MA Darus Salam – Wonosobo, 17 April 2026 – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa kebiasaan membaca dapat membuka wawasan dunia tanpa batas ruang dan waktu dalam sambutan virtualnya pada acara pengukuhan pengurus Pojok Baca Nahdliyin (PBN) Kabupaten Wonosobo. Ia menekankan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan budaya, melainkan sarana utama memperkuat wawasan keagamaan dan kebangsaan.
Acara yang berlangsung di Pendopo Bupati Wonosobo itu dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari'ah Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Dr. H. Arsad Hidayat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Dr. H. Saiful Mujab, serta Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat. Dr. KH M. Faqih Khusni, M.Si., MM, dipercaya sebagai Ketua PBN Kabupaten Wonosobo, menandai komitmen daerah dalam memperkuat budaya membaca.
Nasaruddin menegaskan bahwa keberadaan PBN di berbagai wilayah, termasuk di Wonosobo, merupakan kekuatan strategis bagi bangsa. Menurutnya, melalui budaya literasi yang kuat, masyarakat dapat menjadi lebih cerdas, kritis, dan lebih memperhatikan pentingnya pendidikan. “Amal dari kegiatan membaca juga akan terus mengalir, dan ini termasuk amal ibadah yang dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja,” ujarnya.
Dr. H. Arsad Hidayat menambahkan bahwa tradisi literasi berperan sebagai jembatan kesuksesan. Ia menyoroti fakta bahwa banyak tokoh bangsa serta individu sukses lahir dari kebiasaan membaca yang tinggi. “Orang sukses dan tokoh nasional yang ada saat ini lahir dari kebiasaan literasi yang tinggi. Maka siapa pun yang ingin menjadi orang sukses, harus memiliki tradisi membaca yang baik,” jelasnya.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, memberikan apresiasi khusus kepada PBN karena tidak hanya menyediakan ruang baca, tetapi juga berperan dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan. “Gerakan ini adalah ikhtiar untuk membangun cara berpikir masyarakat. Dari membaca lahir pemahaman, dan dari pemahaman tumbuh kesadaran yang akan membawa perubahan,” ujarnya, sekaligus mengungkapkan harapannya agar PBN terus berkembang menjadi pusat literasi yang aktif dan berkelanjutan.
Ketua Pojok Baca Nahdliyin Kabupaten Wonosobo, Dr. KH M. Faqih Khusni, menekankan pentingnya literasi dalam pemberdayaan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa peningkatan literasi dapat membuka akses pengetahuan di bidang kesehatan, pendidikan, parenting, dan ekonomi keluarga. “Literasi membentuk pola pikir yang lebih terbuka dan kritis, yang sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan,” katanya.
Faqih juga mengingatkan bahwa budaya membaca yang dimulai sejak dini memiliki dampak signifikan pada tumbuh kembang anak, termasuk peningkatan imajinasi dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, literasi berperan penting dalam mencegah kekerasan serta pengaruh negatif lainnya di lingkungan sosial.
Secara keseluruhan, para pemangku kepentingan sepakat bahwa penguatan literasi akan memberikan dampak besar pada pembangunan, mengurangi angka kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. PBN Wonosobo diharapkan menjadi gerakan yang menggerakkan perubahan positif, sekaligus mencetak generasi muda yang religius, cerdas, kritis, dan berakhlak mulia.
Ke depan, Pojok Baca Nahdliyin Wonosobo berencana memperluas jaringan kerja sama dengan lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan pihak swasta untuk menyelenggarakan program pelatihan literasi, workshop menulis kreatif, serta kegiatan membaca bersama yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, tokoh agama, serta komunitas lokal, PBN berpotensi menjadi model unggulan dalam penguatan literasi di tingkat kabupaten bahkan provinsi.
Kesimpulannya, upaya bersama antara kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat melalui Pojok Baca Nahdliyin menegaskan bahwa literasi adalah fondasi utama bagi pembangunan berkelanjutan. Jika berhasil, inisiatif ini tidak hanya mencerdaskan masyarakat Wonosobo, tetapi juga menjadi contoh inspiratif bagi wilayah lain di Indonesia.











