Munas IKAPETE 2026 Perbarui Struktur Lembaga, Perkuat Fokus pada Isu Perempuan dan Budaya

Itlak Assala

April 18, 2026

Munas IKAPETE 2026 Perbarui Struktur Lembaga, Perkuat Fokus pada Isu Perempuan dan Budaya
Munas IKAPETE 2026 Perbarui Struktur Lembaga, Perkuat Fokus pada Isu Perempuan dan Budaya

MA Darus Salam – Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) yang dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026, menghasilkan serangkaian keputusan strategis untuk menyesuaikan struktur kelembagaan organisasi. Acara konferensi pers yang digelar di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng menampilkan Ketua Presidium IKAPETE periode 2022–2026, Prof. Dr. H. Masykuri, yang menjelaskan latar belakang, proses, serta implikasi dari perubahan tersebut.

Prof. Dr. H. Masykuri menekankan bahwa dinamika alumni yang kini tersebar di berbagai negara menuntut IKAPETE untuk menjadi lebih responsif dan inklusif. “Kami ingin memastikan bahwa setiap alumni, baik yang berada di Jawa Tengah, Sumatra, maupun di luar negeri, dapat berkontribusi secara optimal pada visi dan misi pesantren,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa restrukturisasi ini bukan sekadar penataan formal, melainkan upaya konkret untuk mengintegrasikan isu-isu strategis seperti pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan jaringan digital.

Berikut adalah poin‑poin utama yang diangkat dalam Munas IKAPETE:

  • Pembentukan Dewan Kesetaraan Gender: Unit khusus yang akan mengkoordinasikan program-program pemberdayaan perempuan, mengadakan pelatihan kepemimpinan, serta mengawasi implementasi kebijakan kesetaraan di semua level organisasi.
  • Divisi Budaya dan Warisan Pesantren: Fokus pada pelestarian tradisi, bahasa, serta kesenian khas pesantren Tebuireng, termasuk dokumentasi oral history dan pameran seni reguler.
  • Platform Alumni Digital Terpadu: Sistem daring yang memungkinkan alumni berinteraksi, berbagi peluang kerja, serta mengakses materi pembelajaran dan kajian keagamaan.
  • Unit Pengembangan Ekonomi Kreatif: Menggali potensi ekonomi berbasis budaya, seperti produksi kerajinan, buku, dan konten digital yang dapat meningkatkan kesejahteraan alumni.
  • Revisi Struktur Pengurus Daerah: Penyesuaian wilayah kerja dengan menambah koordinator wilayah internasional untuk mengakomodasi alumni di luar negeri.

Keputusan tersebut diambil setelah melalui serangkaian diskusi panel yang melibatkan perwakilan alumni, tokoh masyarakat, serta pakar gender dan budaya. Salah satu peserta, Siti Nurhaliza, alumni kelas 1998 yang kini menjadi aktivis perempuan di Surabaya, mengapresiasi penetapan Dewan Kesetaraan Gender. “Langkah ini memberi sinyal kuat bahwa IKAPETE tidak hanya peduli pada aspek keagamaan, tetapi juga pada kesejahteraan sosial perempuan alumni,” ujarnya.

Selain penambahan unit baru, Munas juga menetapkan alokasi anggaran tahunan sebesar Rp 2,5 miliar untuk mendukung program-program strategis selama periode 2026–2030. Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk pengembangan platform digital, pelatihan kepemimpinan perempuan, dan kegiatan pelestarian budaya. Pengelolaan dana akan diawasi oleh Komite Audit Independen yang dibentuk khusus untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas.

Prof. Dr. H. Masykuri menegaskan bahwa restrukturisasi ini akan diimplementasikan secara bertahap. Tahap pertama, yang dijadwalkan selesai pada akhir kuartal pertama 2027, meliputi pembentukan Dewan Kesetaraan Gender serta peluncuran platform alumni digital. Tahap selanjutnya mencakup aktivasi Divisi Budaya dan Warisan Pesantren serta penyesuaian struktur pengurus daerah.

Dalam rangka memperkuat sinergi antar‑anggota, IKAPETE juga merencanakan serangkaian kegiatan lintas generasi, termasuk konferensi tahunan, lokakarya kepemimpinan, serta festival budaya yang akan menampilkan karya seni alumni. Acara‑acara ini diharapkan menjadi wadah pertukaran ide dan kolaborasi antara generasi lama dan muda, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah diaspora alumni.

Dengan langkah-langkah tersebut, IKAPETE berambisi menjadi organisasi alumni yang tidak hanya berperan sebagai jaringan sosial, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mengedepankan nilai‑nilai keadilan gender, pelestarian budaya, dan inovasi digital. Penutupnya, Prof. Dr. H. Masykuri mengajak seluruh alumni untuk aktif berpartisipasi dalam proses transformasi ini, menegaskan bahwa “kesuksesan IKAPETE adalah cermin keberhasilan setiap alumni dalam mengimplementasikan nilai-nilai pesantren di dunia modern.”

Transformasi struktural ini diharapkan dapat meningkatkan relevansi IKAPETE di mata generasi muda, sekaligus memperkuat posisi pesantren Tebuireng sebagai institusi yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa mengorbankan nilai tradisional yang menjadi fondasinya.

Related Post