MA Darus Salam – National Security Agency (NSA) Amerika Serikat kini menjadi sorotan setelah melanggar instruksi Presiden Donald Trump yang melarang penggunaan teknologi buatan Anthropic. Meski perintah itu telah disebarkan ke seluruh lembaga pemerintah, NSA tetap mengoperasikan model AI terbaru Anthropic bernama Mythos, menimbulkan pertanyaan serius tentang koordinasi kebijakan dalam kabinet Trump.
Larangan AI Anthropic Trump pertama kali diumumkan pada awal tahun ini setelah Presiden menuduh perusahaan tersebut mempromosikan agenda “woke” dan mengancam nilai‑nilai nasional. Trump menegaskan bahwa semua lembaga federal harus menghentikan kerja sama dengan Anthropic, bahkan Pentagon yang sebelumnya menjadi mitra strategis perusahaan itu. Kritik keras sang mantan presiden menimbulkan spekulasi bahwa AI Anthropic menjadi simbol pertempuran ideologi dalam pemerintahan.
Namun, laporan internal mengungkapkan bahwa NSA menilai kebutuhan operasionalnya lebih mendesak daripada kepatuhan politik. Menurut sumber yang dekat dengan badan intelijen, Mythos menawarkan kecepatan deteksi kerentanan siber yang belum dapat dicapai oleh model lain. Dalam konteks serangan siber yang semakin canggih, NSA mengklaim bahwa menonaktifkan akses ke Mythos dapat melemahkan pertahanan digital negara.
Mythos diklaim sebagai model paling maju yang pernah dikembangkan Anthropic, khususnya untuk tugas‑tugas pengkodean tingkat tinggi dan analisis kerentanan sistem. Kemampuannya tidak hanya membantu programmer, tetapi juga dapat beroperasi secara otonom untuk menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan. Fitur ini menjadikan Mythos alat penting bagi NSA dalam upaya mendeteksi ancaman siber dalam hitungan detik, sesuatu yang dianggap krusial untuk melindungi infrastruktur kritis Amerika Serikat.
Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa kekuatan Mythos bersifat dua sisi. Di satu sisi, model tersebut dapat menjadi benteng pertahanan yang sangat kuat; di sisi lain, jika jatuh ke tangan yang salah atau jika algoritma otonomnya tidak terkendali, ia berpotensi menimbulkan serangan siber masif yang melumpuhkan jaringan global. Kekhawatiran ini menjadi alasan utama mengapa Larangan AI Anthropic Trump digalakkan, meskipun NSA menilai manfaat taktisnya lebih besar daripada risiko politik.
Pentagon sebelumnya telah menempatkan Anthropic dalam daftar risiko rantai pasok, menandakan bahwa perusahaan dianggap memiliki celah keamanan atau afiliasi yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional. Keputusan tersebut mencerminkan sikap keras pemerintahan Trump terhadap teknologi yang dianggap berisiko secara ideologis maupun keamanan. Meski demikian, kebutuhan akan alat pertahanan siber yang handal membuat beberapa lembaga tetap berusaha menemukan cara untuk mengakses Mythos.
Di balik ketegangan ini, muncul tanda‑tanda rekonsiliasi. Pada pekan lalu, CEO Anthropic dilaporkan mengadakan pertemuan dengan perwakilan pemerintah Trump untuk membahas kemungkinan kerja sama yang lebih terkontrol. Diskusi tersebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa jika Amerika Serikat menutup diri terhadap inovasi domestik, negara rival seperti China dapat memanfaatkan celah tersebut untuk melaju lebih cepat dalam perlombaan AI militer.
Jika Larangan AI Anthropic Trump terus dipertahankan tanpa kompromi, risiko kehilangan keunggulan teknologi dapat menggerus posisi Amerika di panggung global. Sebaliknya, pelonggaran kebijakan dapat memicu kritik keras dari kelompok konservatif yang menilai langkah tersebut melanggar prinsip ideologi yang dijunjung oleh Trump. Dinamika ini menempatkan NSA pada posisi yang sulit: harus menyeimbangkan antara kepatuhan politik dan kebutuhan keamanan nasional yang mendesak.
Hingga kini, baik Anthropic, NSA, maupun Pentagon belum memberikan komentar resmi mengenai laporan penggunaan Mythos. Media internasional melaporkan bahwa upaya klarifikasi masih ditanggapi dengan diam, menambah spekulasi bahwa negosiasi sensitif sedang berlangsung di balik pintu tertutup. Publik akan menantikan keputusan akhir Presiden Trump, apakah ia akan melonggarkan larangan atau memperketat pengawasan terhadap lembaga intelijen yang mengandalkan teknologi tersebut.
Kesimpulannya, pertarungan antara kebijakan politik dan imperatif keamanan siber kini mencapai titik kritis. NSA tetap mengandalkan Mythos meski Larangan AI Anthropic Trump secara resmi berlaku, menandakan adanya perpecahan internal yang dapat memengaruhi arah kebijakan teknologi Amerika Serikat di masa depan.

