Pemprov Jateng Tingkatkan Pariwisata Alam lewat Pelatihan Pemandu Wisata Gunung Profesional 2026

Itlak Assala

April 20, 2026

Pemprov Jateng Tingkatkan Pariwisata Alam lewat Pelatihan Pemandu Wisata Gunung Profesional 2026
Pemprov Jateng Tingkatkan Pariwisata Alam lewat Pelatihan Pemandu Wisata Gunung Profesional 2026

MA Darus Salam – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) kembali menggencarkan program yang bertujuan membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan kualitas layanan sektor pariwisata alam. Pada tanggal 17‑18 April 2026, provinsi ini menyelenggarakan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung (PWG) 2026 di jalur pendakian Perantunan, Gunung Ungaran, Semarang. Program ini menargetkan pembentukan pemandu wisata gunung yang terstandarisasi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Sejumlah 16 peserta terpilih setelah proses seleksi ketat dari 250 pelamar. Mereka menjalani fase teori di Balai Latihan Kerja (BLK) Jasa Pariwisata milik Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, lalu melanjutkan praktik lapangan selama dua hari penuh. Total durasi pelatihan mencapai 100 jam dengan sistem asrama, mencakup materi teoritis, simulasi lapangan, serta evaluasi kompetensi.

Staf BLK Jasa dan Pariwisata, Hamid Adityawarman, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan respons atas meningkatnya permintaan wisatawan yang ingin mendaki gunung di Jawa Tengah. “Prinsipnya, kegiatan ini bertujuan melatih calon pemandu wisata gunung agar memiliki kompetensi sesuai SKKNI,” tegas Hamid.

Pelatihan ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Kedua pejabat tersebut menekankan sinergi antara program ini dengan agenda provinsi yang menyiapkan tahun 2027 sebagai tahun pariwisata dan ekonomi syariah, setelah 2025 menjadi tahun infrastruktur dan 2026 tahun swasembada pangan.

Kerjasama dengan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) serta Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi BNSP memastikan standar nasional terpenuhi. Lazuardi, Ketua APGI Jawa Tengah, menyoroti tingginya minat pendakian gunung di provinsi ini. Dari 15 kawasan wisata gunung, tercatat sekitar 900 ribu pendaki setiap tahun. “Kebutuhan pemandu profesional masih besar. Saat ini jumlah pemandu sekitar 160 orang, belum sebanding dengan meningkatnya minat pendakian,” ujar Lazuardi.

Materi pelatihan meliputi berbagai kompetensi teknis, antara lain:

  • Pelayanan tamu dan manajemen grup pendaki
  • Pendirian dan pengelolaan kemah
  • Teknik navigasi menggunakan peta dan GPS
  • Pengetahuan keanekaragaman hayati serta budaya lokal
  • Kode etik dan keselamatan kerja di lingkungan gunung

Selain aspek teknis, peserta juga diberikan pelatihan mengenai manajemen risiko, pertolongan pertama, serta cara berkomunikasi efektif dengan pendaki yang berasal dari berbagai latar belakang. Hal ini penting mengingat sebagian besar pengguna jasa pemandu berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, yang mengharapkan standar layanan profesional.

Dari sisi ekonomi, pemandu wisata gunung di Jawa Tengah dapat menghasilkan antara Rp350 ribu hingga Rp650 ribu per hari, tergantung pada jumlah grup, tingkat kesulitan jalur, dan lamanya pendakian. Pendapatan ini menjadi alternatif menarik bagi warga yang sebelumnya bekerja sebagai porter atau pekerja harian di sektor pariwisata.

Para peserta mengekspresikan antusiasme tinggi. Endang Pratiwi, salah satu peserta, mengungkapkan keinginannya untuk beralih dari pekerjaan porter menjadi pemandu profesional. “Dunia alam bukan hanya hobi, tetapi juga sumber penghasilan. Saya berharap bisa meningkatkan kapasitas menjadi pemandu, bukan lagi porter,” ujarnya. Sementara itu, Mufni asal Belik, Pemalang, yang telah berpengalaman sebagai pegiat wisata alam, berharap keterampilan baru dapat ia aplikasikan untuk melayani pendaki sekaligus berbagi ilmu.

Dengan meluluskan peserta PWG 2026, Pemprov Jateng berharap dapat mengisi kekosongan jumlah pemandu profesional, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata alam secara berkelanjutan. Program ini diharapkan menjadi model bagi provinsi lain dalam memadukan peningkatan kualitas tenaga kerja dengan pengembangan destinasi wisata berbasis alam.

Keberhasilan pelatihan ini tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, asosiasi profesi, dan lembaga sertifikasi. Jika diteruskan secara konsisten, jumlah pemandu wisata gunung yang terlatih akan semakin bertambah, memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, serta pengalaman wisata yang lebih aman dan berkesan bagi para pendaki.

Related Post