Meninggalnya Dadang Okta, Tokoh Terkenal Pangandaran Akibat Gangguan Jantung

Afta Rozan Rozan

April 18, 2026

Meninggalnya Dadang Okta, Tokoh Terkenal Pangandaran Akibat Gangguan Jantung
Meninggalnya Dadang Okta, Tokoh Terkenal Pangandaran Akibat Gangguan Jantung

MA Darus Salam – Duka mendalam melanda warga Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, setelah kepergian sosok yang telah lama menjadi pilar kemasyarakatan, Dadang Okta. Dikenal luas dengan nama aslinya, Dadang Solihat, ia telah menorehkan jejak kuat dalam bidang sosial, kebudayaan, dan pembangunan daerah sejak puluhan tahun lalu. Kematian yang terjadi pada Sabtu, 18 April 2026, menambah kepedihan bagi banyak kalangan yang selama ini mengandalkan kepemimpinan dan dedikasinya.

Sepanjang kariernya, Dadang Okta memegang peran penting sebagai tokoh masyarakat sekaligus aktivis lokal. Ia terlibat dalam sejumlah program pemberdayaan ekonomi, pengembangan infrastruktur desa, serta pelestarian tradisi budaya Pangandaran. Melalui inisiatifnya, banyak desa di wilayah tersebut berhasil meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan, sekaligus mengurangi tingkat kemiskinan secara signifikan. Keterlibatannya yang konsisten menjadikannya figur yang dihormati, tidak hanya oleh warga setempat, tetapi juga oleh pejabat daerah dan organisasi non‑pemerintah.

Pada sore hari tanggal 18 April 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, Dadang Okta dirawat di sebuah klinik di kawasan Kondangjajar setelah mengalami keluhan nyeri dada yang tiba‑tiba. Tim medis mencatat adanya gangguan pada fungsi jantung yang mengharuskan penanganan darurat. Meskipun telah diberikan perawatan intensif, kondisi kesehatan beliau menurun drastis dan pada akhirnya beliau meninggal dunia di tempat. Kejadian ini terjadi secara mendadak, tanpa adanya riwayat penyakit jantung yang berat sebelumnya.

Keluarga terdekat, termasuk istri dan anak‑anaknya, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. “Kami sangat bersyukur atas segala doa dan dukungan yang diberikan selama ini. Kepergian beliau meninggalkan lubang besar di hati kami,” ujar istri almarhum dalam sebuah pernyataan singkat. Sementara itu, Bupati Pangandaran, H. Rudi Hartono, menyampaikan belasungkawa resmi kepada keluarga serta seluruh warga yang berduka. Ia menambahkan, “Kontribusi Pak Dadang Okta tidak akan pernah terlupakan. Pemerintah daerah akan memastikan segala penghormatan terakhir sesuai dengan adat dan tradisi setempat.”

Rangkaian upacara pemakaman dijadwalkan akan dilaksanakan pada hari berikutnya di pemakaman umum Pangandaran, dengan melibatkan prosesi adat dan doa bersama. Ribuan warga diperkirakan akan hadir, menandakan betapa besar pengaruh serta kecintaan masyarakat terhadap sosok yang baru saja berpulang. Selama prosesi, sejumlah tokoh daerah, pemuka agama, serta anggota organisasi sosial memberikan sambutan yang penuh rasa hormat, menyoroti dedikasi almarhum dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Warisan yang ditinggalkan oleh Dadang Okta tidak hanya berupa program-program konkret, melainkan juga semangat kebersamaan dan kepercayaan diri yang menular kepada generasi muda. Banyak pemuda di Pangandaran kini terinspirasi untuk melanjutkan jejaknya melalui berbagai inisiatif komunitas, mulai dari pelatihan keterampilan hingga kampanye lingkungan. Pihak pemerintah daerah berjanji akan melanjutkan sebagian besar proyek yang telah dirintis oleh almarhum, guna memastikan keberlanjutan manfaat bagi masyarakat.

Secara keseluruhan, kepergian Dadang Okta menandai akhir sebuah era kepemimpinan yang sarat dengan kepedulian sosial. Namun, semangat dan nilai-nilai yang ia tanamkan akan terus hidup dalam setiap langkah pembangunan dan kebersamaan warga Pangandaran. Dengan mengenang jasa‑jasanya, masyarakat diharapkan dapat tetap bersatu, melanjutkan visi almarhum, dan menjadikan daerahnya lebih maju serta sejahtera.

Related Post