mahasiswa, terlepas dari kondisi fisik, dapat mengejar impian akademik mereka dengan setara.

Secara keseluruhan, layanan inklusif yang diberikan oleh UNDIP pada UTBK SNBT 2026 menunjukkan bahwa universitas tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada keadilan sosial. Langkah ini memperkuat citra UNDIP sebagai institusi yang peduli terhadap semua lapisan masyarakat dan berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang terbuka bagi semua.

Related Post