MA Darus Salam – 18 April 2026 | Kediri, 17 April 2026 – Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin (LBM-MHM) secara resmi memulai rangkaian aktivitas akademik dan keagamaan untuk tahun ajaran 1447–1448 H/2026–2027 M. Upacara pembukaan dilaksanakan sesudah salat Jumat, sekitar pukul 14.00 WIB, di Aula Al‑Muktamar, Lirboyo. Suasana dipenuhi antusiasme tinggi dari para santri, masyakh, serta tokoh pesantren yang hadir.
Acara dimulai dengan bacaan Al‑Qur’an yang dipimpin oleh salah satu hafiz terkemuka pesantren, diikuti dengan doa bersama yang memohon kelancaran program LBM-MHM sepanjang tahun. Selanjutnya, Ketua Lajnah, KH. Ahmad Zaini, menyampaikan sambutan resmi yang menegaskan komitmen lembaga dalam melanjutkan tradisi Bahtsul Masail, sebuah forum diskusi ilmu fiqih dan muamalah yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum Lirboyo sejak masa kolonial.
Bahtsul Masail, yang secara harfiah berarti “pembahasan masalah”, merupakan metode pembelajaran yang menekankan analisis kritis terhadap persoalan keagamaan kontemporer. Tradisi ini tidak hanya menumbuhkan pemahaman mendalam tentang teks-teks klasik, tetapi juga menyiapkan generasi santri untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat. LBM-MHM, sebagai salah satu unit pelaksana, bertugas mengorganisir pertemuan rutin, seminar, serta penulisan makalah yang menanggapi tantangan zaman.
Dalam sambutannya, KH. Ahmad Zaini menekankan bahwa tahun ajaran baru ini akan diisi dengan program-program inovatif, termasuk pelatihan penulisan ilmiah, lomba kajian kitab klasik, serta kerja sama dengan perguruan tinggi Islam di dalam negeri. “Kami ingin santri tidak hanya menghafal, tetapi juga mampu mengkritisi dan menerapkan ilmu yang mereka peroleh dalam konteks modern,” ujarnya.
Berbagai tokoh pesantren dan masyakh turut memberikan sambutan. Di antaranya, KH. Abdul Karim, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Kediri, menyampaikan apresiasi atas upaya LBM-MHM dalam mempertahankan warisan ilmiah Islam. “Tradisi Bahtsul Masail di Lirboyo adalah contoh nyata bagaimana pesantren dapat menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Para santri yang hadir juga menyuarakan kegembiraan mereka. Salah satu santri, Ahmad Fauzi (kelas 12), mengungkapkan harapan agar LBM-MHM dapat menjadi wadah bagi mereka untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. “Saya berharap dapat berpartisipasi dalam diskusi yang mendalam tentang fiqih kontemporer, terutama yang berkaitan dengan isu‑isu ekonomi Islam,” ujarnya.
Agenda utama LBM-MHM untuk tahun ajaran 1447/2026 mencakup:
- Pertemuan Bahtsul Masail bulanan yang membahas topik-topik seperti muamalah, akhlak, serta isu sosial‑kultural.
- Workshop penulisan ilmiah berbasis metodologi penelitian Islam.
- Lomba kajian kitab klasik yang melibatkan santri dari seluruh jaringan pesantren di Jawa Timur.
- Kolaborasi dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya untuk program mentorship bagi santri berprestasi.
Selain itu, LBM-MHM juga merencanakan kegiatan sosial, termasuk bakti sosial di desa‑desa sekitar Kediri, serta program beasiswa bagi santri berprestasi yang membutuhkan dukungan finansial. Semua program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas jangkauan dampak sosial pesantren Lirboyo.
Penutup acara diisi dengan pembacaan doa penutup dan penyampaian harapan dari para peserta. KH. Ahmad Zaini menekankan pentingnya konsistensi dalam melaksanakan program, serta mengajak seluruh elemen pesantren untuk berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan tradisi Bahtsul Masail. “Mari kita bersama‑sama menjadikan LBM-MHM sebagai mercusuar ilmu yang tidak hanya menerangi generasi kita, tetapi juga generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Dengan semangat baru dan dukungan luas dari komunitas pesantren, LBM-MHM siap menapaki tahun akademik yang penuh tantangan namun tetap berpegang pada nilai-nilai keilmuan dan kebersamaan yang telah menjadi identitas Lirboyo selama lebih dari satu abad.











