Pembinaan Psikologi Perkembangan untuk Calon Pembina Santri di Pesantren Tebuireng, Jombang

Cyril Shaman

April 18, 2026

Pembinaan Psikologi Perkembangan untuk Calon Pembina Santri di Pesantren Tebuireng, Jombang
Pembinaan Psikologi Perkembangan untuk Calon Pembina Santri di Pesantren Tebuireng, Jombang

MA Darus Salam – 18 April 2026 | Jombang, 5 April 2026 – Sebuah inisiatif edukatif yang mengusung pendekatan psikologi perkembangan kini digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang. Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (HIMPSI) sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Hj. Wiwin Hendriyani, M.Si., memberikan materi pengasuhan (parenting) kepada para calon kader pembina santri dalam rangka Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Kader Pembina Santri Pesantren Tebuireng.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (5/4/2026) di Balai Diklat Pesantren Tebuireng, Jombok, Ngoro, Jombang, dihadiri dengan antusiasme tinggi oleh lebih dari seratus peserta. Para calon pembina, yang merupakan santri senior dan alumni, menunjukkan minat besar dalam memahami karakteristik perkembangan santri serta strategi pengasuhan yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan konteks pesantren.

Dr. Wiwin Hendriyani membuka sesi dengan menyoroti pentingnya pemahaman mendalam tentang tahap-tahap perkembangan psikologis remaja. “Santri bukan hanya peserta didik yang belajar ilmu agama, melainkan individu yang berada pada fase kritis perkembangan identitas, emosional, dan sosial,” ujarnya. Ia menekankan bahwa peran pembina tidak sekadar mengawasi, melainkan menjadi figur pendamping yang mampu mengarahkan pertumbuhan mental dan spiritual santri.

Materi yang disampaikan meliputi beberapa poin utama:

  • Karakteristik perkembangan remaja: Perubahan hormonal, pencarian identitas, dan kebutuhan akan rasa memiliki.
  • Pola asuh positif: Komunikasi terbuka, pemberian batasan yang konsisten, serta penghargaan atas perilaku positif.
  • Strategi pengelolaan konflik: Teknik mediasi, empati, dan penyelesaian masalah secara kolaboratif.
  • Penerapan nilai-nilai islami dalam parenting: Integrasi ajaran agama sebagai landasan moral dan etika.

Selama sesi tanya jawab, para peserta mengemukakan tantangan yang mereka hadapi di lingkungan pesantren, seperti mengatasi perilaku agresif, menumbuhkan motivasi belajar, serta menjaga keseimbangan antara kegiatan keagamaan dan kegiatan ekstrakurikuler. Dr. Wiwin menjawab dengan memberikan contoh kasus praktis, mengilustrasikan cara mengidentifikasi tanda-tanda stres pada santri, serta langkah-langkah konkret untuk membangun hubungan yang sehat antara pembina dan santri.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, pembina santri diharapkan menjadi “attachment figure” atau figur ikatan yang dapat menyediakan rasa aman dan dukungan emosional. Hal ini sejalan dengan teori keterikatan Bowlby, yang menekankan pentingnya kehadiran figur dewasa yang responsif dalam membentuk pola hubungan interpersonal yang stabil. Dengan demikian, strategi pengasuhan yang diajarkan tidak hanya berfokus pada disiplin, melainkan pada penciptaan ikatan emosional yang kuat.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya berkelanjutan HIMPSI dalam memperkuat kapasitas pendidik pesantren di seluruh Indonesia. Sejak berdiri pada tahun 2010, HIMPSI telah meluncurkan serangkaian program pelatihan psikologi bagi guru, ustadz, dan pembina pesantren, dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan mental anak bangsa.

Selain materi teoritis, Dr. Wiwin menyertakan latihan simulasi yang melibatkan peserta dalam peran pembina dan santri. Simulasi tersebut dirancang untuk mengasah keterampilan mendengarkan aktif, memberikan umpan balik konstruktif, serta mengelola dinamika kelompok. Hasil evaluasi awal menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan peserta mengidentifikasi kebutuhan emosional santri.

Para peserta yang mengikuti pelatihan menyatakan kepuasan tinggi terhadap materi yang disampaikan. Salah satu peserta, Ustadz Ahmad Fauzi, mengungkapkan, “Saya mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana cara mengatasi permasalahan remaja tanpa harus mengandalkan pendekatan otoriter. Pengetahuan ini sangat relevan dengan realitas di pesantren kami.”

Keberhasilan acara ini juga mendapat apresiasi dari pihak pengelola Pesantren Tebuireng. Ketua Yayasan, KH. Abdul Latif, menyatakan, “Investasi dalam pengembangan kompetensi pembina adalah investasi dalam masa depan generasi santri. Kolaborasi dengan HIMPSI dan Universitas Airlangga membuka peluang bagi kami untuk meningkatkan kualitas pendidik dan menyiapkan santri menjadi insan yang berakhlak mulia serta siap bersaing di era global.”

Dengan meningkatnya tantangan sosial dan digital, pemahaman psikologi perkembangan menjadi semakin penting bagi institusi pendidikan Islam tradisional. Penguatan kapasitas pembina melalui pelatihan berbasis ilmu psikologi diharapkan dapat menurunkan risiko masalah kesehatan mental di kalangan santri, sekaligus menumbuhkan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan suportif.

Ke depan, HIMPSI berencana memperluas program serupa ke pesantren-pesantren lain di Jawa Timur dan sekitarnya. Rencana tersebut mencakup modul lanjutan tentang psikologi klinis, konseling karir, serta manajemen stres, yang diharapkan dapat menjadi bagian integral dalam kurikulum pembinaan santri.

Dengan landasan ilmu psikologi yang kuat, para calon pembina santri di Pesantren Tebuireng kini dilengkapi dengan kompetensi yang lebih holistik. Harapannya, generasi santri yang dibina akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya berilmu agama, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional, integritas moral, serta kemampuan adaptasi yang tinggi dalam menghadapi tantangan zaman.

Related Post