MA Darus Salam – Suasana tenang di lingkungan Parungsari, Kelurian Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat berubah menjadi mencekam pada Minggu malam, 19 April 2026. Sekitar pukul 21.30 WIB, seorang pria berusia sekitar 45 tahun, yang diidentifikasi dengan inisial PS, tiba-tiba muncul dengan membawa sebilah golok dan mengacungkannya secara mengancam di tengah permukiman RT 15/06.
Warga yang berada di sekitar lokasi langsung melaporkan kejadian kepada pihak keamanan setempat. Menurut saksi mata, PS tampak berperilaku gelisah dan berteriak tanpa alasan yang jelas, membuat warga panik dan berusaha menghindari konfrontasi langsung. Kejadian tersebut memicu kepanikan massal, terutama karena golok yang dibawa pria tersebut berukuran besar dan terlihat siap digunakan.
Setelah menerima laporan, satuan Polres Banjar segera mengerahkan tim respons cepat ke lokasi. Alih-alih mengandalkan taktik kekerasan, aparat memilih pendekatan yang lebih humanis. Tim yang dipimpin oleh Kapolsek Purwaharja, Kombes Andi Saputra, melakukan pendekatan verbal, berusaha menenangkan PS dengan dialog yang tenang dan empatik.
Strategi ini didukung oleh unit psikologi kepolisian yang menyiapkan konselor untuk membantu mengelola emosi PS. Tim tersebut berusaha memahami akar permasalahan yang melatarbelakangi tindakan mengamuk, termasuk kemungkinan stres, masalah keluarga, atau faktor kesehatan mental yang belum terdiagnosa. Selama proses negosiasi, petugas secara perlahan menurunkan ketegangan dengan mengajak PS berbicara tentang kondisi pribadi, sambil menjaga jarak aman.
Usaha tersebut membuahkan hasil. Setelah lebih dari satu jam dialog intensif, PS akhirnya menurunkan goloknya dan menyerah kepada petugas tanpa menimbulkan korban jiwa atau luka. Penanganan yang mengedepankan pendekatan humanis ini mendapat pujian luas dari warga setempat, yang merasa aman dan dihargai atas upaya polisi yang tidak mengedepankan kekerasan.
Polisi setempat menegaskan bahwa metode ini merupakan bagian dari program reformasi kepolisian yang menekankan pentingnya pendekatan berbasis kemanusiaan dalam menangani situasi krisis. Kombes Andi menyampaikan, “Kami berkomitmen untuk melindungi masyarakat tanpa harus meningkatkan eskalasi kekerasan. Penanganan yang bersifat dialog dan empati terbukti lebih efektif dalam banyak kasus, termasuk kasus PS ini.”
Selain menurunkan golok, petugas juga melakukan pemeriksaan kesehatan pada PS. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis yang signifikan. PS kemudian dirujuk ke rumah sakit jiwa setempat untuk evaluasi lebih lanjut dan mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Kasus ini menimbulkan diskusi publik mengenai pentingnya dukungan kesehatan mental di tingkat komunitas. Banyak warga mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kurangnya fasilitas konseling dan layanan psikologis di daerah pedesaan, yang dapat menjadi faktor pemicu perilaku ekstrem seperti yang terlihat pada PS.
Berbagai pihak, termasuk dinas kesehatan Kabupaten Banjar, menyatakan akan memperkuat program pencegahan kesehatan mental dengan menambah tenaga psikologis dan memperluas jaringan layanan konseling gratis. Program tersebut diharapkan dapat membantu mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Di sisi lain, aparat kepolisian menegaskan bahwa tindakan preventif seperti patroli malam dan sosialisasi mengenai bahaya penggunaan senjata tajam akan terus ditingkatkan. Operasi Lodaya, yang merupakan salah satu inisiatif patroli malam, terus digalakkan untuk mengawasi potensi konflik di wilayah-wilayah rawan.
Kasus pria mengamuk membawa golok di Kota Banjar menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan humanis dapat menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan korban. Keberhasilan ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam menangani situasi berbahaya yang melibatkan elemen emosional tinggi.
Dengan menempatkan kesejahteraan psikologis dan dialog sebagai prioritas, polisi Banjar menunjukkan bahwa penegakan hukum dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap manusia. Semoga langkah ini menjadi pijakan kuat bagi upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis di seluruh Indonesia.










