MA Darus Salam – 18 April 2026 | Surabaya, 17 April 2026 – Pada hari Jumat, 17 April 2026, Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) menggelar acara santunan kepada anak yatim sebagai bagian resmi pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Ikapete serta Festival Pesantren Tebuireng 2026. Kegiatan ini menjadi sorotan utama dalam rangkaian festival yang bertujuan mempererat tali persaudaraan, meningkatkan kesejahteraan sosial, serta meneguhkan peran pesantren sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kemanusiaan.
Acara dimulai dengan upacara pemotongan pita secara simbolis yang dipimpin oleh Ny. Lelly Lailiyah Hakim, selaku ketua LSPT. Bersama jajaran Nyai lainnya, beliau memotong pita berwarna merah yang menandai dimulainya serangkaian program sosial dan budaya pada Munas Ikapete. Pemotongan pita tersebut tidak hanya menandai dimulainya festival, melainkan juga mengisyaratkan komitmen lembaga dalam menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, khususnya anak-anak yatim yang menjadi fokus utama hari itu.
Sejumlah tokoh penting dari kalangan pemerintahan, tokoh agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan hadir dalam acara tersebut. Kehadiran mereka memberikan legitimasi serta dukungan moral bagi LSPT dalam melaksanakan program santunan. Di antara mereka, terdapat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, Direktur Dinas Sosial Kabupaten, serta beberapa ulama senior yang dikenal aktif dalam gerakan sosial keagamaan.
Ratusan anak yatim, yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, menerima paket santunan yang berisi kebutuhan pokok, perlengkapan sekolah, serta buku-buku pelajaran. Setiap paket dirancang untuk mendukung kelangsungan pendidikan serta kesejahteraan harian para penerima. Selain itu, LSPT juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menuntut ilmu dan berbakti kepada orang tua, meskipun dalam kondisi kehilangan orang tua biologis.
Selain santunan, acara pembukaan Munas Ikapete juga menampilkan rangkaian seni budaya tradisional yang melibatkan santri, mahasiswa, dan warga sekitar. Tarian tradisional, bacaan puisi Islami, serta pertunjukan gamelan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan. Penampilan seni tersebut tidak hanya menambah semarak suasana, tetapi juga menegaskan nilai-nilai kebudayaan yang dijunjung tinggi oleh pesantren Tebuireng.
Selama berlangsungnya festival, LSPT menegaskan komitmen jangka panjangnya dalam meningkatkan kualitas hidup anak yatim. Salah satu program unggulan yang diumumkan adalah pendirian sebuah pusat belajar khusus yang akan dibuka pada akhir tahun 2026. Pusat belajar tersebut direncanakan akan dilengkapi dengan laboratorium komputer, perpustakaan, serta ruang bimbingan konseling untuk membantu anak-anak mengatasi trauma psikologis akibat kehilangan orang tua.
Tak hanya itu, LSPT juga mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam program donasi rutin. Melalui platform digital yang baru diluncurkan, para donatur dapat memberikan sumbangan secara berkala, baik dalam bentuk uang maupun barang. Sistem transparansi yang terintegrasi memungkinkan donatur memantau penggunaan dana secara real time, sehingga menumbuhkan kepercayaan dan meningkatkan partisipasi publik.
Acara santunan ini sekaligus menjadi momentum penting bagi Munas Ikapete, yang merupakan forum strategis bagi para pemimpin pesantren untuk merumuskan kebijakan bersama. Dalam sidang Munas, dibahas agenda penting seperti peningkatan kualitas pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi santri, serta penguatan peran pesantren dalam mengatasi permasalahan sosial di era digital. Hasil sidang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi jaringan pesantren di seluruh Indonesia.
Penutup acara ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh kyai senior dari Pesantren Tebuireng. Doa tersebut memohon agar segala upaya yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan lancar, serta agar para anak yatim yang menerima santunan dapat tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Dengan keberhasilan santunan ini, LSPT memperkuat posisinya sebagai lembaga sosial yang responsif terhadap kebutuhan komunitas. Diharapkan, inisiatif serupa akan terus berlanjut, tidak hanya pada Festival Pesantren Tebuireng 2026, tetapi juga pada kegiatan tahunan berikutnya, demi menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak yatim di Indonesia.











