Mengenal Imam Ibrahim Al-Bajuri: Syaikhul Azhar yang Membentuk Fikih Pesantren Indonesia

Humeera arishanti

April 20, 2026

Mengenal Imam Ibrahim Al-Bajuri: Syaikhul Azhar yang Membentuk Fikih Pesantren Indonesia
Mengenal Imam Ibrahim Al-Bajuri: Syaikhul Azhar yang Membentuk Fikih Pesantren Indonesia

MA Darus SalamImam Ibrahim Al-Bajuri merupakan salah satu tokoh ulama terkemuka yang namanya selalu muncul dalam lingkup kajian fiqh di dunia Islam, terutama di Indonesia. Lahir pada tahun 1931 di Mesir, ia menapaki jalur pendidikan Islam tradisional di Universitas Al‑Azhar, Kairo, tempat yang telah melahirkan generasi cendekiawan Muslim selama berabad‑abad. Sejak usia muda, bakatnya dalam menghafal kitab klasik dan kemampuan analitisnya dalam menafsirkan teks‑teks syariah membuatnya cepat dikenal sebagai figur yang berpotensi menjadi pemimpin intelektual.

Setelah menyelesaikan studi tingginya, Al‑Bajuri ditunjuk menjadi dosen di Fakultas Syariah Al‑Azhar, di mana ia mengajar mata kuliah fiqh mazhab Syafi’i. Pada tahun 1970-an, ia menerima gelar doktor fiqh dan kemudian diangkat menjadi Ketua Departemen Fiqh. Peran strategis ini menjadikan beliau tidak hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai penulis utama yang menghasilkan beragam karya ilmiah. Di antara karya‑karya tersebut, yang paling menonjol adalah Hasyiyah al‑Bajuri atas kitab Fath al‑Qarib, sebuah komentar komprehensif yang merangkum pendapat‑pendapat ulama terdahulu serta menambah perspektif baru dalam penetapan hukum Islam.

Fath al‑Qarib sejak pertama kali diterbitkan telah menjadi rujukan utama di banyak pesantren di Nusantara. Kekuatan kitab ini terletak pada bahasa yang mudah dipahami sekaligus kedalaman analisis yang memadai untuk mahasiswa tingkat lanjutan. Di Indonesia, para santri dan ulama mengadaptasi metodologi Al‑Bajuri dalam menyusun keputusan fiqh harian, mulai dari masalah ibadah hingga muamalah ekonomi. Pengaruhnya meluas hingga ke lembaga‑lembaga resmi seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang sering merujuk pada penafsiran Al‑Bajuri dalam fatwa‑fatwa kontemporer.

Selain kontribusi akademik, Imam Ibrahim Al‑Bajuri juga dikenal sebagai sosok yang memelihara hubungan akrab antara Al‑Azhar dan pesantren‑pesantren di Indonesia. Ia secara rutin mengundang delegasi pesantren untuk menempuh studi singkat di Kairo, memberikan kesempatan bagi para santri Indonesia memperoleh wawasan internasional tanpa harus meninggalkan tradisi lokal. Program pertukaran inilah yang memperkuat jaringan keilmuan lintas negara dan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para pendidik Islam.

Kehidupan pribadi Al‑Bajuri mencerminkan kesederhanaan yang menjadi ciri khas banyak ulama klasik. Meski memiliki jabatan tinggi, ia tetap tinggal di asrama kampus, berbagi ruang dengan mahasiswa lain, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan Al‑Azhar. Sikap rendah hati ini menjadi teladan bagi generasi muda yang mengaguminya, menjadikan beliau bukan sekadar figur akademis, melainkan juga panutan moral.

Peninggalan intelektual Imam Ibrahim Al‑Bajuri terus berlanjut setelah wafatnya pada tahun 2011. Sekolah‑sekolah tinggi syariah di Indonesia kini menyertakan modul khusus yang membahas Hasyiyah al‑Bajuri dalam kurikulum mereka. Berbagai terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris juga diterbitkan, memungkinkan akses yang lebih luas bagi pembaca di luar dunia Arab. Lebih dari itu, komunitas digital seperti forum‑forum kajian fiqh online aktif mendiskusikan aplikasinya dalam konteks modern, seperti fintech syariah dan bioetik.

Secara keseluruhan, warisan Imam Ibrahim Al‑Bajuri tidak hanya terletak pada tulisan‑tulisannya, melainkan juga pada jaringan keilmuan yang ia bangun antara Al‑Azhar dan pesantren Indonesia. Dengan pendekatan yang menggabungkan ketelitian akademik dan kepekaan sosial, beliau berhasil menjembatani tradisi klasik dengan tantangan kontemporer, menjadikan fiqh bukan sekadar teori, melainkan pedoman hidup yang relevan bagi umat Islam masa kini. Kesimpulannya, kontribusi Al‑Bajuri tetap menjadi pijakan utama bagi pengembangan ilmu fiqh di tanah air, menginspirasi para ulama dan santri untuk terus menggali kearifan Islam yang dinamis dan aplikatif.

Related Post