MA Darus Salam – Di Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, usaha budidaya ikan bebeong (juga dikenal sebagai ikan baung) mengalami kemunduran signifikan. Para petani, termasuk Ijan, mengaku bahwa dua kendala utama—tingginya harga pakan dan kesulitan dalam memasarkan benih ikan—menjadi beban berat yang mengancam kelangsungan usaha mereka.
Sejak beberapa tahun terakhir, ikan bebeong menjadi komoditas andalan bagi banyak keluarga di wilayah tersebut. Ikan ini dikenal karena rasa dagingnya yang lembut serta nilai ekonominya yang cukup tinggi di pasar lokal. Namun, dinamika pasar dan fluktuasi biaya produksi mengubah lanskap bisnis ini menjadi lebih rumit.
Harga Pakan Melambung
Para pembudidaya melaporkan bahwa harga pakan ikan mengalami peningkatan tajam sejak awal tahun 2025. Penyebab utama meliputi kenaikan biaya bahan baku utama, seperti minyak ikan dan kedelai, serta gangguan rantai pasokan global yang mempengaruhi ketersediaan pakan di pasar domestik. Bagi petani skala kecil, kenaikan harga pakan mencapai 30‑40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga margin keuntungan menyusut drastis.
Ijan, seorang petani yang telah menggeluti budidaya ikan bebeong selama lebih dari delapan tahun, mengungkapkan bahwa ia terpaksa menurunkan dosis pakan demi mengurangi biaya. “Jika kami memberi pakan sesuai standar, biaya produksi menjadi tidak terjangkau. Namun, mengurangi pakan dapat menurunkan pertumbuhan ikan dan kualitas daging,” ujarnya.
Penurunan kualitas pakan tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit pada ikan. Sejumlah kasus wabah penyakit kulit dan gangguan pencernaan dilaporkan pada kolam yang menggunakan pakan alternatif dengan kualitas rendah.
Pemasaran Benih yang Terhambat
Di samping masalah pakan, para petani juga menghadapi kesulitan dalam memasarkan benih ikan bebeong. Permintaan pasar untuk benih ikan berkurang, terutama dari kalangan peternak yang beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan atau lebih mudah dipasarkan. Selain itu, kurangnya akses ke jaringan distribusi yang luas membuat para pembudidaya kesulitan menjangkau pembeli potensial di luar wilayah Banjar.
Tanpa dukungan pemasaran yang memadai, para petani terpaksa menahan stok benih lebih lama, yang pada gilirannya menambah beban biaya penyimpanan dan meningkatkan risiko kematian benih karena faktor lingkungan.
Upaya Pemerintah dan Solusi Potensial
Pihak Dinas Perikanan bersama dengan Dinas Pertanian setempat telah merencanakan serangkaian program bantuan, antara lain subsidi pakan khusus untuk budidaya ikan bebeong, pelatihan teknik budidaya berkelanjutan, serta fasilitasi akses pasar melalui pameran perikanan regional. Namun, realisasi program ini masih dalam tahap perencanaan, dan belum ada alokasi anggaran yang jelas.
Beberapa rekomendasi yang diusulkan oleh para ahli meliputi:
- Pengembangan pakan alternatif berbasis bahan lokal yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas nutrisi.
- Pembentukan koperasi petani untuk memperkuat daya tawar dalam negosiasi harga pakan dan pemasaran benih.
- Implementasi sertifikasi kualitas benih untuk meningkatkan kepercayaan pembeli.
- Penggunaan platform digital untuk mempromosikan produk benih dan ikan segar secara langsung kepada konsumen akhir.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan beban biaya produksi dapat ditekan, sekaligus membuka peluang pasar baru yang lebih luas bagi ikan bebeong.
Secara keseluruhan, tantangan yang dihadapi budidaya ikan bebeong di Banjar menuntut sinergi antara pemerintah, pelaku industri pakan, dan komunitas petani. Tanpa intervensi yang tepat, potensi ekonomi dan sosial yang selama ini dihasilkan oleh sektor perikanan air tawar ini dapat berkurang secara signifikan.
Ke depannya, penting bagi semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem budidaya yang berkelanjutan, sehingga ikan bebeong dapat kembali menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga petani di Banjar.
