Pelatihan Pembina Santri Tebuireng: Dr. Zuyyina Choirunnisa Soroti Kunci Problem Solving untuk Kader Masa Depan

Itlak Assala

April 18, 2026

Pelatihan Pembina Santri Tebuireng: Dr. Zuyyina Choirunnisa Soroti Kunci Problem Solving untuk Kader Masa Depan
Pelatihan Pembina Santri Tebuireng: Dr. Zuyyina Choirunnisa Soroti Kunci Problem Solving untuk Kader Masa Depan

MA Darus Salam – 18 April 2026 | Sabtu, 4 April 2026, Pesantren Tebuireng kembali menjadi panggung pembelajaran intensif bagi para calon pembina santri. Kegiatan Diklat Calon Kader Pembina Santri yang digelar secara khusus pada hari itu dihadiri oleh puluhan peserta dengan antusiasme tinggi. Acara utama dipandu oleh Dr. Zuyyina Choirunnisa, S.M., M.S.M., yang sekaligus menjabat sebagai Manajer Executive Learning Hub Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga dan dzuriyah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Dalam sesi pembekalan, Dr. Zuyyina menekankan pentingnya kemampuan pemecahan masalah (problem solving) sebagai kompetensi inti bagi para kader pesantren. Menurutnya, dunia pendidikan Islam kini tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berubah. Oleh karena itu, pembina santri dituntut mampu mengidentifikasi tantangan, merumuskan solusi yang inovatif, serta mengimplementasikannya secara efektif di lingkungan pesantren.

“Problem solving bukan sekadar teori, melainkan sikap mental yang harus dijalankan dalam setiap aktivitas mengajar, membimbing, bahkan mengelola keuangan pesantren,” ujar Dr. Zuyyina di tengah sorotan peserta yang mencatat dengan seksama. Ia menambahkan bahwa pendekatan problem solving harus berlandaskan nilai-nilai Islam, sehingga setiap solusi tidak hanya pragmatis tetapi juga selaras dengan prinsip syariah.

Selama tiga jam sesi, para peserta diajak melalui serangkaian studi kasus yang diambil dari situasi nyata di pesantren. Contoh kasus meliputi pengelolaan asrama yang mengalami kepadatan, penurunan minat belajar santri, serta konflik antar kelompok usia. Dr. Zuyyina membimbing peserta untuk mengidentifikasi akar permasalahan, menyusun hipotesis, dan menguji alternatif solusi dengan metode analisis SWOT serta teknik brainstorming.

Metode pembelajaran yang dipilih bersifat interaktif. Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi mereka, kemudian mendapatkan umpan balik konstruktif dari narasumber dan rekan sejawat. “Keterbukaan dalam bertukar pikiran merupakan faktor kunci untuk menghasilkan solusi yang komprehensif,” katanya, menekankan pentingnya budaya kolaboratif di lingkungan pesantren.

Selain itu, Dr. Zuyyina menyoroti peran teknologi digital dalam mempercepat proses problem solving. Ia memperkenalkan beberapa aplikasi manajemen proyek dan platform pembelajaran daring yang dapat membantu pembina santri merancang program-program inovatif, memantau kemajuan santri, serta mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Para peserta, yang sebagian besar berasal dari wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, mengungkapkan rasa puas dan motivasi yang meningkat setelah mengikuti pelatihan. Salah satu peserta, Ahmad Fauzi, menyampaikan, “Saya dulu sering merasa kebingungan ketika menghadapi masalah di asrama, namun setelah belajar teknik problem solving, saya jadi lebih percaya diri untuk mencari solusi yang tepat.”

Pelatihan ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak pengelola Pesantren Tebuireng, yang menegaskan komitmen mereka dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan pesantren melalui pendidikan berkelanjutan. Kepala Pesantren, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, menambahkan, “Investasi pada kapasitas pembina santri adalah investasi pada masa depan generasi Muslim yang kuat, mandiri, dan berdaya saing tinggi.”

Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang dapat langsung diimplementasikan di lingkungan masing-masing pesantren. Dr. Zuyyina menutup sesi dengan mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menerapkan metode problem solving, serta mengajak semua peserta untuk terus belajar dan berinovasi demi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia.

Dengan semangat yang tinggi dan landasan nilai-nilai keislaman, para calon pembina santri diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mampu mengatasi tantangan zaman, sekaligus menjaga keutuhan tradisi keilmuan pesantren.

Related Post