MA Darus Salam – 16 April 2026 | Sejak sore hari Selasa, 14 April 2026, wilayah Solo Raya diguncang banjir yang dipicu oleh derasnya hujan dan meningkatnya debit Sungai Bengawan Solo beserta anak‑sungainya. Ketinggian air yang cepat naik menimbulkan genangan luas di beberapa titik, memaksa ribuan warga mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah langsung mengaktifkan protokol darurat untuk mengevakuasi korban, menyalurkan bantuan, dan mempercepat proses surutnya air.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor dimulai seketika banjir terdeteksi. “Evakuasi menjadi prioritas utama. Kami bergerak cepat menyelamatkan warga di area terdampak,” ujarnya dalam konferensi pers di Semarang pada Rabu, 15 April. Tim gabungan yang meliputi perwakilan BPBD kabupaten/kota, relawan, Palang Merah Indonesia (PMI), TNI, serta Polri dikerahkan ke lokasi‑lokasi kritis untuk membantu proses evakuasi.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih berlangsung. Di Kota Surakarta tercatat 109 orang telah dipindahkan ke tempat penampungan sementara, sementara Kabupaten Sukoharjo mencatat sekitar 1.900 jiwa yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Tempat pengungsian difasilitasi di bangunan umum seperti masjid, balai warga, dan gedung sosial yang telah disiapkan sebelumnya. Setiap lokasi dilengkapi dengan kebutuhan dasar, termasuk makanan siap saji, air bersih, serta layanan kesehatan dasar.
BPBD Jateng bekerja sama erat dengan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan setempat untuk menyalurkan bantuan. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas menjadi prioritas utama dalam pendistribusian bantuan. Selain itu, tim teknis melakukan pompanisasi di beberapa titik genangan, meskipun upaya ini terbatas karena ketinggian muka air yang masih tinggi. Upaya pompa dipadukan dengan koordinasi bersama PUPR dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengendalikan aliran air dan mempercepat penurunan permukaan air.
- Distribusi bantuan makanan siap saji dan air bersih.
- Layanan kesehatan darurat bagi warga yang membutuhkan.
- Pompanisasi di area genangan kritis.
- Koordinasi dengan PUPR dan BBWS untuk pengendalian debit sungai.
- Pengawasan terus‑menerus terhadap potensi banjir susulan.
Ke depan, BPBD Jateng menargetkan normalisasi sungai serta pembangunan kawasan penampungan air sebagai bagian dari strategi mitigasi banjir berulang. “Harapannya ada tempat penampungan air, sehingga aliran hujan tidak langsung masuk ke sungai dan mengurangi beban saat debit tinggi,” ujar Bergas. Rencana tersebut meliputi pembangunan bendungan kecil, perluasan daerah resapan, serta revitalisasi tata ruang agar kawasan rawan banjir dapat dikelola lebih baik.
Seluruh personel dan sumber daya BPBD tetap disiagakan mengingat potensi banjir susulan yang masih terbuka. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti instruksi evakuasi, dan tidak kembali ke rumah sebelum otoritas menyatakan kondisi aman. Kerjasama antara pemerintah, lembaga keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana ini.
Dengan koordinasi yang cepat, distribusi bantuan yang tepat sasaran, serta upaya penanggulangan teknis, BPBD Jateng berupaya meminimalkan kerugian dan mempercepat pemulihan wilayah Solo Raya. Keberhasilan penanganan banjir ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadapi ancaman bencana alam yang semakin kompleks.











