Gus Irfan Soroti Minimnya Partisipasi Gen Z di Acara Alumni, Ajak Mereka Jadi Panitia

Humeera arishanti

April 18, 2026

Gus Irfan Soroti Minimnya Partisipasi Gen Z di Acara Alumni, Ajak Mereka Jadi Panitia
Gus Irfan Soroti Minimnya Partisipasi Gen Z di Acara Alumni, Ajak Mereka Jadi Panitia

MA Darus Salam – Dalam rangka Halalbihalal Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) yang digelar pada Sabtu, 18 April 2026, Menteri Haji dan Umrah RI sekaligus Dzuriyah Pesantren Tebuireng, KH. Muhammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, menyampaikan keprihatinannya atas rendahnya keterlibatan generasi Z (Gen Z) pada agenda-alumni pesantren. Di hadapan ribuan alumni, ia menegaskan pentingnya memberi ruang bagi pemuda untuk tidak hanya hadir sebagai peserta, melainkan juga berperan aktif sebagai panitia.

Acara yang berlangsung di kompleks pesantren Jombang ini menjadi ajang silaturahmi antar generasi, namun Gus Irfan menyoroti bahwa mayoritas panitia masih didominasi oleh alumni senior. “Kami melihat kurangnya wajah Gen Z di antara para penyelenggara. Padahal mereka memiliki energi, kreativitas, dan pemahaman teknologi yang dapat memperkaya pelaksanaan acara,” ujarnya dengan nada tegas.

Gus Irfan menambahkan bahwa fenomena serupa bukan hal baru dalam institusi keagamaan tradisional. “Selama bertahun‑tahun, pola kepanitiaan cenderung menurunkan beban kepada generasi yang telah lama berkecimpung di lingkungan pesantren. Padahal, Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama digital, mereka dapat mengoptimalkan media sosial, desain grafis, dan manajemen acara secara lebih efisien,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal ini, Gus Irfan mengusulkan beberapa langkah konkret:

  • Mengadakan pelatihan kepanitiaan khusus untuk Gen Z, mencakup manajemen proyek, penggunaan platform digital, dan teknik komunikasi modern.
  • Menetapkan kuota minimal kehadiran Gen Z dalam setiap tim panitia, sehingga mereka terlibat sejak tahap perencanaan.
  • Memberikan penghargaan atau sertifikat khusus bagi pemuda yang berhasil menyelesaikan tugas kepanitiaan, sebagai bentuk motivasi.

Usulan tersebut mendapat respon positif dari sebagian besar alumni senior, yang mengakui pentingnya inovasi dalam tradisi. Seorang alumni muda, Ahmad Fauzi, menyatakan, “Saya setuju bahwa kami perlu membuka pintu bagi Gen Z. Ini bukan sekadar soal usia, melainkan tentang perspektif baru yang dapat mendorong acara menjadi lebih relevan dengan zaman.”

Namun, tidak semua pihak sepenuhnya setuju. Beberapa alumni senior mengkhawatirkan bahwa kurangnya pengalaman Gen Z dapat mengganggu kelancaran acara. Gus Irfan menanggapi dengan menegaskan bahwa pengalaman dapat dibangun melalui bimbingan senior, bukan dengan menutup peluang.

Gus Irfan juga menyoroti peran pesantren sebagai wadah pembentukan karakter. “Jika kita ingin generasi muda menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, mereka harus dilatih sejak dini dalam mengelola kegiatan komunitas. Panitia alumni adalah laboratorium kecil untuk mengasah kemampuan manajerial mereka,” tambahnya.

Sejumlah data internal pesantren menunjukkan bahwa hanya sekitar 12% peserta panitia tahun lalu berasal dari rentang usia 18‑24 tahun, rentang yang biasanya mencakup Gen Z. Dengan target peningkatan menjadi minimal 30% pada tahun mendatang, pesantren berkomitmen untuk merevisi mekanisme rekrutmen panitia.

Selain itu, Gus Irfan menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi. Ia mengajak alumni senior untuk menjadi mentor, sementara Gen Z diberi kebebasan berekspresi dalam merancang konsep acara, termasuk pemilihan tema, musik, dan materi visual.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan partisipasi Gen Z dalam acara alumni, tetapi juga memperkuat ikatan antar generasi di lingkungan pesantren. Dengan memberikan ruang bagi pemuda menjadi panitia, pesantren Tebuireng menyiapkan generasi yang siap mengemban amanah keagamaan sekaligus menguasai keterampilan modern.

Kesimpulannya, seruan Gus Irfan untuk melibatkan Gen Z secara aktif dalam kepanitiaan alumni menjadi panggilan penting bagi seluruh stakeholder pesantren. Implementasi kebijakan yang inklusif dapat menjadi contoh bagi institusi keagamaan lain dalam mengintegrasikan generasi muda ke dalam struktur organisasi, memastikan kelangsungan tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika era digital.

Related Post