MA Darus Salam – Seorang anak laki-laki kelas dua Sekolah Dasar (SD) yang menjadi korban pembacokan oleh seorang lansia di Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menunjukkan gejala psikologis yang mengkhawatirkan. Sejak insiden yang terjadi pada awal bulan ini, perilaku sang korban berubah drastis; ia cenderung menutup diri, menghindari interaksi dengan teman sebaya, dan menghabiskan banyak waktu sendirian di rumah.
Orang tua korban, Hasan (43), mengaku bahwa kegembiraan dan keceriaan anaknya seakan memudar. “Sebelum kejadian, dia selalu ceria, suka bermain di luar, dan bergaul dengan teman-teman. Sekarang, dia lebih suka menyendiri, menolak ajakan bermain, bahkan kadang menolak makan bersama keluarga,” ungkap Hasan dengan nada suara yang penuh keprihatinan.
Kasus ini menambah panjang daftar tragedi kekerasan yang melibatkan anak-anak di wilayah Jawa Barat. Namun, yang membuatnya unik adalah pelaku yang merupakan seorang lansia, menimbulkan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang memicu tindakan kekerasan pada usia lanjut. Menurut saksi mata, pelaku tidak menunjukkan perilaku agresif sebelumnya, namun pada saat kejadian, ia menyerang anak tersebut dengan pisau dapur hingga menyebabkan luka tusuk pada bagian perut.
Setelah kejadian, tim medis di Rumah Sakit Umum Kabupaten Pangandaran berhasil menghentikan perdarahan dan menyelamatkan nyawa anak itu. Meski secara fisik ia sudah pulih, dampak mental yang ditimbulkan belum terlihat jelas. Ahli psikologi anak, dr. Rini Setiawan, menjelaskan bahwa trauma siswa dapat menimbulkan gangguan kecemasan, depresi, serta perilaku penarikan diri yang berkelanjutan jika tidak ditangani secara profesional. “Anak yang mengalami kejadian kekerasan seperti ini sering kali mengalami flashback, mimpi buruk, dan rasa takut yang tidak beralasan terhadap situasi sehari-hari,” jelas dr. Rini.
Sekolah tempat korban belajar juga mengambil langkah-langkah untuk menanggapi situasi ini. Kepala Sekolah, Ibu Siti Marwiyah, menyatakan bahwa pihak sekolah telah mengadakan konseling kelompok dan sesi psikologis individu bagi para siswa yang merasa terpengaruh. “Kami berusaha menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, serta bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat untuk menyediakan tenaga profesional yang kompeten,” ujar Ibu Siti.
Selain itu, dinas sosial dan kepolisian daerah setempat menggelar pertemuan dengan keluarga korban, tetangga, dan tokoh agama untuk membahas langkah-langkah preventif. Mereka sepakat untuk memperkuat program penyuluhan tentang penanganan stres pada lansia, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengawasan anak di lingkungan publik.
Kasus ini juga menimbulkan reaksi keras dari masyarakat setempat. Beberapa warga mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap keamanan lingkungan, terutama di area yang sering dijadikan tempat bermain anak-anak. “Kami berharap aparat dapat menindak tegas pelaku dan memberikan perlindungan lebih bagi anak-anak kami,” kata seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.
Di sisi lain, aparat kepolisian telah menahan pelaku dan menyidiknya dengan tuduhan pembunuhan berencana. Proses hukum masih berjalan, dan penyelidikan lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap motif di balik tindakan kekerasan tersebut.
Para ahli menekankan pentingnya intervensi dini. Menurut dr. Rini, keluarga, sekolah, dan lembaga kesehatan harus berkolaborasi untuk memberikan dukungan psikologis yang berkesinambungan. “Jika trauma siswa tidak ditangani, konsekuensinya dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan dewasa, memengaruhi prestasi akademik, hubungan sosial, dan kesehatan mental secara umum,” tambahnya.
Dalam upaya memulihkan kondisi mental korban, tim konseling mengadopsi pendekatan terapi bermain, teknik relaksasi, serta pelatihan keterampilan sosial. Harapan mereka adalah agar sang anak dapat kembali menikmati masa kanak-kanak tanpa rasa takut yang terus menghantui.
Kasus ini menjadi panggilan hati bagi semua pihak untuk meningkatkan perhatian terhadap kesehatan mental anak, terutama setelah mengalami peristiwa kekerasan. Dengan kolaborasi yang solid antara keluarga, institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan aparat penegak hukum, diharapkan trauma siswa dapat diatasi dan anak tersebut dapat kembali berinteraksi secara normal dalam lingkungan sosialnya.











