Iran Beli Satelit China TEE-01B Secara Rahasia, Memperkuat Pengintaian Markas Militer AS di Timur Tengah

Liana Ulrica

April 16, 2026

Iran Beli Satelit China TEE-01B Secara Rahasia, Memperkuat Pengintaian Markas Militer AS di Timur Tengah
Iran Beli Satelit China TEE-01B Secara Rahasia, Memperkuat Pengintaian Markas Militer AS di Timur Tengah

MA Darus Salam – 16 April 2026 | JAKARTA – Pemerintah Iran telah membeli satelit mata‑mata buatan China bernama TEE-01B secara tertutup sejak akhir 2024. Satelit ini dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan difokuskan pada pemantauan instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah serta beberapa wilayah strategis di Asia dan Amerika Latin. Pembelian ini menandakan kedekatan operasional antara Tehran dan Beijing, terutama dalam bidang teknologi pertahanan.

Satellit TEE-01B diproduksi dan diluncurkan oleh perusahaan ruang angkasa China, Earth Eye Co., yang juga menyediakan layanan pengelolaan data melalui stasiun bumi komersial Emposat. Dokumen militer Iran yang bocor, dikutip oleh Financial Times dan kemudian dirujuk oleh beberapa media internasional, menunjukkan bahwa satelit mulai beroperasi pada awal 2025 dan sejak itu telah menghasilkan citra beresolusi tinggi terhadap beberapa pangkalan militer AS.

Data orbit dan gambar yang diambil pada Maret 2026 mengungkap penggunaan satelit untuk mengawasi dua pangkalan penting: Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. Kedua lokasi berada dalam radius operasional pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Berdasarkan analisis intelijen, gambar satelit mencatat pergerakan pesawat tempur AS yang kemudian menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran pada pertengahan Maret.

Selain dua pangkalan di Arab Saudi dan Yordania, TEE-01B juga dilaporkan memantau instalasi berikut:

  • Pangkalan Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain
  • Bandara Erbil, Irak
  • Beberapa fasilitas militer di Qatar yang dekat dengan pangkalan Al‑Udeid
  • Beberapa lokasi strategis di wilayah Karibia dan Amerika Latin yang terkait dengan jaringan logistik AS

Pemantauan intensif tersebut memungkinkan IRGC untuk merencanakan serangan yang terkoordinasi dengan presisi tinggi, sebagaimana terlihat pada serangan terhadap jet‑jet tempur AS yang parkir di pangkalan Prince Sultan dan Muwaffaq Salti. Menurut para analis militer, kemampuan intelijen satelit memberikan Iran keunggulan taktis yang sebelumnya hanya dimiliki negara-negara dengan program luar angkasa canggih.

Kerjasama militer Iran‑China tidak berhenti pada satelit. Laporan intelijen Amerika Serikat yang dipublikasikan pada 10 April 2026 mengungkap bahwa China bersiap mengirim sistem pertahanan udara antirudal MANPADs ke Iran melalui perantara pihak ketiga. Sistem ini dirancang untuk melumpuhkan pesawat tempur AS dan Israel yang beroperasi di wilayah sengketa. Pengiriman yang dirahasiakan ini berpotensi memicu tarif perdagangan sebesar 50 % yang dijanjikan oleh mantan Presiden Donald Trump bagi setiap negara yang memasok senjata ke Tehran.

Reaksi Washington masih bersifat hati‑hati. Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari White House, CIA, atau Pentagon yang mengonfirmasi atau menyangkal laporan tersebut. Sementara itu, pejabat China dan perwakilan Earth Eye Co. belum memberikan komentar terkait akuisisi satelit atau rencana pengiriman sistem pertahanan udara.

Pengamat geopolitik menilai langkah Iran ini meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk dan menambah dimensi baru dalam perlombaan teknologi militer. “Iran kini memiliki mata di angkasa yang dapat memantau pergerakan pasukan AS secara real‑time,” ujar Josh Lipsky, Wakil Presiden Atlantic Council. “Jika China terus mendukung Tehran, Amerika Serikat mungkin terpaksa meninjau kembali kebijakan tarif dan sanksi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi ekonomi global.”

Di sisi lain, analis ekonomi menekankan bahwa tarif 50 % yang dijanjikan Trump dapat menekan ekspor senjata China ke pasar internasional, meski dampaknya masih belum jelas mengingat adanya kemungkinan penggunaan jalur perantara. Dampak geopolitik dan ekonomi ini menambah kompleksitas hubungan tiga kekuatan utama: AS, China, dan Iran.

Keberadaan satelit TEE-01B menegaskan bahwa Iran berusaha menutup kesenjangan teknologinya dengan mengandalkan kemitraan strategis China. Dengan kemampuan pengintaian yang kini terjangkau, Tehran dapat memperluas jangkauan operasionalnya, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap kepentingan militer AS di luar negeri. Pengembangan ini diperkirakan akan memicu respons diplomatik lebih intensif dari Washington, serta memperdalam perdebatan internasional mengenai kontrol ekspor teknologi dual‑use.

Related Post